SEMARANG — Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa Kabupaten Demak, Jawa Tengah, layak dijadikan percontohan nasional dalam penanganan tuberkulosis (TBC) setelah mencatat capaian penemuan kasus sebesar 73 persen. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanggulangan TBC Tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Semarang, sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kementerian Dalam Negeri ke sejumlah daerah.
Wiyagus menyatakan bahwa angka 73 persen tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah kabupaten, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, hingga kader kesehatan di tingkat desa. Menurutnya, keberhasilan Demak tidak terlepas dari penerapan strategi penemuan kasus secara aktif yang menjangkau kelompok berisiko tinggi, termasuk kontak erat pasien dan warga di lingkungan padat huni.
"Kabupaten Demak menunjukkan bahwa percepatan penanggulangan TBC dapat dicapai apabila kepala daerah mengambil keputusan politik dan menerjemahkannya menjadi gerakan bersama di lapangan," ujar Wiyagus di hadapan peserta rapat.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci
Dalam rapat koordinasi tersebut, Wiyagus memaparkan bahwa penanganan TBC memerlukan sinergi antara Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Ia menekankan bahwa Kemendagri memiliki peran strategis melalui instrumen pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah, termasuk mendorong integrasi program penanggulangan TBC ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Menurut data yang disampaikan dalam forum tersebut, penemuan kasus TBC di Demak meningkat signifikan setelah pemerintah daerah menetapkan target penemuan kasus dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan mengalokasikan anggaran pendampingan bagi kader kesehatan. Langkah itu ditindaklanjuti dengan penyediaan obat antituberkulosis yang merata hingga puskesmas terpencil, serta pemantauan kepatuhan minum obat melalui sistem pelaporan digital.
Wiyagus menambahkan bahwa Kemendagri akan mendorong daerah lain untuk meniru model Demak, terutama kabupaten dan kota dengan angka penemuan kasus masih di bawah target nasional. Ia menyebut bahwa percepatan penanggulangan TBC telah menjadi salah satu indikator kinerja kepala daerah yang dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat.
"Kami akan memastikan bahwa komitmen kepala daerah dalam penanggulangan TBC tidak berhenti pada seremonial. Evaluasi kinerja akan mengukur capaian riil di lapangan, termasuk penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan," tegasnya.
Target Eliminasi TBC 2030
Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada 2030 melalui Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Namun, capaian nasional masih menghadapi tantangan berupa rendahnya penemuan kasus, tingginya angka putus pengobatan, serta beban penyakit yang terkonsentrasi di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Dalam konteks tersebut, Wiyagus menilai bahwa pendekatan yang diterapkan Demak dapat menjadi model adaptif bagi daerah lain. Ia menyoroti pentingnya penguatan peran camat dan kepala desa sebagai ujung tombak sosialisasi, serta pemanfaatan dana desa untuk kegiatan pendukung seperti penyuluhan gizi dan perbaikan sanitasi rumah.
Selain itu, rapat koordinasi tersebut juga membahas penguatan sistem surveilans berbasis laboratorium, pemenuhan kebutuhan alat tes cepat molekuler, dan pelibatan sektor swasta melalui tanggung jawab sosial perusahaan. Wiyagus menegaskan bahwa penanggulangan TBC bukan semata tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan agenda pembangunan daerah yang memerlukan kepemimpinan kepala daerah.
Dorongan bagi Daerah Lain
Kementerian Dalam Negeri, menurut Wiyagus, akan menerbitkan surat edaran kepada seluruh gubernur dan bupati/wali kota agar menjadikan penanggulangan TBC sebagai prioritas dalam musyawarah perencanaan pembangunan daerah tahun anggaran berikutnya. Surat edaran itu juga akan meminta pemerintah daerah membentuk tim koordinasi tingkat kabupaten/kota yang diketuai langsung oleh sekretaris daerah.
Wiyagus menutup rapat dengan menekankan bahwa keberhasilan Demak harus direplikasi secara sistematis, bukan sekadar dijadikan bahan presentasi. Ia berharap dalam dua tahun ke depan jumlah kabupaten/kota dengan capaian penemuan kasus di atas 70 persen meningkat secara nasional.
"Pengalaman Demak membuktikan bahwa percepatan penanggulangan TBC sangat mungkin dilakukan asalkan ada kemauan politik, anggaran yang memadai, dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya.
Comments (0)