Ketegangan politik di Manila mencapai titik didih baru ketika Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, secara terbuka menyampaikan tuntutan radikal agar mantan sekutu politiknya, Presiden Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr., segera meletakkan jabatan. Di hadapan ribuan pendukung yang memadati area luar pengadilan Kota Quezon, pimpinan politik perempuan tersebut melancarkan serangan verbal menohok yang menandai berakhirnya secara total aliansi dinasti politik paling berkuasa di negara tetangga Indonesia tersebut.
Seruan pembangkangan ini disampaikan Sara tepat setelah ia menjalani proses dakwaan pembacaan tuduhan (arraignment) di pengadilan atas serangkaian dakwaan hukum yang melilitnya. Dengan nada emosional dan tegas, putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte tersebut menuding Marcos Jr. telah gagal memimpin dan mengkhianati kepercayaan rakyat Filipina yang telah memilih mereka dalam pemilu dua tahun silam.
"Mari kita terus menyerukan agar masalah terbesar bangsa kita segera pergi, dan nama masalah itu adalah Bongbong Marcos. Anda seorang pembohong dan penyalahguna kekuasaan," tegas Sara Duterte di atas panggung orasi yang disambut gemuruh teriakan para pendukungnya.
Runtuhnya Aliansi 'Uniteam' dan Perebutan Pengaruh
Langkah frontal Sara Duterte ini menjadi puncak dari retaknya aliansi "Uniteam" yang dibentuk pada Pemilu 2022. Aliansi taktis antara keluarga Marcos dari utara dan keluarga Duterte dari selatan sebelumnya berhasil menyapu bersih suara pemilih dengan rekor kemenangan mutlak. Kala itu, Marcos Jr. meraih lebih dari 31 juta suara, sementara Sara memenangkan kursi wakil presiden dengan 32 juta suara.
Namun, dalam satu tahun terakhir, keretakan di antara kedua kubu kian tak bertumpuk. Perbedaan mendasar mengenai kebijakan luar negeri, penanganan sengketa Laut China Selatan, hingga investigasi Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap perang melawan narkoba rezim Duterte Senior menjadi pemantik utama perpecahan.
| Isul Keretakan | Kubu Bongbong Marcos Jr. | Kubu Sara Duterte |
|---|---|---|
| Kebijakan Luar Negeri | Mendekat ke Amerika Serikat & menindak klaim Beijing | Cenderung pro-Tiongkok (warisan Rodrigo Duterte) |
| Penyelidikan ICC | Buka peluang kerja sama penegakan hukum | Menolak keras intervensi internasional |
| Anggaran Rahasia | DPR memangkas confidential funds Sara | Menuduh rezim melakukan persekusi politik |
Eskalasi Hukum dan Implikasi Pemakzulan
Pernyataan keras Sara Duterte disampaikan ketika posisi politiknya sendiri berada dalam tekanan berat. DPR Filipina yang dipimpin oleh Ketua DPR Martin Romualdez—sepupu kandung Marcos Jr.—saat ini tengah memproses pengawasan ketat terhadap penggunaan dana rahasia di Kantor Wakil Presiden dan Kementerian Pendidikan saat masih dipimpin Sara. Isu mengenai ancaman pemakzulan (impeachment) terhadap Sara pun berembus kian kencang di parlemen.
Para pengamat politik di Manila menilai bahwa serangan balik Sara adalah upaya bertahan hidup secara politik. Dengan memosisikan dirinya sebagai oposisi utama, Sara berusaha mengonsolidasikan basis massa loyalist Duterte guna menghadapi ancaman proses hukum dan persiapan menghadapi Pemilu Sela 2025 serta Pemilu Presiden 2028.
- Dampak terhadap Pemerintahan: Stabilitas kabinet terganggu akibat polarisasi loyalitas birokrasi dan militer.
- Eskalasi Pendukung: Potensi gelombang demonstrasi jalanan di Manila dan Davao City semakin meningkat.
- Krisis Konstitusi: Perselisihan dua pejabat tertinggi negara berisiko menghentikan pembahasan rancangan undang-undang strategis di parlemen.
Analis politik dari Universitas Filipina menegaskan bahwa perseteruan ini bukan lagi sekadar perebutan pengaruh, melainkan pertarungan hidup-mati antar dinasti. "Filipina kini menyaksikan perang terbuka antara dua keluarga paling berkuasa. Jika salah satu tidak mundur, instabilitas politik dapat melumpuhkan ekonomi nasional dalam jangka panjang," ungkap sang pengamat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana Malacañang belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan pengunduran diri yang dilontarkan Wakil Presiden. Namun, lingkaran dekat Presiden Marcos diprediksi akan merespons langkah ekstrem ini melalui jalur hukum dan konsolidasi kekuatan politik di parlemen.
Comments (0)