Sep 16, 2026
Hukum

Dokter Jorge Tartaglione Peringatkan Bahaya Prediabetes yang Sering Diabaikan

Menjaga keseimbangan kadar gula dalam darah atau glukemia bukan sekadar persoalan memilih menu makan harian, melainkan sebuah benteng pertahanan vital bagi

Dokter Jorge Tartaglione Peringatkan Bahaya Prediabetes yang Sering Diabaikan

Menjaga keseimbangan kadar gula dalam darah atau glukemia bukan sekadar persoalan memilih menu makan harian, melainkan sebuah benteng pertahanan vital bagi kesehatan metabolik jangka panjang. Glukosa, yang berfungsi sebagai bahan bakar utama energi tubuh, memerlukan pemantauan ketat agar berada dalam rentang ideal. Ketika kadar gula darah mulai melonjak di luar batas normal, risiko berkembangnya berbagai penyakit kronis—seperti diabetes tipe 2 dan gangguan kardiovaskular—akan meningkat secara signifikan.

Dalam sebuah sesi di media LN+, pakar kesehatan terkemuka dr. Jorge Tartaglione menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala. Menurutnya, pemahaman mendasar mengenai arti angka-angka pada hasil laboratorium merupakan langkah awal yang krusial untuk mencegah kerusakan organ sejak dini.

"Kadar gula darah puasa yang sehat harus selalu berada di bawah angka 100 mg/dl. Jika hasil tes menunjukkan rentang antara 100 hingga 125 mg/dl, itu artinya ada fungsi metabolik organ tubuh yang sudah mulai bekerja secara tidak optimal," tegas dr. Jorge Tartaglione.

Kondisi ketika kadar gula darah puasa berada pada rentang 100–125 mg/dl dikenal dalam dunia medis sebagai prediabetes. Fase ini merupakan alarm peringatan dini yang sangat krusial namun kerap diabaikan masyarakat. Banyak orang cenderung menyangkal hasil pemeriksaan medis tersebut dengan berbagai alasan impulsif.

"Sering kali orang berkilah, 'Oh, nilai gula darah saya tinggi karena kemarin malam saya makan terlalu banyak.' Padahal, pemikiran penyangkalan seperti itu sangat berbahaya karena membiarkan gangguan metabolik berkembang tanpa penanganan medis yang tepat," tambah Tartaglione.

Mengapa Tes Hemoglobin Glikosilasi (HbA1c) Sangat Krusial?

Untuk memvalidasi indikasi gangguan metabolik dan menghindari ketidakakuratan akibat konsumsi makanan sesaat sebelum tes, dunia medis mengandalkan pemeriksaan lanjutan yang dinamakan tes Hemoglobin Glikosilasi (HbA1c). Pemeriksaan darah ini memberikan gambaran yang jauh lebih akurat dan objektif mengenai kondisi pasien.

Melalui evaluasi HbA1c, tim medis dapat melihat rata-rata konsentrasi gula darah seseorang selama tiga bulan terakhir. Keunggulan utama dari pemeriksaan ini adalah pasien tidak memerlukan pengambilan sampel darah tambahan khusus jika tes darah rutin laboratorium sudah mencakup analisis HbA1c.

Kategori Glukosa Kadar Gula Puasa (mg/dl) Indikasi Kesehatan
Normal Di bawah 100 mg/dl Fungsi metabolik dan sensitivitas insulin berjalan optimal.
Prediabetes 100 – 125 mg/dl Zona peringatan dini; terdapat indikasi resistensi insulin.
Diabetes 126 mg/dl atau lebih Memerlukan intervensi medis intensif dan evaluasi klinis.

Langkah Penting Mengendalikan Kadar Gula Darah

Mengetahui status kadar glukosa sejak dini memberikan kesempatan emas bagi seseorang untuk mengintervensi kondisi kesehatannya. Prediabetes bukanlah vonis permanen, melainkan momentum terbaik untuk melakukan perbaikan gaya hidup sebelum berkembang menjadi diabetes kronis yang irreversible.

Para ahli medis menyarankan beberapa langkah nyata untuk mengembalikan dan menjaga kadar glukosa tetap stabil:

  • Pengaturan Nutrisi Seimbang: Mengurangi konsumsi gula tambahan serta karbohidrat olahan, dan memperbanyak asupan serat dari sayuran dan buah-buahan.
  • Aktivitas Fisik Teratur: Berolahraga secara teratur minimal 150 menit per minggu untuk membantu sel-sel tubuh merespons insulin dengan lebih baik.
  • Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Melakukan tes gula darah dan HbA1c secara berkala, terutama bagi individu yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes.

Dengan kontrol yang disiplin serta pemahaman tepat atas kondisi tubuh, komplikasi berbahaya akibat gula darah tinggi dapat dicegah. "Kesehatan metabolik berada di tangan kita sendiri, dan pencegahan dini selalu jauh lebih efektif daripada pengobatan di kemudian hari," tutup Tartaglione.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User