Jalan Raya CBL Memprihatinkan, 4 Titik Longsor Dibiarkan Berbulan-bulan
Kondisi Jalan Raya Cibitung–CBL (Cibarusah–Lemahabang–Bojongmangu) di Kabupaten Bekasi semakin memprihatinkan. Sedikitnya empat titik longsor yang telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir ma
Kondisi Jalan Raya Cibitung–CBL (Cibarusah–Lemahabang–Bojongmangu) di Kabupaten Bekasi semakin memprihatinkan. Sedikitnya empat titik longsor yang telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir masih dibiarkan tanpa perbaikan berarti. Situasi ini mengancam keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari atau saat hujan deras melanda.
Pantauan Apaberita.com di lapangan, kerusakan paling parah terlihat di sekitar perbukitan sepanjang ruas jalan tersebut. Bahu jalan ambles, aspal retak, dan di beberapa bagian tanah longsor sudah mendekati setengah badan jalan. Rambu peringatan memang terpasang, namun minimnya penerangan membuat pengendara kerap kaget dan nyaris terperosok.
Longsor Berbulan-bulan Tanpa Penanganan
Empat titik longsor itu tersebar di kawasan rawan, mulai dari Kecamatan Cibitung hingga perbatasan Cibarusah. Salah satu titik terparah berada di tikungan tajam dekat aliran sungai yang tebingnya terus tergerus air. Sudah tiga bulan berlalu, tidak ada tanda-tanda alat berat atau perbaikan struktural yang dikerjakan. Pengguna jalan hanya mengandalkan hati-hati dan doa setiap melintas.
Arif, sopir truk pengangkut bahan bangunan yang rutin melintasi jalur ini, mengatakan hampir setiap hari ia melihat pengendara roda dua nyaris celaka. “Banyak yang oleng pas lewat situ, apalagi kalau bawa muatan berat. Saya sendiri sudah kapok, lebih baik putar lewat jalur alternatif walau lebih jauh,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu petang.
Warga Resah, Minta Pemerintah Turun Tangan
Warga setempat juga gelisah. Selain membahayakan pengguna jalan, longsor yang belum tertangani memicu kerusakan lebih luas. Hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir memperparah gerusan di bawah aspal, sehingga dikhawatirkan seluruh badan jalan bisa ambles sewaktu-waktu. Akses ekonomi warga yang mengandalkan jalur ini pun tersendat—truk pengangkut hasil tani dan barang dagangan terpaksa melambat drastis atau menghindari jalur tersebut.
“Kami sudah laporkan berulang kali ke dinas terkait, tapi jawabannya masih menunggu anggaran. Sampai kapan kami harus bertaruh nyawa di jalan sendiri?” keluh Amin, ketua RT setempat.
Apaberita.com mencoba mengonfirmasi ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bekasi, namun belum mendapatkan respons hingga berita ini diturunkan. Yang jelas, harapan tinggal pada kecepatan pemerintah untuk segera memperbaiki empat titik longsor tersebut sebelum korban jiwa berjatuhan.
Jalan Raya CBL seharusnya menjadi urat nadi penghubung kawasan industri Cibitung dengan daerah-daerah di selatan Bekasi. Jika terus diabaikan, bukan hanya pengguna jalan yang dirugikan, tetapi juga aktivitas logistik dan perekonomian ribuan warga sekitar. Perbaikan darurat semestinya sudah bisa dilakukan agar risiko lebih besar bisa ditekan. Publik menanti tindakan nyata, bukan sekadar janji atau rambu peringatan yang kian pudar diterpa cuaca.
Comments (0)