Dulu Kayuh Sepeda Jual Ikan, Kini Risky Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Medan — Setahun lalu, pagi buta bagi Muhammad Risky Pratama (12) bukanlah waktu untuk bersiap ke sekolah, melainkan saat ia harus mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalanan di kawasan Bagan Deli, Med

Jul 07, 2026 - 23:54
0 0
Dulu Kayuh Sepeda Jual Ikan, Kini Risky Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Medan — Setahun lalu, pagi buta bagi Muhammad Risky Pratama (12) bukanlah waktu untuk bersiap ke sekolah, melainkan saat ia harus mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalanan di kawasan Bagan Deli, Medan. Puluhan kilometer ia tempuh setiap hari untuk menjajakan ikan segar tangkapan laut, membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Kini, pemandangan itu tinggal kenangan. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Risky tak sekadar kembali ke bangku pendidikan, ia sedang merajut mimpi yang dulu nyaris putus di tengah kerasnya kehidupan pesisir.

Dari Pedagang Ikan ke Bangku Sekolah

Setiap hari, Risky kecil harus menyeimbangkan waktu antara membantu orang tua dan mencari rezeki. Dengan sepeda yang kadang rantainya lepas di tengah jalan, ia membawa ember berisi ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Dari satu gang ke gang lain, dari satu rumah ke rumah berikutnya, ia menawarkan dagangannya dengan suara lantang khas anak pesisir. Tak jarang ia pulang dengan hasil yang tak seberapa, namun tetap disyukuri.

"Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya)," ujar Risky kepada Apaberita.com saat ditemui di sekolahnya, Selasa (23/6/2026).

"Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya)."

Di usianya yang masih belia, Risky telah belajar bahwa perut harus diisi meski harus mengorbankan haknya untuk belajar. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuatnya harus pandai-pandai membagi waktu. Sebelum matahari terbit ia sudah berada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk mengambil stok, lalu berkeliling hingga siang hari. Sorenya, kelelahan seringkali membuatnya tak sempat membuka buku pelajaran.

Sekolah Rakyat, Harapan Baru

Perubahan besar datang ketika pemerintah daerah setempat menggagas Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera. SRMP 2 Medan menjadi salah satu sekolah yang dibuka untuk memberikan akses pendidikan tanpa membebani biaya. Risky menjadi salah satu siswa yang beruntung terdaftar melalui pendataan warga kurang mampu di kawasan Bagan Deli.

Kini, rutinitas Risky berubah total. Paginya diisi dengan seragam putih-biru, bukan lagi ember ikan. Di sekolah ini, ia tak hanya belajar matematika dan bahasa, tetapi juga mendapatkan asupan gizi melalui program makan siang gratis yang menunjang konsentrasinya. Buku tulis dan alat sekolah disediakan tanpa meminta sepeser pun dari orang tuanya.

"Saya ingin jadi tentara, biar bisa bantu keluarga dan jaga negara," kata Risky dengan mata berbinar. Mimpinya yang dulu hanya sebatas berharap dagangan laku terjual, kini berkembang menjadi cita-cita besar yang ingin ia capai melalui pendidikan.

Menurut pengelola SRMP 2 Medan, kasus seperti Risky bukan satu-satunya. Banyak anak di wilayah pesisir Sumatera Utara yang terpaksa putus sekolah karena tekanan ekonomi. Sekolah Rakyat hadir untuk memutus rantai kemiskinan itu, memberi mereka bekal pengetahuan dan keterampilan agar bisa keluar dari lingkaran sulit yang sama.

Perjalanan Risky dari penjual ikan menjadi siswa penuh harapan adalah bukti bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Dengan langkah kecil dari mengayuh sepeda, kini ia melaju menuju masa depan yang lebih cerah—dan Sekolah Rakyat menjadi jalan yang membawanya ke sana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Editor Ekonomi. Editor isu pasar, bisnis, dan moneter.

Comments (0)

User