Surut Air, Sisa Kampung Tenggelam Muncul di Bendungan Karian
LEBAK — Permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami penyusutan tajam sehingga menyingkap sisa-sisa permukiman warga yang telah tiga tahun terendam. Inilah pertama kalinya je...
LEBAK — Permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami penyusutan tajam sehingga menyingkap sisa-sisa permukiman warga yang telah tiga tahun terendam. Inilah pertama kalinya jejak perkampungan itu terlihat sejak pengisian waduk multiguna tersebut rampung pada Oktober 2023.
Fenomena tersebut bermula dari penurunan elevasi muka air waduk secara bertahap sepanjang Juli 2026. Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) mencatat tinggi muka air menyentuh level 68,3 meter di atas permukaan laut pada 23 Juli 2026, atau turun 14,7 meter dari ambang normal 83 meter. Di titik surut itulah fondasi rumah, jalan setapak, sumur, dan batang pepohonan besar yang dulu menaungi pekarangan penduduk mulai mencuat dari dasar waduk.
Penampakan Perdana Pasca-Penggenangan
Lokasi yang tersingkap berada di area genangan sisi hulu, tepatnya di sekitar koordinat eks Desa Sukamaju, Kecamatan Cipanas. Warga yang melintas di jalur akses menuju bendungan melaporkan melihat struktur beton berundak—diduga bekas masjid desa—serta kerangka jalan berbatu yang membentang sejauh dua ratusan meter. Beberapa batang kelapa kering masih berdiri tegak, sementara bekas galian sumur tampak seperti cekungan bundar di antara lumpur yang mengering.
“Saya tidak menyangka bisa melihat kembali bekas rumah kami. Ini seperti kembali ke masa lalu, meskipun hanya sisa-sisa fondasinya yang tersisa,”
ujar Rohmat, 52 tahun, salah satu warga eks Desa Sukamaju yang kini menetap di Desa Cikadu, Kecamatan Cikulur, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (24/7/2026).
Surut Akibat Anomali Musim Kemarau
Kepala BBWS C3, Ir. Heru Prasetyo, M.Sc., menjelaskan bahwa surutnya air waduk merupakan dampak langsung dari minimnya curah hujan di Daerah Aliran Sungai Ciujung selama tiga bulan terakhir. Data dari Stasiun Klimatologi Banten mencatat curah hujan bulanan di bawah 30 milimeter sejak Mei 2026, jauh di bawah rerata normal 120–150 milimeter. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino lemah yang menunda datangnya musim hujan di wilayah barat Pulau Jawa.
“Ini adalah siklus hidrologi yang wajar, tetapi penurunannya memang cukup dalam karena kemarau tahun ini lebih kering dari prediksi awal. Kami terus memantau debit inflow yang kini hanya sekitar 2,7 meter kubik per detik, sementara outflow untuk irigasi dan air baku tetap dijaga di angka 4,5 meter kubik per detik,”
terang Heru Prasetyo dalam keterangan tertulis di Lebak.
Imbauan dan Pengamanan Lokasi
Seiring merebaknya kabar tentang kemunculan kembali kampung tenggelam itu, sejumlah warga dari desa-desa sekitar mendatangi lokasi untuk menyaksikan langsung. Pihak BBWS C3 bersama unsur TNI dan Polri dari Koramil 0301/Cipanas serta Polsek Cipanas telah memasang garis pembatas di radius 100 meter dari tepi air surut. Heru Prasetyo menegaskan bahwa area genangan waduk masih berstatus rawan, mengingat endapan lumpur di sekitar bekas permukiman bersifat labil dan berpotensi menjebak siapa pun yang nekat melintas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat ke dasar waduk yang baru tersingkap. Material di sana masih jenuh air dan bisa menjadi area hisap yang berbahaya. Selain itu, elevasi air bisa naik sewaktu-waktu jika ada hujan di hulu,”
tambahnya.
Kenangan Warga yang Direlokasi
Bagi eks penghuni Desa Sukamaju, pemandangan ini membangkitkan ingatan kolektif tentang rumah dan ladang yang mereka tinggalkan. Sebanyak 274 kepala keluarga direlokasi ke tiga desa penampung di Kecamatan Cikulur dan Maja sebelum penggenangan dimulai pada September 2023. Program ganti untung dan pembangunan rumah baru rampung pada Maret 2024. Meskipun demikian, perasaan terikat dengan tanah leluhur tidak sepenuhnya hilang.
Seorang tokoh masyarakat eks Desa Sukamaju, Kamiludin, menyatakan bahwa kemunculan sisa-sisa kampung itu membawa haru bagi para perantau yang tidak sempat kembali saat penggenangan. “Banyak yang bertanya di grup WhatsApp warga relokasi: ‘Apakah pohon mangga depan rumah Bapak masih berdiri?’ Ini semacam napak tilas meskipun hanya dari jauh,” ujarnya.
BBWS C3 memproyeksikan bahwa pada puncak musim hujan yang diperkirakan baru tiba pada November 2026, elevasi waduk akan kembali normal. Dengan begitu, kesempatan untuk menyaksikan langsung jejak kampung di dasar Bendungan Karian hanya terbuka dalam jendela musim kemarau kali ini. Sementara itu, Satuan Tugas Operasi Waduk tetap memberlakukan pemantauan 24 jam untuk mencegah aktivitas yang dapat mengganggu keamanan infrastruktur bendungan yang menjadi salah satu proyek strategis nasional tersebut.
Comments (0)