Sep 25, 2026
Politik

Pupuk NPK Alami dari Dapur Dapat Diolah Sendiri

Bogor, Jawa Barat — Kelompok tani binaan di Kabupaten Bogor mulai memproduksi pupuk majemuk nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) secara mandiri dari sisa bahan dapur melalui proses pengomposan sejak M...

Pupuk NPK Alami dari Dapur Dapat Diolah Sendiri

Bogor, Jawa Barat — Kelompok tani binaan di Kabupaten Bogor mulai memproduksi pupuk majemuk nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) secara mandiri dari sisa bahan dapur melalui proses pengomposan sejak Maret 2026. Pengolahan yang dilakukan di lahan seluas 400 meter persegi di Kecamatan Ciampea itu memanfaatkan kulit buah, daun kering, abu dapur, dan residu tulang yang selama ini dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. Produksi pupuk padat tersebut mencapai rata-rata satu ton per bulan dan telah digunakan oleh sekitar 60 rumah tangga serta lima kelompok tani di sekitar wilayah tersebut.

Pengomposan dipilih karena ketersediaan bahan baku yang berlimpah dan tidak memerlukan peralatan industri. Seluruh tahapan dapat dilakukan dengan wadah terbuka, cangkul, dan termometer kompos sederhana. Biaya produksi per kilogram pupuk tercatat berkisar Rp1.200, jauh di bawah harga pupuk majemuk komersial yang beredar di pasaran.

Sisa Dapur sebagai Sumber Huruf Hara

Dalam praktiknya, setiap bahan dapur menyumbang unsur hara yang berbeda. Kulit buah seperti pisang, jeruk, dan semangka mengandung nitrogen yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan daun. Sementara itu, abu dapur dan abu sekam bakar menjadi sumber kalium, sedangkan residu tulang, cangkang telur, dan sisa ikan yang dihaluskan menyumbang fosfor. Bahan organik padat seperti sekam padi dan daun kering berfungsi sebagai sumber karbon untuk menjaga rasio karbon terhadap nitrogen tetap ideal.

Rasio karbon terhadap nitrogen (C/N) ideal dalam pengomposan adalah 25:1 hingga 30:1. Rasio tersebut memastikan mikroorganisme bekerja efektif sehingga bahan busuk tidak menghasilkan bau menyengat. Kadar air adonan dijaga pada kisaran 50 hingga 60 persen, setara dengan kondisi peras kain basah yang tidak menetes. Bahan yang terlalu kering memperlambat dekomposisi, sedangkan yang terlalu basah menimbulkan aroma tidak sedap akibat proses fermentasi anaerob.

Tahapan Pengomposan hingga Panen

Pertama, seluruh sisa dapur dipisahkan dari plastik dan bahan sintetis, kemudian dicacah agar ukurannya seragam dan mudah diurai. Kedua, bahan kering dan basah ditumpuk berlapis dalam rasio seimbang, ditambahkan larutan aktivator mikroorganisme untuk mempercepat proses. Ketiga, tumpukan dibolak-balik setiap tiga sampai lima hari guna memasukkan oksigen dan meratakan tingkat kematangan.

Suhu tumpukan kompos dipantau pada kisaran 55 hingga 65 derajat Celsius. Suhu tersebut menandakan aktivitas mikroorganisme berjalan optimal sekaligus membunuh bibit penyakit dan benih gulma. Pada suhu di atas 70 derajat Celsius, tumpukan segera dibolak-balik agar tidak merusak populasi mikroba pengurai. Masa pengomposan penuh berlangsung 21 hingga 30 hari, ditandai warna cokelat gelap, tekstur remah, dan aroma tanah yang khas.

"Yang paling sering gagal adalah ketidaksabaran. Bahan yang belum matang langsung dipakai justru mengikat nitrogen di dalam tanah dan membuat tanaman kekurangan makanan," ujar Suranto, koordinator kelompok tani pengelola pengomposan di Ciampea.

Pakar Minta Uji Kadar Hara Sebelum Digunakan

Para peneliti mengingatkan bahwa pupuk hasil pengomposan rumahan memiliki kandungan hara yang bervariasi sehingga perlu diuji sebelum digunakan dalam skala luas. Kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium sangat bergantung pada komposisi bahan baku dan keberhasilan proses fermentasi. Penggunaan tanpa pengujian berisiko menyebabkan kelebihan atau kekurangan unsur tertentu yang berdampak pada hasil panen.

"Pupuk organik padat dari dapur layak menjadi alternatif, namun kadar haranya harus diukur di laboratorium. Data yang akurat menjadi dasar penentuan dosis yang benar," tegas Dr. Ratna Kusumaningtyas, ahli kesuburan tanah dari perguruan tinggi di Bogor.

Uji laboratorium terhadap tiga sampel pupuk dari kelompok tani tersebut mencatat kandungan nitrogen 2,8 persen, fosfor 1,6 persen, dan kalium 2,1 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pupuk majemuk kimia komersial, sehingga dosis aplikasinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

Menindaklanjuti Pengurangan Ketergantungan Pupuk Kimia

Upaya ini sejalan dengan arahan pemerintah daerah yang mendorong pengurangan ketergantungan petani terhadap pupuk subsidi. Dinas Pertanian Kabupaten Bogor mencatat luas lahan pertanian yang mengadopsi pengelolaan organik meningkat pada tahun berjalan. Kelompok tani di Ciampea menargetkan penambahan dua unit pengomposan skala desa pada 2027 dengan kapasitas produksi tiga ton per bulan.

Selain menghemat belanja pupuk, pengomposan sisa dapur menekan volume sampah organik yang dikirim ke TPA. Berdasarkan catatan kelompok, sekitar 12 ton sisa dapur berhasil dialihkan dari pembuangan sepanjang enam bulan pertama operasional. Program tersebut kini menjadi bahan presentasi pada Rapat Koordinasi tingkat kecamatan sebagai contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User