Sep 25, 2026
Politik

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli untuk Korban Hilang 1996

Jakarta — Tepat pada peringatan 30 tahun peristiwa 27 Juli 1996, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Perjuangan Kudatuli di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (27/7...

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli untuk Korban Hilang 1996

Jakarta — Tepat pada peringatan 30 tahun peristiwa 27 Juli 1996, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Perjuangan Kudatuli di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (27/7/2026). Monumen ini didirikan untuk mengenang para aktivis prodemokrasi yang hilang dalam tragedi penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro. Peresmian dihadiri jajaran pengurus pusat partai, keluarga korban, dan para tokoh reformasi.

Dalam sambutannya, Megawati menyatakan bahwa monumen tersebut bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pengingat abadi akan pengorbanan dan penderitaan yang dialami korban serta keluarganya. "Kita tidak boleh melupakan sejarah, apalagi sejarah yang penuh luka. Monumen ini adalah suara kami yang menuntut keadilan untuk mereka yang hilang," tegas Megawati. Presiden ke-5 RI itu tampak bergetar saat menyebut nama-nama korban yang hingga kini belum ditemukan. Usai peresmian, Megawati menyempatkan diri memeluk satu per satu anggota keluarga korban yang hadir.

Simbol Harapan bagi Korban dan Keluarga

Monumen setinggi tiga meter itu terbuat dari perunggu dan batu granit hitam, diukir dengan 13 nama aktivis yang dinyatakan hilang oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Di puncaknya terdapat ornamen tangan mengepal melambangkan perlawanan terhadap ketidakadilan. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa proses pengumpulan dana pembangunan monumen dilakukan secara mandiri oleh kader dan simpatisan partai sebagai bentuk solidaritas. "Di tengah kepedihan yang tak terperi, Ibu Megawati selalu hadir merangkul mereka yang tertindas. Monumen ini adalah jawaban atas doa panjang keluarga korban," ujarnya.

Korban tragedi Kudatuli yang dikenal dengan sebutan "orang hilang" itu meliputi aktivis Partai Rakyat Demokratik, mahasiswa, dan buruh yang diculik oleh aparat keamanan Orde Baru. Hingga kini, pemerintah belum memberikan kejelasan hukum maupun pemulangan jasad para korban. Berdasarkan laporan Komnas HAM yang dirilis pada 2007, terdapat 13 orang yang dinyatakan hilang secara paksa dalam peristiwa tersebut.

Megawati Desak Pemerintah Ungkap Tabir Hitam

Megawati mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera mengungkap tabir gelap tragedi kemanusiaan itu. "Ini utang negara kepada rakyat. Selama kebenaran belum terungkap, kami akan terus menyuarakannya," katanya dengan nada meninggi. Ia juga meminta agar DPR segera mengesahkan Undang-Undang tentang Penghilangan Paksa sebagai payung hukum penyelesaian kasus serupa di masa lalu. Kehadiran sejumlah anggota Fraksi PDI Perjuangan di Kompleks Parlemen disebut akan segera menindaklanjuti inisiatif tersebut dalam Rapat Koordinasi antar fraksi.

Monumen Kudatuli berdiri di atas lahan seluas 50 meter persegi yang dibeli langsung oleh keluarga besar PDI Perjuangan. Di bagian dasar prasasti tertera kutipan pidato Megawati pada 1996, "Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata." Tempat ini direncanakan menjadi ruang publik sekaligus pusat edukasi sejarah bagi generasi muda.

Keluarga Korban: Kami Hanya Ingin Tabur Bunga di Pusara

Salah satu perwakilan keluarga korban, Siti Aminah (72 tahun), ibu dari aktivis yang hilang, mengaku terharu dengan pembangunan monumen. "Setiap tahun kami hanya bisa berdoa tanpa tahu di mana anak kami dimakamkan. Dengan adanya monumen ini, rasanya ada tempat untuk melepas rindu," ucapnya terbata-bata. Ia berharap monumen itu mendorong siapa pun yang masih menyimpan informasi untuk angkat bicara. Hasto menambahkan, "Dalam ketertundukan mereka yang kehilangan, Ibu Megawati memberikan pelukan yang menegarkan. Ini adalah bentuk nyata keberpihakan pemimpin kepada rakyat yang kecil."

Peresmian monumen diakhiri dengan tabur bunga dan doa lintas agama yang dipimpin oleh para pemuka agama. Seluruh yang hadir kemudian berdiri hening selama 30 detik untuk mengenang korban. Megawati menegaskan bahwa perjuangan menegakkan keadilan tidak akan pernah berhenti meski waktu telah berlalu tiga dekade.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User