Kaesang Maju Pileg 2029 di Dapil Puan, Golkar Sebut Persaingan Biasa
Jakarta — Peta politik nasional kembali bergerak dinamis menyusul kepastian Kaesang Pangarep, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sekaligus putra bungsu Presiden Joko Widodo, untuk bertaru...
Jakarta — Peta politik nasional kembali bergerak dinamis menyusul kepastian Kaesang Pangarep, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sekaligus putra bungsu Presiden Joko Widodo, untuk bertarung sebagai calon legislatif pada Pemilihan Legislatif 2029. Ia resmi ditetapkan oleh jajaran DPP PSI untuk maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V, yang selama ini dikenal sebagai basis elektoral Puan Maharani, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Keputusan ini mendapatkan respons terukur dari Partai Golongan Karya (Golkar).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Golkar, M. Sarmuji, menyampaikan tanggapannya secara tertulis melalui keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat (25/4/2026). Menurutnya, pencalonan Kaesang merupakan fenomena normal dalam sistem demokrasi multipartai di Indonesia. Ia menekankan bahwa Golkar tidak memandang langkah ini sebagai guncangan politik yang berarti. “Kami sudah puluhan tahun malang melintang di kontestasi. Siapa pun lawannya, Golkar selalu siap. Jadi, biasa saja,” tegas politisi asal Jawa Timur itu.
Langkah Berani di Medan yang Dikuasai
Rencana Kaesang untuk menerobos dapil yang secara historis merupakan lumbung suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini dinilai sebagai manuver penuh risiko. Berdasarkan rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pileg 2024, Puan Maharani berhasil mengantongi suara pribadi di atas 350.000 di dapil yang meliputi Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, Klaten, dan Kota Surakarta ini. PDIP pun mendominasi perolehan suara partai di sana. Kaesang sendiri bukanlah orang baru sepenuhnya; ia sebelumnya gagal dalam Pilkada Jawa Tengah 2024, dan kini berupaya membangun kembali karir politiknya melalui jalur Senayan.
Golkar Maksimalkan Kader Internal
Saat dikonfirmasi apakah partai berlambang beringin itu akan mengusung figur populer untuk menandingi Kaesang, Sarmuji justru menegaskan komitmen partainya pada kaderisasi. “Golkar tidak mencari figur instan. Kami sedang mematangkan kader internal yang telah bertahun-tahun membangun basis di dapil tersebut. Kami akan menurunkan kader terbaik, bukan sekadar nama beken,” urainya. Beberapa nama kader potensial disebut tengah mengikuti Rapat Kerja Daerah untuk pemantapan strategi, termasuk di antaranya sejumlah kader senior dan mantan anggota DPRD setempat yang telah teruji jaringan akar rumputnya.
Sarmuji juga menyinggung hasil Rapat Koordinasi Teknis Pemenangan yang digelar Golkar pada 10 April 2026 silam. Dalam rapat itu, disepakati bahwa tidak akan ada perlakuan istimewa terhadap kandidat lawan berdasarkan hubungan keluarga atau popularitas media. “Kami hanya mengenal satu ukuran: elektabilitas dan kedekatan dengan rakyat. Itu prinsip dasar kami,” tambahnya.
Babak Baru Dinamika Koalisi
Keputusan PSI menempatkan Kaesang di dapil Puan Maharani juga memunculkan pertanyaan mengenai konfigurasi koalisi Pilpres 2029. Hubungan antara PDIP dan PSI sempat memanas di ajang pilkada, namun Sarmuji menegaskan bahwa Golkar tetap berpegang teguh pada komunikasi politik yang konstruktif. Ia menyebutkan, “Kami terus berkomunikasi dengan seluruh elite partai, baik PDIP, PSI, maupun partai lainnya. Silaturahmi politik tidak boleh putus hanya karena bertanding di satu dapil.”
Dengan terungkapnya rencana ini, suhu politik dalam negeri diperkirakan akan semakin menghangat. Para pengamat menilai, pertarungan simbolik di Dapil Jawa Tengah V antara trah politik Sukarno melalui Puan Maharani dan trah Jokowi melalui Kaesang akan menjadi magnet besar yang mengalihkan perhatian dari dapil-dapil lain. Sebagai partai yang menempatkan diri di lintas koalisi, Golkar pun diyakini tengah cermat membaca situasi untuk menempatkan kepentingan elektoralnya secara maksimal tanpa terperangkap dalam konflik antar tokoh nasional.
Comments (0)