Sean Gelael dan Team WRT 32 Uji Strategi Balapan Basah di Interlagos
Sesi latihan bebas pertama 6 Hours of Sao Paulo di Sirkuit Interlagos, Brasil, dimanfaatkan sepenuhnya oleh Sean Gelael dan Team WRT 32 untuk menyusun antisipasi matang menghadapi potensi hujan. Keput...
Sesi latihan bebas pertama 6 Hours of Sao Paulo di Sirkuit Interlagos, Brasil, dimanfaatkan sepenuhnya oleh Sean Gelael dan Team WRT 32 untuk menyusun antisipasi matang menghadapi potensi hujan. Keputusan tim untuk menjalankan simulasi balapan dalam kondisi lintasan basah diambil setelah data meteorologi sirkuit menunjukkan probabilitas hujan deras sepanjang akhir pekan balapan. Pembalap asal Indonesia itu menuntaskan 28 putaran dengan ban intermediate dan full wet, mengumpulkan data krusial yang akan menjadi fondasi strategi perlombaan selama enam jam nanti.
Direktur Teknik Team WRT, Vincent Vosse, menyatakan bahwa pendekatan agresif pada sesi latihan bebas pertama merupakan langkah preventif. “Kami tidak ingin spekulasi cuaca merusak ritme balapan. Sesi hari ini kami kunci khusus untuk penyesuaian perangkat elektronik dan mekanis mobil #32 pada grip rendah. Kami menargetkan hasil optimal di sektor basah,” ujarnya melalui konferensi pers virtual dari paddock Interlagos. Vosse menambahkan, telemetri awal menunjukkan respons positif pada sistem distribusi tenaga mesin saat aspal diguyur air buatan petugas sirkuit.
Prioritas pada Adaptasi Cengkraman Ban
Simulasi yang dijalankan Sean Gelael berlangsung di segmen terakhir sesi latihan, saat tim sengaja meminta petugas untuk menyemprotkan air di tikungan 4 hingga 8—area yang secara historis paling licin ketika hujan turun di sirkuit sepanjang 4,309 kilometer itu. Data lap menunjukkan penurunan waktu putaran tercepat Sean hingga 2,1 detik dari catatan kering, selisih yang dianggap wajar untuk konfigurasi basah penuh. Meski demikian, perhatian utama diarahkan pada konsistensi pengereman dan traksi keluar tikungan lambat.
“Saya mencoba beberapa pendekatan throttle dan titik pengereman, terutama di Descida do Lago. Sensasi ban wet Michelin cukup progresif, tetapi kami perlu menjaga suhu operasionalnya lebih lama, karena potensi safety car di pertengahan lomba bisa menurunkan tekanan,” jelas Sean selepas turun dari kokpit. Komentarnya itu selaras dengan data distribusi temperatur ban yang direkam insinyur balap. Tim lalu memutuskan untuk merevisi peta pendinginan rem demi menjaga panas tersalurkan ke roda belakang secara merata.
Strategi Pit Stop Fleksibel Hadapi Hujan
Di luar aspek teknis mobil, simulasi basah juga menjadi momen penting bagi mekanik Team WRT 32 untuk mengasah pergantian roda dalam skenario lintasan basah. Kepala Mekanik tim, Didier Debaecker, mengonfirmasi bahwa kru pit telah menjalankan sepuluh sesi latihan penggantian ban di garasi dengan tambahan alat pengering pelek. “Kami mengantisipasi perubahan mendadak dari kering ke basah. Dalam kondisi seperti itu, waktu pit stop bisa bertambah 2–4 detik. Kami tidak mau kehilangan posisi karena detail kecil,” tegas Debaecker.
Lebih lanjut, rapat koordinasi strategi antara Sean, Vosse, dan tim insinyur memutuskan untuk menyiapkan setidaknya tiga skenario pergantian ban berdasarkan waktu kedatangan hujan. Skenario A dipakai jika hujan turun sejak jam pertama, dengan dua stint awal menggunakan ban intermediate. Skenario B mengakomodasi balapan kering yang berubah basah pada fase senja, dan Skenario C diterapkan bila hujan hanya berupa gerimis singkat. Setiap skenario telah dipetakan dalam tabel waktu yang diintegrasikan ke data live telemetri cuaca yang disuplai penyelenggara FIA World Endurance Championship.
Kondisi Interlagos dan Pengalaman Tahun Sebelumnya
Interlagos memang dikenal dengan cuaca tropisnya yang kerap berubah drastis dalam hitungan menit. Pada edisi 6 Hours of Sao Paulo sebelumnya, hujan deras sempat menyebabkan bendera merah dan mengubah total komposisi klasemen kelas LMGT3. Berdasarkan catatan resmi WEC, sepanjang triwulan pertama 2025 saja, sirkuit ini sudah diguyur hujan pada 60 persen hari aktif kalender balap. Faktor itu yang membuat Team WRT 32 memilih pendekatan tidak konvensional dengan mengorbankan sebagian waktu pengembangan set-up kering demi membangun data basah yang solid.
Sean sendiri mengaku punya kenangan kurang menyenangkan ketika balapan basah di sirkuit yang sama dua tahun silam, di mana aquaplaning sempat membuatnya kehilangan dua posisi. “Itu pengalaman berharga. Sekarang saya jauh lebih paham alur genangan di sini. Kerja sama dengan spotter dan masukan dari tim sangat membantu membaca perubahan grip secara langsung,” katanya.
Persiapan Akhir Menuju Balapan Utama
Menjelang sesi kualifikasi, para insinyur Team WRT 32 akan melakukan komparasi antara data simulasi basah hari ini dengan data simulasi kering yang akan diambil pada sesi latihan berikutnya. Fokusnya adalah menemukan titik kompromi pada setelan sayap belakang agar mobil tetap stabil di lintasan lembap tanpa kehilangan kecepatan lurus terlalu banyak di trek kering. Perhitungan awal di simulator internal tim menunjukkan pengaturan sudut sayap 4,2 derajat plus flap Gurney mampu menjadi solusi terbaik untuk karakteristik sirkuit Interlagos yang membutuhkan downforce medium-tinggi.
Di sisi lain, Sean Gelael bersama rekan setimnya menjalani sesi pendinginan dan analisis video. Mereka menandai titik rawan genangan di tikungan Juncao dan Mergulho yang kerap menjadi lokasi insiden saat balapan campuran cuaca. Evaluasi ini akan dimasukkan ke dalam panduan balapan digital yang bisa diakses langsung dari layar kokpit selama lomba. “Kami yakin persiapan ini membuat Team WRT 32 mampu bereaksi paling cepat jika hujan benar-benar turun. Ini bukan lagi soal kemungkinan, tapi soal kapan,” pungkas Sean.
Comments (0)