Bonnie Triyana Ajak Generasi Z Bedah Buku Marhaenisme di Era Digital

Lebak, Apaberita – Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana memimpin langsung diskusi bedah buku bertema Marhaenisme yang digelar di Aula Kampus Universitas La Tansa Mashiro, Kabupaten Lebak, Banten, pa...

Jul 12, 2026 - 04:44
0 1

Lebak, Apaberita – Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana memimpin langsung diskusi bedah buku bertema Marhaenisme yang digelar di Aula Kampus Universitas La Tansa Mashiro, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu (15/3). Kegiatan itu menyedot lebih dari 200 peserta yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Dalam forum yang berlangsung selama hampir tiga jam tersebut, Bonnie menekankan bahwa pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme tetap aktual untuk membedah ketimpangan ekonomi digital yang semakin tajam. Acara bertajuk “Marhaenisme Lebak: Membaca Ulang, Menjawab Zaman” itu sengaja menyasar generasi muda agar tidak kehilangan akar kritis di tengah gempuran platform teknologi raksasa.

Marhaenisme sebagai Alat Kritik Kapitalisme Platform

Bonnie mengurai secara runut bagaimana konsep marhaen—rakyat yang memiliki alat produksi kecil namun tetap tertindas—mencerminkan kondisi pekerja lepas dan kreator konten di era ekonomi gig. Menurutnya, algoritma platform digital justru mengekstraksi nilai lebih secara senyap melalui mekanisme yang tidak jauh berbeda dengan relasi buruh-majikan pada masa lalu.

“Kalau dulu buruh di pabrik kehilangan kendali atas alat produksi, sekarang pekerja lepas kehilangan kendali atas data, reputasi, dan jaringan pelanggan mereka. Itu semua dikuasai platform. Marhaenisme memberi kita kerangka untuk melawan model bisnis yang sifatnya ekstraktif itu,” ujar Bonnie di hadapan peserta yang antusias.

Ia mencontohkan dominasi perusahaan ride-hailing dan e-commerce yang menentukan harga, aturan main, bahkan memutus hubungan kemitraan sepihak tanpa proses yang adil. “Ini kapitalisme versi baru yang lebih canggih, tapi esensinya sama: memusatkan kekuasaan dan laba di tangan segelintir pemilik modal,” tambahnya.

Belajar dari Kudatuli: Ruang Diskusi Harus Dijaga

Bonnie juga mengaitkan pentingnya membangkitkan ruang-ruang diskusi kritis dengan peristiwa bersejarah 27 Juli 1996—yang dikenal dengan Kudatuli. Serangan terhadap kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, itu ia sebut sebagai salah satu akibat dari tertutupnya saluran demokrasi dan matinya budaya perdebatan sehat di masyarakat.

“Peristiwa Kudatuli bukan hanya soal partai tertentu. Itu adalah pelajaran politik yang mahal: ketika ruang dialog dimatikan, kekerasan dan intimidasi menjadi pilihan. Generasi muda harus memahami bahwa ruang diskusi adalah benteng demokrasi yang paling dasar,” tegas sejarawan yang banyak menulis tentang Orde Baru itu.

Dalam konteks kekinian, Bonnie menyoroti kecenderungan publik digital yang lebih suka membuat petisi atau kampanye di media sosial, tetapi jarang turun ke ruang-ruang diskusi tatap muka untuk menguji argumen secara langsung. “Kita butuh kembali ke kultur debat yang terstruktur, bukan sekadar viralitas yang cepat hilang,” katanya.

Strategi Konkret Merawat Berpikir Kritis Anak Muda

Di sesi tanya jawab, sejumlah peserta mempertanyakan bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis di tengah masifnya algoritma yang justru menciptakan ruang gema dan polarisasi. Bonnie menjawab dengan tiga langkah praktis: pertama, membiasakan membaca buku cetak secara utuh, bukan hanya potongan konten di media sosial; kedua, menginisiasi kelompok diskusi kecil secara berkala di kampus atau komunitas; dan ketiga, melatih menulis argumentasi secara sistematis, bukan sekadar bereaksi di kolom komentar.

“Berpikir kritis itu seperti otot: harus dilatih terus-menerus, bukan keajaiban instan. Kalau kalian hanya mengonsumsi konten pendek yang dikurasi algoritma, otak kalian akan terbiasa berpikir pendek pula,” ujarnya.

Koordinator acara, Atik Soejarwo, menyatakan bahwa pemilihan tema Marhaenisme Lebak didasari oleh kebutuhan akan narasi alternatif di tingkat lokal yang mampu menjawab tantangan global. “Kami ingin mahasiswa di Lebak tidak hanya jadi penonton perubahan, tetapi jadi aktor yang punya landasan ideologis kuat,” jelasnya.

Diskusi bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan literasi politik yang digelar oleh sejumlah organisasi kepemudaan di Banten. Panitia menargetkan minimal dua kali pertemuan serupa dengan tema yang berbeda dalam satu semester, melibatkan narasumber dari latar belakang akademisi, aktivis, hingga peneliti kebijakan publik.

Bonnie sendiri menutup acara dengan ajakan agar generasi Z tidak takut untuk kembali ke teks-teks klasik pemikiran Indonesia. “Marhaenisme bukan buku usang. Justru di era disrupsi ini, kita butuh fondasi yang lebih kokoh. Bung Karno mewariskan alat analisis, bukan dogma. Pakailah untuk membedah dunia kalian sendiri,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User