Gempa Alaska 1964: Getaran Magnitudo 9,2 yang Guncang Seluruh Planet

Anchorage, Alaska — Pada 27 Maret 1964 pukul 17.36 waktu setempat, sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,2 mengguncang wilayah Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat. Bencana alam tersebu...

Jul 12, 2026 - 23:09
0 0
Gempa Alaska 1964: Getaran Magnitudo 9,2 yang Guncang Seluruh Planet

Anchorage, Alaska — Pada 27 Maret 1964 pukul 17.36 waktu setempat, sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,2 mengguncang wilayah Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat. Bencana alam tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan parah dan ribuan korban jiwa, tetapi juga mencatat sejarah sebagai gempa terkuat kedua yang pernah terekam secara instrumental, setelah gempa Chili 1960. Getaran seismiknya memicu tsunami lintas samudra dan membuat seluruh permukaan Bumi bergetar selama beberapa hari.

Kronologi dan Kekuatan Gempa

Gempa terjadi akibat patahan di zona subduksi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara. Pusat gempa berada di Selat Prince William, sekitar 120 kilometer timur Anchorage. Dalam waktu kurang dari tiga menit, batuan dasar bergeser sepanjang lebih dari 700 kilometer, mengangkat dasar laut hingga 11 meter. Energi yang dilepaskan setara dengan 12.000 bom atom Hiroshima. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat bahwa gempa susulan berkekuatan di atas magnitudo 5,0 terjadi lebih dari 20 kali dalam 24 jam pertama.

Kepala Pusat Studi Gempa Bumi dan Tsunami dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Irwan Meilano, dalam sebuah diskusi peringatan yang digelar awal pekan ini, menegaskan bahwa peristiwa 1964 menjadi referensi utama bagi pemodelan risiko gempa subduksi di seluruh dunia. "Skala dan mekanisme patahan yang terlibat memberi gambaran nyata betapa dahsyatnya potensi gempa megathrust di zona serupa, termasuk di selatan Pulau Jawa," ujarnya.

"Gempa ini menjadi pelajaran berharga. Ketika batuan dasar lepas dalam sekala besar, tsunami yang dihasilkan bisa menyapu kawasan pantai dalam hitungan menit. Waktu peringatan sangat sempit," ujar Prof. Meilano.

Tsunami Menerjang Pesisir dan Korban Jiwa

Gempa utama langsung memicu tsunami lokal yang menghantam pantai selatan Alaska dengan ketinggian mencapai 67 meter di Valdez. Gelombang raksasa itu menyapu kapal, bangunan, dan permukiman penduduk di sepanjang Prince William Sound. Di Kota Seward, semburan lumpur dan minyak dari tangki penyimpanan yang pecah ikut menyulut kebakaran hebat. Korban tewas resmi tercatat 131 orang, namun sejarawan setempat memperkirakan angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena banyaknya warga yang hilang di laut dan tak ditemukan.

Lebih dari itu, tsunami menjalar ke selatan menyusuri pantai barat Amerika Utara. Di Crescent City, California, gelombang setinggi 6,1 meter menewaskan 11 orang dan merusak puluhan bangunan. Efek serupa dilaporkan di Hawaii, Jepang, hingga Selandia Baru. Kepala Pemantauan Geofisika Stasiun Geofisika Kelas I Manado, Dr. Devi Kamilia, menyebut bahwa perubahan tinggi muka air laut akibat gempa ini tercatat di alat pengukur pasang surut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

"Gelombang tsunami yang tiba di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, hanya beberapa sentimeter tinggiay, tetapi catatan itu menjadi bukti bahwa energi gempa Alaska menjalar hingga perairan Indonesia," kata Dr. Devi.

Getaran Global dan Catatan Seismik Bersejarah

Yang paling luar biasa dari gempa Alaska 1964 adalah fenomena getaran bebas Bumi atau free oscillation. Para seismolog mencatat bahwa planet kita terus berosilasi—seperti bel yang dipukul—selama lebih dari dua pekan setelah gempa berhenti. Stasiun seismograf di seluruh dunia, dari Antartika hingga Eropa, merekam gelombang permukaan yang berulang melewati benua.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Danny Hilman Natawidjaja, mengungkapkan bahwa data dari gempa 1964 dipakai untuk mengonfirmasi model geodinamika modern. "Untuk pertama kalinya, para ilmuwan memiliki bukti kuat bahwa gempa besar bisa mempengaruhi bentuk Bumi, memicu getaran harmonik yang berlangsung berminggu-minggu. Dari sini kita memahami batuan struktur interior Bumi," tuturnya.

Gempa ini juga menyebabkan perubahan topografi permanen di Alaska. Pengukuran sebelum dan sesudah gempa menunjukkan bahwa beberapa wilayah di sekitar Prince William Sound terangkat hingga 11,5 meter, sementara daratan lain ambles hingga 2,5 meter. Dasar penurunan itulah yang melemahkan fondasi bangunan di Anchorage dan menyebabkan longsor tanah sewaktu terjadi guncangan.

Warisan dalam Mitigasi Bencana Modern

Pemerintah Amerika Serikat menindaklanjuti bencana ini dengan mereformasi sistem peringatan dini tsunami di Samudra Pasifik. Pada 1965, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC) di Hawaii diperkuat jangkauannya dan mulai mengadopsi standar respons internasional. Indonesia sendiri, pasca gempa Aceh 2004, menjadikan pengalaman Alaska sebagai salah satu rujukan ketika membangun Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya menegaskan bahwa peristiwa 1964 memperlihatkan pentingnya edukasi masyarakat pesisir tentang tanda-tanda alam sebelum tsunami. "Di Alaska, banyak warga selamat karena mengenali surutnya air laut dan segera berlari ke tempat tinggi. Ini pelajaran yang terus kami sebarkan di 578 desa rawan tsunami di Indonesia," ungkapnya.

"Kita tidak bisa mengandalkan alat semata. Pemahaman soal gempa dan evakuasi mandiri adalah kunci selamat dari tsunami, dan itu dibuktikan dari Alaska 1964," tegas Daryono.

Hingga saat ini, gempa Alaska 1964 tetap menjadi tolok ukur bagi para ahli kegempaan dalam memodelkan skenario terburuk gempa megathrust di sepanjang Cincin Api Pasifik. Data-data yang dikumpulkan dari peristiwa itu—baik dari segi pencatatan gelombang, deformasi tanah, maupun dampak susulannya—masih dipakai dalam berbagai penelitian geosains dan perencanaan tata ruang pesisir di berbagai negara. Bagi Indonesia, yang terletak di zona pertemuan tiga lempeng tektonik, kenangan atas gempa yang membuat dunia bergetar ini merupakan pengingat bahwa ancaman serupa bisa datang kapan saja.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User