Presiden Resmikan Lima Bendungan Baru, Produksi Beras Bertambah 1 Juta Ton
LOMBOK BARAT — Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara bersamaan lima bendungan baru dari area Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Senin (24/6/2024). Peresmian...
LOMBOK BARAT — Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara bersamaan lima bendungan baru dari area Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Senin (24/6/2024). Peresmian yang digelar secara hibrida itu menandai rampungnya pembangunan infrastruktur sumber daya air strategis di lima provinsi.
Lima bendungan yang diresmikan adalah Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Bendo di Jawa Timur, Bendungan Way Apu di Maluku, Bendungan Rukoh di Aceh, serta Bendungan Lolak di Sulawesi Utara. Kehadiran kelima waduk ini dinilai akan memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya peningkatan produksi beras hingga lebih dari 1 juta ton setiap tahunnya.
Rincian Lokasi dan Kapasitas Tampung
Bendungan Meninting yang menjadi lokasi utama peresmian memiliki kapasitas tampung 12,5 juta meter kubik dan akan mengairi lahan irigasi seluas 2.985 hektare di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah. Proyek yang dikerjakan sejak 2019 ini menelan anggaran Rp 1,3 triliun dan dilengkapi fasilitas pengendali banjir untuk kawasan perkotaan Mataram dan sekitarnya.
Di wilayah Jawa Timur, Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo mampu menampung 43 juta meter kubik air dari Sungai Keyang. Bendungan ini memiliki jaringan irigasi yang mencakup 7.800 hektare lahan pertanian di Ponorogo, Madiun, dan Magetan. Sementara itu, Bendungan Way Apu di Kabupaten Buru, Maluku, dengan kapasitas 50 juta meter kubik, diproyeksikan mengairi 10.000 hektare sawah di Pulau Buru. Gubernur Maluku Murad Ismail menyatakan kehadiran bendungan ini akan mentransformasi Buru menjadi lumbung pangan baru di kawasan timur Indonesia.
Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, dibangun untuk memperkuat sektor pertanian di Provinsi Aceh yang memiliki sejarah panjang sebagai sentra produksi padi. Bendungan berkapasitas 25,4 juta meter kubik ini menyuplai air bagi 11.950 hektare sawah di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Di Sulawesi Utara, Bendungan Lolak di Kabupaten Bolaang Mongondow dengan kapasitas 16,2 juta meter kubik akan mengairi 3.400 hektare lahan di Bolaang Mongondow dan Kotamobagu.
Kalkulasi Produksi Beras Tambahan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dody Hanggodo, yang mendampingi Presiden dalam peresmian, memaparkan total luas irigasi baru yang dihasilkan dari lima bendungan mencapai 36.135 hektare. Jika setiap hektare mampu memproduksi rata-rata 5,8 ton gabah kering giling per musim tanam, dengan asumsi tiga kali tanam dalam setahun di beberapa lokasi, tambahan produksi padi secara nasional diproyeksi menembus 1,07 juta ton per tahun. Angka ini, menurutnya, setara dengan sekitar 2,5 persen dari total produksi beras nasional yang selama ini berada di kisaran 31 juta ton per tahun.
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menjelaskan bahwa bendungan-bendungan baru ini tidak hanya menambah luas tanam tetapi juga meningkatkan indeks pertanaman di lahan-lahan tadah hujan yang sebelumnya hanya bisa ditanam satu kali setahun. "Dengan ketersediaan air yang pasti, petani di sekitar bendungan bisa panen tiga kali dalam dua tahun atau bahkan dua kali setahun penuh. Ini lompatan produktivitas yang signifikan," ujar Arief.
Komitmen Swasembada Pangan
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan bendungan adalah bagian dari strategi besar menuju swasembada pangan yang ditargetkan tercapai dalam tiga tahun ke depan. "Lima bendungan ini adalah wujud nyata komitmen pemerintah. Kita tidak hanya membangun penampung air, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh, dari hulu hingga hilir," tegas Presiden di hadapan ratusan undangan yang terdiri dari petani, tokoh masyarakat, serta pejabat pusat dan daerah.
Presiden juga menginstruksikan kepada Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan pemerintah daerah untuk menyelaraskan program pompanisasi, distribusi pupuk bersubsidi, serta perbaikan akses jalan usaha tani di sekitar kawasan bendungan. Menurutnya, infrastruktur pengairan harus diikuti dengan pembenahan rantai pasok dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani. "Tidak ada gunanya bendungan megah jika petani kita kesulitan mendapatkan pupuk atau harga gabah anjlok saat panen raya," katanya.
Peresmian serentak ini juga dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta para kepala daerah dari lima provinsi. Beberapa di antaranya mengikuti acara melalui sambungan video dari lokasi bendungan masing-masing. Momentum ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi lintas kementerian untuk mempercepat pencapaian target lumbung pangan di berbagai daerah.
Manfaat Pengendalian Banjir dan Air Baku
Selain fungsi irigasi, kelima bendungan juga dirancang sebagai sarana pengendalian banjir, penyedia air baku, serta potensi pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Bendungan Meninting, misalnya, akan mereduksi debit banjir di Kota Mataram hingga 30 persen berdasarkan simulasi Kementerian PUPR. Sementara Bendungan Bendo diproyeksikan memasok air baku bagi 120.000 jiwa di Kabupaten Ponorogo serta kawasan industri di sekitarnya.
Di Maluku, Bendungan Way Apu diharapkan mampu menyediakan air bersih untuk 80.000 penduduk di Pulau Buru yang selama ini masih bergantung pada sumur dangkal dan air hujan. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyatakan Bendungan Rukoh akan menjadi sumber air baku bagi kota-kota di Pidie dan sekitarnya seiring dengan pertumbuhan populasi yang terus meningkat. Sementara itu, Bendungan Lolak di Sulawesi Utara juga dirancang untuk menopang kebutuhan air baku di kawasan pariwisata Likupang, salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas.
Dengan rampungnya proyek-proyek ini, pemerintah berharap target kedaulatan pangan yang menjadi salah satu poin Asta Cita pemerintahan Prabowo dapat lebih cepat terealisasi. Kementerian PUPR mencatat masih ada 15 bendungan lainnya yang tengah dalam tahap konstruksi dan ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2026. Akumulasi seluruh bendungan baru ini, menurut hitung-hitungan direktorat jenderal terkait, berpotensi menambah produksi beras lebih dari 4 juta ton per tahun ketika seluruh jaringan irigasi sudah beroperasi penuh.
Comments (0)