Ledakan Bom Rakitan di Dadaha Tasik, Pedagang Kejang

Guncangan keras dari ledakan bom rakitan merobek ketenangan sore di Kompleks Olahraga Dadaha, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Minggu (13/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Ledakan y...

Jul 14, 2026 - 05:52
0 0
Ledakan Bom Rakitan di Dadaha Tasik, Pedagang Kejang

Guncangan keras dari ledakan bom rakitan merobek ketenangan sore di Kompleks Olahraga Dadaha, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Minggu (13/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Ledakan yang bersumber dari area kios pedagang kaki lima itu membuat seorang penjual jajanan, Resa (45), mengalami kontraksi otot hebat hingga kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Hingga malam hari, garis polisi masih membentang di lokasi kejadian, sementara tim penjinak bom dari Detasemen Gegana Brimob Polda Jawa Barat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Detik-Detik Ledakan dan Kepanikan Warga

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, dentuman keras yang terdengar hingga radius sekitar 200 meter itu sempat menimbulkan kepanikan massal. Warga yang tengah berolahraga dan berdagang di sekitar kompleks berhamburan menyelamatkan diri. Resa, yang saat itu sedang melayani pembeli di warung tendanya yang berjarak kurang dari 15 meter dari pusat ledakan, menjadi korban paling terdampak.

Seorang saksi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, ledakan tiba-tiba terjadi tanpa tanda-tanda mencurigakan. "Saya melihat Pak Resa tiba-tiba terpental dan badannya kaku seperti kejang. Banyak yang berteriak dan berlarian. Suasananya sangat kacau," ujarnya di lokasi, Minggu petang.

Saya hanya mendengar suara seperti petir, lalu tubuh saya langsung kaku dan jatuh. Saya tidak sadarkan diri dan ketika sadar sudah berada di ambulans.

demikian pengakuan Resa dari atas tempat tidur perawatan, dengan suara terputus-putus. Pedagang yang sehari-hari menjual aneka gorengan itu mengaku tak melihat benda mencurigakan sebelumnya. Petugas medis dari Puskesmas Tawang yang pertama tiba di TKP langsung memberikan pertolongan darurat sebelum merujuknya ke unit gawat darurat RSUD dr. Soekardjo.

Penanganan Kepolisian dan Penyelidikan

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Hendra Gunawan, menegaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan 60 personel gabungan untuk mengamankan lokasi dan mengumpulkan bukti. "Dari hasil olah TKP awal, kami menemukan serpihan pipa besi, paku, bubuk belerang, dan sisa sumbu yang mengindikasikan bahwa ini adalah bom rakitan dengan daya ledak rendah hingga sedang," jelas Kapolres dalam konferensi pers di Mapolres Tasikmalaya Kota, Minggu malam.

Kapolres menyatakan bahwa tidak ditemukan korban jiwa selain syok berat yang dialami Resa. Meski demikian, pihaknya tidak mengesampingkan potensi adanya target spesifik atau motif tertentu di balik penempatan bom tersebut. "Kami masih mendalami apakah ini terkait konflik pribadi, persaingan lapak, atau percobaan teror. Saat ini belum ada tersangka, dan kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang," pungkasnya.

Tim Gegana yang dipimpin oleh Kompol Andi Fajar telah menetapkan zona steril sejauh 50 meter untuk mengantisipasi kemungkinan adanya bahan peledak susulan. Kegiatan di kompleks olahraga dihentikan sementara berdasarkan surat perintah pengosongan area. Dalam rapat koordinasi antara Polres, Satpol PP, dan Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tasikmalaya, disepakati seluruh agenda olahraga dan kegiatan masyarakat di Dadaha ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan, menindaklanjuti keputusan Kapolres.

Kondisi Resa dan Dampak Psikologis

Sementara itu, di RSUD dr. Soekardjo, Resa ditetapkan menjalani perawatan intensif di ruang observasi. Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat, dr. Maya Puspita, menyatakan bahwa pasien mengalami syok akustik dan kontraksi otot involunter yang menyebabkan kejang selama hampir 10 menit. "Tidak ada luka bakar atau luka tusuk akibat fragmen bom. Namun, tekanan gelombang ledakan memicu respons neurologis yang cukup berat. Kami juga memberikan pendampingan psikologis karena pasien menunjukkan tanda-tanda trauma akut," papar dr. Maya.

Keluarga Resa yang datang dari Kampung Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, terpantau mendampingi korban. Istri Resa, Yanti (40), mengungkapkan bahwa suaminya tidak memiliki sangkut paut dengan perselisihan apa pun. "Suami saya hanya pedagang kecil, tidak punya masalah dengan siapa pun. Kami berharap polisi segera mengungkap siapa yang tega melakukan ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa ini menambah panjang catatan ledakan benda mencurigakan di ruang publik Tanah Air sepanjang 2026. Meski tidak menimbulkan kerusakan struktural pada bangunan permanen di sekitar Dadaha, guncangan psikologis yang ditinggalkan cukup dalam. Aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Letnan Harun yang biasanya ramai pada Minggu sore langsung sepi seketika. Sejumlah pedagang lain memilih mengemasi dagangannya lebih awal karena khawatir ada ledakan susulan.

Polres Tasikmalaya Kota menegaskan akan meningkatkan patroli di tempat-tempat keramaian, terutama pusat olahraga dan area publik yang menjadi titik kumpul masyarakat. Sementara itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik mengimbau agar warga tidak menyebarkan spekulasi di media sosial yang dapat memperkeruh situasi. "Kami percayakan sepenuhnya penyelidikan kepada pihak kepolisian," tandas Kepala Bakesbangpol, Ahmad Rijali.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User