Haul Akbar Grobogan Dongkrak Ekonomi Warga, Dagangan Ludes Terjual
Grobogan — Puncak peringatan Haul Akbar Pondok Pesantren Al Marom, Grobogan, tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi ribuan jemaah yang hadir, tetapi juga menjelma sebagai katalisator perputaran...
Grobogan — Puncak peringatan Haul Akbar Pondok Pesantren Al Marom, Grobogan, tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi ribuan jemaah yang hadir, tetapi juga menjelma sebagai katalisator perputaran ekonomi kerakyatan di wilayah setempat. Serbuan pengunjung yang membeludak sejak pagi hari, Jumat (15/8/2025), menciptakan efek domino terhadap geliat usaha mikro di sekitar kompleks pesantren, mulai dari pedagang kuliner, pernak-pernik islami, hingga penyedia jasa parkir.
Antusiasme Massa Memicu Ledakan Transaksi
Berdasarkan pantauan di lapangan, ribuan peziarah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya memadati area haul sejak pukul 06.30 WIB. Mereka tidak hanya mengikuti rangkaian tahlil dan pengajian akbar, tetapi juga berburu aneka dagangan yang berjejer di sepanjang jalan menuju pesantren. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Grobogan, Sutrisno, menyebut bahwa pergerakan transaksi pada hari itu ditaksir menembus Rp1,2 miliar, naik tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. Angka tersebut dihimpun dari 420 pelaku usaha yang terdata mengantongi izin berjualan di radius satu kilometer dari pusat acara.
Seorang pedagang soto ayam, Mbah Karsinem, mengaku mampu menjual 600 porsi hanya dalam waktu empat jam. "Biasanya sehari dapat 100 porsi itu sudah syukur. Tadi jam sembilan saja dagangan sudah habis, padahal saya bawa dua kali lipat," tuturnya sambil merapikan gerobak. Kondisi serupa dialami oleh penjual kopi keliling, Sunardi, yang meraup omzet bersih Rp4,5 juta hanya dari penjualan 800 gelas kopi dan minuman jahe.
Wakil Gubernur Tegaskan Keterkaitan Ritual Keagamaan dan Ekonomi
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang hadir langsung dalam haul tersebut, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan memiliki dimensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa maraknya perputaran uang selama haul merupakan bukti nyata bahwa tradisi religius mampu menggerakkan sektor riil di tingkat paling bawah. "Saya tadi berkeliling sebelum acara dimulai dan melihat sendiri bagaimana dagangan semuanya laris. Tidak ada yang tersisa. Ini menjadi sinyal bahwa setiap haul, majelis taklim, atau manaqiban sejatinya adalah penyangga ekonomi umat yang harus terus didukung," ujar Gus Yasin—sapaan akrab wagub—di hadapan jemaah.
Pernyataan tersebut disambut riuh tepuk tangan oleh hadirin. Wagub juga meminta pemerintah kabupaten untuk membuat skema penataan kawasan ekonomi musiman (temporary market) yang lebih terstruktur dalam setiap penyelenggaraan acara keagamaan berskala besar. Menurutnya, koordinasi antara panitia penyelenggara, dinas perhubungan, dan satpol PP diperlukan agar geliat perdagangan tidak mengganggu ketertiban umum, namun tetap memberikan ruang bagi warga mencari penghasilan tambahan.
Kolaborasi Pesantren dan Pemkab Disiapkan untuk Agenda Berikutnya
Pengasuh Pondok Pesantren Al Marom, KH Ahmad Syafiuddin, menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya menerapkan zonasi lapak jualan dengan menggandeng tim dari Dinas Perdagangan Grobogan. Sebanyak 320 lapak resmi disediakan secara gratis, sementara sisanya mengantre di luar zona. "Kami ingin menghindari kesan semrawut, sekaligus memastikan bahwa pedagang lokal dari Desa Sedadi dan sekitarnya mendapatkan prioritas," katanya. Ia menambahkan, hasil evaluasi haul kali ini akan menjadi dasar perencanaan Haul Akbar tahun depan, termasuk kemungkinan perluasan area parkir dan penambahan unit toilet portabel.
Kepala Bappeda Grobogan, Edy Purwanto, mengungkapkan bahwa potensi wisata religi berbasis haul sedang dikaji untuk dimasukkan dalam program unggulan daerah. "Data sementara menunjukkan, setiap haul akbar di Grobogan setidaknya dihadiri 5.000 hingga 12.000 peziarah. Kalau kita kelola dengan baik, ini bukan hanya soal perputaran uang sesaat, tetapi juga bisa membentuk citra Grobogan sebagai destinasi wisata religi yang menarik," tuturnya. Ia mencontohkan, pemasangan papan informasi digital, penyediaan pusat oleh-oleh khas Grobogan, dan pelatihan manajemen usaha bagi pedagang sekitar pesantren menjadi bagian dari rencana jangka menengah yang tengah disusun.
Panitia penyelenggara mencatat, haul yang digelar untuk memperingati wafatnya pendiri pesantren tersebut berjalan aman dan kondusif. Selain diisi dengan pembacaan dzikir dan shalawat, acara dimeriahkan dengan bazar murah, khitanan massal gratis untuk 150 anak, serta donor darah yang diikuti 267 pendaftar. Total kehadiran tercatat mencapai 9.300 orang, berdasarkan distribusi kupon konsumsi yang disediakan panitia.
Harapan Berkelanjutan dari Tradisi Keagamaan
Sejumlah tokoh setempat berharap agar efek pengungkit ekonomi dari haul tidak berhenti pada hari-H saja. Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Grobogan, Haryanto, menyarankan dibentuknya koperasi simpan pinjam khusus bagi pedagang musiman keagamaan, sehingga mereka memiliki akses permodalan yang lebih stabil. "Kalau dagangan habis, uangnya sering habis juga untuk kebutuhan harian. Kalau mereka bisa menabung di koperasi itu, modal untuk haul berikutnya sudah terkumpul," katanya.
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen mengamini usulan itu dan menyatakan akan mendorong dinas terkait di tingkat provinsi untuk melakukan pendampingan. "Kami tidak ingin semangat ekonomi ini hanya muncul setahun sekali lalu hilang. Harus ada kesinambungan, pelatihan, dan akses pasar yang lebih luas," pungkasnya. Dengan sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat, peringatan haul diharapkan tidak hanya menjadi napak tilas spiritual, melainkan juga fondasi bagi kemandirian ekonomi warga yang berkeadilan.
Baca juga:
Comments (0)