BMKG Terbitkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis untuk NTT

Kupang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini terkait potensi kekeringan meteorologis di sebagian besar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyar...

Jul 13, 2026 - 22:12
0 0

Kupang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini terkait potensi kekeringan meteorologis di sebagian besar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan serta menghemat air bersih seiring makin minimnya curah hujan di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi NTT, I Gusti Made Dharma Putra, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauan hingga pertengahan bulan ini, sejumlah zona musim telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut dengan kategori sangat panjang. Ia memaparkan bahwa kondisi ini merupakan tanda awal terjadinya kekeringan meteorologis yang berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air baku.

Indikator Kekeringan Meteorologis

Kekeringan meteorologis didefinisikan sebagai kondisi berkurangnya curah hujan di bawah rata-rata normal dalam periode tertentu. BMKG menggunakan parameter jumlah hari tanpa hujan (HTH) untuk menetapkan status kewaspadaan. Jika HTH di atas 30 hari, suatu wilayah masuk kategori WASPADA; di atas 60 hari SIAGA; dan lebih dari 90 hari AWAS.

Data Stasiun Klimatologi NTT menunjukkan bahwa lebih dari 60% titik pengamatan curah hujan di NTT telah mencatat HTH di atas 40 hari. Beberapa daerah bahkan sudah mencapai lebih dari 70 hari tanpa hujan signifikan, seperti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Belu, dan Sabu Raijua. Di Pulau Sumba, khususnya di Waingapu, tercatat HTH 65 hari per 10 Oktober lalu.

Wilayah Paling Terdampak

Berdasarkan peta potensi kekeringan yang dirilis BMKG, wilayah timur dan selatan NTT menjadi yang paling rentan. Pulau Timor, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, dan sebagian Flores Timur berada dalam zona WASPADA hingga SIAGA. Sementara itu, wilayah utara seperti Flores bagian barat dan Lembata masih dalam kondisi aman, meskipun curah hujan cenderung menurun.

I Gusti Made Dharma Putra menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh puncak musim kemarau yang diperkuat oleh monsun Australia dan anomali suhu muka laut di sekitar NTT. "Kami memperkirakan musim hujan baru akan masuk pada akhir November hingga Desember. Artinya, masih ada sekitar satu bulan lagi wilayah NTT harus bersiap menghadapi puncak kekeringan," ujarnya.

Dampak terhadap Pertanian dan Ketersediaan Air

Kekeringan meteorologis yang berkepanjangan menjadi ancaman serius bagi pertanian lahan kering yang mendominasi NTT. Padi ladang, jagung, dan hortikultura terancam gagal panen jika tidak ada pasokan air tambahan. Dinas Pertanian Provinsi NTT mencatat sekitar 15.000 hektare lahan pertanian berada pada status kritis air. Petani di beberapa daerah telah diminta menunda masa tanam hingga ada kepastian masuknya musim hujan.

Ketersediaan air bersih pun menipis. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di sejumlah kabupaten mulai menerapkan penggiliran distribusi air karena sumber air baku menyusut hingga 40% dari kapasitas normal. Di Kabupaten Sumba Barat Daya, warga terpaksa membeli air dari tangki swasta dengan harga hingga Rp200.000 per tangki, naik dua kali lipat dari musim biasa.

Imbauan dan Langkah Antisipasi

BMKG meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah mitigasi, termasuk distribusi air bersih ke desa-desa rawan, penyediaan tandon air, dan sosialisasi penghematan air. "Masyarakat diimbau untuk menggunakan air seperlunya, menampung air hujan jika ada hujan ringan, serta tidak membakar lahan karena dapat memicu kebakaran hutan yang sulit dikendalikan di musim kering," tegas I Gusti Made.

Koordinator Bidang Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Maria Goretti Dua Lembang, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiagakan tangki air bersih di 12 kabupaten prioritas. "Kami bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk mendistribusikan air ke wilayah yang sudah mulai kesulitan. Kami juga mengaktifkan posko kekeringan di setiap kecamatan," ungkapnya.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam rapat koordinasi pekan lalu menyatakan bahwa pemerintah provinsi akan mengucurkan dana darurat untuk pengadaan air bersih dan pompa irigasi. Ia juga meminta Kepala Desa untuk segera melaporkan situasi terkini agar bantuan tepat sasaran.

Prospek dan Harapan

Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa kondisi ini masih bersifat peringatan dini, bukan bencana. Curah hujan diprakirakan akan meningkat secara bertahap pada akhir November. Namun, masyarakat diminta tetap waspada karena transisi dari kemarau ke musim hujan kerap disertai cuaca ekstrem seperti angin kencang dan petir.

BMKG akan terus memutakhirkan informasi setiap hari melalui situs resmi dan kanal media sosial. Warga dihimbau memantau perkembangan prakiraan cuaca agar dapat merencanakan aktivitas dengan lebih baik. "Dengan persiapan yang matang, kita bisa melalui musim kemarau ini tanpa korban," pungkas I Gusti Made.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User