Efek Stimulasi Nikotin Dinilai Serupa Kafein, Pakar Soroti Ketergantungan

Jakarta — Pakar pengurangan bahaya tembakau menilai efek stimulasi yang dihasilkan nikotin memiliki kemiripan mendasar dengan kafein. Kedua zat tersebut sama-sama bekerja dengan memicu pelepasan dop...

Jul 13, 2026 - 21:58
0 0

Jakarta — Pakar pengurangan bahaya tembakau menilai efek stimulasi yang dihasilkan nikotin memiliki kemiripan mendasar dengan kafein. Kedua zat tersebut sama-sama bekerja dengan memicu pelepasan dopamin di otak, namun risiko ketergantungan yang ditimbulkan nikotin dinilai jauh lebih serius dan memerlukan perhatian khusus dari para pemangku kebijakan.

Pernyataan ini mengemuka di tengah perdebatan publik mengenai posisi nikotin dalam produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan. Sebagian kalangan menilai nikotin semata sebagai zat berbahaya, sementara perspektif pengurangan bahaya menekankan bahwa senyawa ini bukanlah penyebab utama penyakit terkait kebiasaan merokok.

Mekanisme Stimulasi Nikotin dan Kafein

Secara farmakologis, nikotin dan kafein menunjukkan pola kerja yang paralel dalam sistem saraf pusat. Clive Bates, pakar pengurangan bahaya tembakau asal Inggris, menjelaskan bahwa kedua zat ini bertindak sebagai stimulan yang meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi melalui modulasi dopamin. "Nikotin dan kafein memiliki profil stimulasi yang tidak jauh berbeda. Keduanya memengaruhi pelepasan dopamin di sirkuit imbalan otak sehingga menciptakan sensasi fokus dan perbaikan suasana hati dalam waktu singkat," ungkap Bates dalam sebuah diskusi daring yang diikuti Apaberita.

Mekanisme ini menjelaskan mengapa konsumen kopi dan pengguna produk mengandung nikotin sama-sama merasakan peningkatan performa kognitif sementara. Dopamin yang dilepaskan memberikan sinyal kesenangan dan motivasi, yang kemudian membentuk pola kebiasaan berulang. Namun, pakar menegaskan bahwa persamaan tersebut tidak boleh mengaburkan perbedaan fundamental dalam profil risiko ketergantungan antara kedua senyawa.

Perbandingan Risiko: Ketergantungan Jadi Pembeda

Meskipun kafein dapat menimbulkan habituasi, tingkat keparahan gejala putus dan potensi penyalahgunaannya jauh lebih rendah dibandingkan nikotin. Data dari berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa nikotin yang dihantarkan melalui asap rokok konvensional memiliki potensi adiktif yang sebanding dengan heroin dan kokain. Bates menambahkan, "Menyetarakan dampak buruk nikotin dengan kafein secara penuh adalah kekeliruan. Dalam konteks pengurangan bahaya, kita justru harus memisahkan nikotin dari metode penghantarannya—pembakaran tembakau adalah biang keladi utama penyakit, bukan nikotin semata."

Pernyataan ini menggemakan pendekatan yang diterapkan otoritas kesehatan di Inggris, di mana produk alternatif penghantar nikotin diposisikan sebagai alat bantu berhenti merokok yang lebih rendah risiko. Public Health England, misalnya, telah menerbitkan kajian yang menyimpulkan bahwa rokok elektronik setidaknya 95 persen lebih rendah bahaya dibandingkan rokok biasa. Kendati demikian, lembaga tersebut tetap menekankan bahwa produk-produk ini tidak sepenuhnya bebas risiko, terutama bagi non-perokok dan remaja.

Persepsi Publik dan Kebutuhan Regulasi Berbasis Bukti

Di Indonesia, pemahaman masyarakat terhadap perbedaan risiko antara nikotin dan senyawa hasil pembakaran masih rendah. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden keliru mengaitkan nikotin langsung dengan kanker paru, padahal riset puluhan tahun menegaskan bahwa penyebab utama kanker adalah tar dan karsinogen yang dihasilkan saat tembakau dibakar. Kesenjangan informasi ini menjadi tantangan serius bagi perumusan regulasi produk tembakau alternatif yang berbasis bukti ilmiah.

Bates mengingatkan bahwa tanpa edukasi yang tepat, kebijakan yang terlalu restriktif terhadap nikotin justru dapat menghambat perokok dewasa untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko. "Risiko ketergantungan tetap harus dikomunikasikan secara jujur. Namun, jika regulasi menempatkan semua produk nikotin dalam satu kotak yang sama, kita bisa kehilangan peluang besar untuk menekan angka kematian akibat rokok," tegasnya.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap mempertahankan sikap kehati-hatian yang tinggi terhadap semua produk nikotin, termasuk rokok elektronik. Dalam laporan tahun 2023, WHO menyoroti potensi peningkatan adopsi di kalangan muda dan menyerukan pengaturan yang ketat pada pemasaran dan rasa yang dianggap menarik bagi anak-anak. Dilema antara manfaat pengurangan bahaya dan ancaman inisiasi baru ini terus mewarnai perdebatan global.

Kesimpulan: Edukasi sebagai Kunci

Kesamaan efek stimulasi antara nikotin dan kafein memberikan sudut pandang baru dalam memahami profil farmakologi kedua zat. Namun, narasi ini tidak boleh mengecilkan risiko ketergantungan nikotin yang nyata dan terukur. Pendekatan kebijakan yang berdasar pada sains mensyaratkan pembedaan tegas antara senyawa dan metode konsumsinya, sekaligus memastikan perlindungan bagi kelompok rentan.

Ke depan, penguatan edukasi publik menjadi prasyarat mutlak agar konsumen, perokok, dan calon perokok dapat membuat keputusan yang selaras dengan kepentingan kesehatan jangka panjang. Pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan industri diharapkan mampu merumuskan narasi yang seimbang: mengakui fungsi stimulan nikotin tanpa mengabaikan potensi jerat ketergantungan yang menyertainya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User