Sekolah Dasar di Purwokerto Timur Hanya Terima Tiga Murid Baru

PURWOKERTO — Hari pertama Tahun Ajaran 2025/2026 di Sekolah Dasar Negeri 8 Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berlangsung dalam suasana yang jauh dari gegap gempita...

Jul 13, 2026 - 22:00
0 0

PURWOKERTO — Hari pertama Tahun Ajaran 2025/2026 di Sekolah Dasar Negeri 8 Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berlangsung dalam suasana yang jauh dari gegap gempita. Pada Senin (13/7), hanya tiga peserta didik baru yang tercatat menginjakkan kaki di bangku kelas satu sekolah tersebut, menandai salah satu titik terendah penerimaan murid dalam sejarah panjang institusi pendidikan dasar itu.

Kondisi ini terkonfirmasi setelah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang berlangsung selama dua pekan sebelumnya berakhir tanpa tambahan pendaftar signifikan. Ketiga siswa itu pun menjalani kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di tengah ruang kelas yang mayoritas bangkunya kosong. "Kami menerima kenyataan ini dengan hati terbuka, meskipun tentu ada keprihatinan mendalam," ujar Kepala SD Negeri 8 Kranji, Sutarno, S.Pd., saat ditemui di ruang kerjanya, Senin siang.

Fenomena Penurunan Berkelanjutan

SD Negeri 8 Kranji sesungguhnya bukan pendatang baru dalam menghadapi krisis penerimaan murid. Berdasarkan data yang dihimpun, pada PPDB tahun sebelumnya sekolah ini hanya mampu menjaring delapan siswa. Sementara pada tahun 2023, jumlah pendaftar kelas satu mencapai empat belas anak. Artinya, dalam kurun dua tahun terakhir, terjadi penyusutan lebih dari 78 persen jumlah peserta didik baru. Jika ditelusuri lebih jauh, tren ini sudah mulai terlihat sejak satu dasawarsa terakhir.

Secara keseluruhan, SD Negeri 8 Kranji saat ini hanya menampung kurang dari enam puluh murid dari kelas satu hingga kelas enam. Beberapa tingkatan bahkan menerapkan sistem kelas rangkap karena jumlah siswa di satu jenjang tidak memenuhi kuota minimal pembentukan rombongan belajar. Regulasi dari Kementerian Pendidikan mewajibkan sedikitnya dua puluh siswa untuk membentuk satu rombongan belajar baru di jenjang SD.

Pemicu Struktural di Balik Sepinya Pendaftar

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Drs. Joko Wiyono, M.Si., dalam keterangannya menyatakan bahwa fenomena di SD Negeri 8 Kranji merupakan cerminan dari pergeseran demografis yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. "Angka kelahiran di Purwokerto Timur dan sekitarnya mengalami penurunan yang cukup tajam dalam lima tahun terakhir. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menunjukkan bahwa jumlah balita di kecamatan ini menyusut hingga dua belas persen dibandingkan sensus sebelumnya," jelas Joko Wiyono.

Selain faktor demografis, migrasi penduduk usia produktif ke wilayah perkotaan yang lebih besar juga berkontribusi. Banyak keluarga muda memilih bermukim di kawasan yang lebih dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, meninggalkan kantong-kantong permukiman lama di sekitar Kranji. Akibatnya, populasi anak usia sekolah di zona penjangkauan SD Negeri 8 Kranji menurun secara alamiah.

Persaingan dengan Lembaga Pendidikan Swasta

Faktor kompetisi dengan sekolah dasar swasta dan madrasah ibtidaiyah di wilayah Purwokerto Timur turut mempengaruhi rendahnya animo masyarakat terhadap SD Negeri 8 Kranji. Dalam radius kurang dari dua kilometer, terdapat tiga sekolah dasar swasta berbasis agama dan dua madrasah ibtidaiyah yang menawarkan kurikulum terpadu serta fasilitas yang dipersepsikan lebih unggul oleh sebagian orang tua. "Pilihan orang tua sekarang lebih beragam. Mereka mempertimbangkan faktor kedekatan dengan tempat kerja, program ekstrakurikuler, hingga citra kelembagaan," ujar Sutarno mengakui.

Meski demikian, Sutarno menegaskan bahwa kualitas pembelajaran di sekolah yang dipimpinnya tetap terjaga. Rasio guru terhadap murid yang rendah justru memungkinkan pendekatan individual yang lebih intensif. Seluruh tenaga pendidik di SD Negeri 8 Kranji telah mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka dan beberapa di antaranya merupakan lulusan program Pendidikan Profesi Guru. "Kami tidak pernah menyerah untuk memberikan layanan pendidikan terbaik," tambahnya.

Langkah Strategis Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas masa depan sekolah-sekolah dengan tingkat penerimaan murid yang sangat rendah. Berdasarkan keputusan yang disahkan dalam rapat tersebut, opsi regrouping atau penggabungan sekolah menjadi salah satu solusi jangka menengah. Regrouping akan menyatukan SD Negeri 8 Kranji dengan sekolah dasar negeri terdekat yang juga menghadapi persoalan serupa, sehingga sumber daya dapat dikonsolidasikan.

"Kami menindaklanjuti amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan kewenangan kepada kabupaten untuk menata kelembagaan pendidikan dasar," ujar Joko Wiyono. Ia menambahkan bahwa keputusan final akan mempertimbangkan masukan dari komite sekolah, tokoh masyarakat, serta hasil asesmen terhadap jarak tempuh siswa ke lokasi sekolah yang baru.

Di sisi lain, upaya promosi dan peningkatan mutu juga terus dilakukan. SD Negeri 8 Kranji pada tahun ini meluncurkan program kelas digital dan taman baca interaktif dengan dukungan dana alokasi khusus dari pemerintah pusat. Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik sekolah di mata calon orang tua murid.

Realitas Sekolah Kecil di Tengah Bonus Demografi

Fenomena yang menimpa SD Negeri 8 Kranji bukanlah kasus isolatif. Ikatan Kepala Sekolah Indonesia (IKSI) Kabupaten Banyumas mencatat setidaknya terdapat tujuh sekolah dasar negeri lain di wilayah Banyumas yang menerima kurang dari sepuluh siswa baru pada tahun ajaran ini. Persebarannya mayoritas berada di kecamatan pinggiran dan semi-perkotaan yang mengalami transisi demografis.

Pemerhati pendidikan dari Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Dr. Sutrisno, M.Pd., menyatakan bahwa kebijakan regrouping harus dijalankan dengan sangat hati-hati. "Menutup sekolah bukan sekadar persoalan efisiensi anggaran. Ada dimensi sosial dan historis yang harus dihormati. Sekolah adalah lembaga yang mengakar di komunitas. Jika dipaksakan merger tanpa dialog yang memadai, resistensi masyarakat akan muncul," paparnya.

Ketiga siswa baru SD Negeri 8 Kranji menjalani hari pertama mereka tanpa menyadari bahwa kehadiran mereka tengah menjadi simbol perjuangan sebuah institusi pendidikan untuk tetap bertahan. Di halaman sekolah yang masih dilengkapi tiang bendera dan lapangan upacara yang rapi, mereka mengikuti arahan wali kelas dengan tatapan penuh antusiasme, seolah sepi yang menyelimuti sekolah itu hanyalah latar yang tak mereka pedulikan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User