Polisi Kejar Pengirim Ancaman Bom ke SDN Jakarta Selatan
Jakarta – Aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan tengah mengerahkan seluruh kemampuan penyelidikan untuk memburu pihak yang mengirimkan pesan ancaman bom ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Srengse...
Jakarta – Aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan tengah mengerahkan seluruh kemampuan penyelidikan untuk memburu pihak yang mengirimkan pesan ancaman bom ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Srengseng Sawah. Teror yang dikirim melalui layanan pesan instan WhatsApp pada Minggu (13/7/2026) itu langsung memicu operasi pengamanan intensif, meski hasil penyisiran memastikan tidak ada bahan peledak di lokasi.
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Komisaris Besar Polisi M. Syahduddi, dalam keterangan resmi di lokasi kejadian menegaskan, "Setelah tim Gegana Polda Metro Jaya menyisir seluruh ruang kelas, kantor, dan area terbuka selama lebih dari dua jam, kami nyatakan lingkungan sekolah steril. Tidak ditemukan indikasi benda mencurigakan maupun jejak bahan peledak." Meski demikian, perburuan terhadap pengirim pesan tetap menjadi prioritas utama yang melibatkan siber patrol dan analisis forensik digital.
Kronologi Penerimaan Pesan Teror
Ancaman bermula saat seorang tenaga kependidikan bagian tata usaha menerima pesan pada pukul 08.15 WIB. Narasi dalam pesan menyebutkan bahwa perangkat peledak telah diletakkan di dalam gedung utama dan akan diledakkan dalam hitungan jam. Pegawai itu tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung melapor kepada Kepala Sekolah, Sri Hartini, yang kemudian menghubungi Bhabinkamtibmas dan Polsek setempat.
"Ketika mendengar laporan itu, instruksi pertama adalah evakuasi. Kami memandu seluruh guru dan 287 murid yang sedang berada di kelas menuju lapangan upacara dengan tertib, sesuai dengan protokol yang sudah kami latihkan setiap semester," jelas Sri Hartini di sela pemulihan aktivitas. Ia menambahkan bahwa tak ada kepanikan berarti di kalangan siswa karena guru-guru mampu menjaga ketenangan dengan simulasi darurat yang kerap diadakan sebelumnya.
Tindakan Gabungan Penjinakan dan Penyelidikan
Tim Jibom yang tiba 12 menit setelah laporan langsung membagi personel dalam tiga sektor penyisiran. Sementara itu, petugas siber dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya turun tangan menelusuri nomor WhatsApp pengirim yang diduga menggunakan identitas palsu. "Kami sedang mendalami jejaring digital, termasuk kemungkinan nomor itu disusupi aplikasi penyembunyi identitas. Semua data akan dianalisis di laboratorium forensik," ujar Kepala Unit Tindak Pidana Siber, Ajun Komisaris Besar Polisi Rizky Mahardika.
Bersamaan dengan penyisiran, polisi juga memintai keterangan dari saksi kunci: pegawai penerima pesan, kepala sekolah, serta beberapa guru yang memiliki akses administratif. Rekaman kamera pengawas di sekitar gerbang diperiksa untuk memetakan aktivitas mencurigakan pada jam sebelum ancaman dikirim. Kapolres menambahkan bahwa langkah ini ditempuh karena sifat ancaman dipandang sebagai bentuk teror yang dapat mengganggu stabilitas sosial, terlepas dari kenyataan bahwa pisik tidak ada bom.
Imbauan Resmi dan Langkah Sekolah Berikutnya
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Slamet Riyadi, meminta seluruh satuan pendidikan di wilayah ibu kota untuk menaikkan status kewaspadaan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. "Pihak sekolah wajib mengaktifkan pos keamanan di jam masuk dan pulang, serta melaporkan setiap pesan tidak dikenal yang bernada teror ke pihak kepolisian tanpa menunda," tegasnya.
Sementara itu, SDN Srengseng Sawah akan melanjutkan kegiatan belajar mengajar pada Senin, 14 Juli 2026, setelah mendapat persetujuan penuh dari tim Gegana dan Badan Reserse Kriminal Polri. Pihak sekolah juga mengagendakan pertemuan dengan wali murid untuk memberikan penjelasan transparan dan memastikan rasa aman. Kegiatan trauma healing bagi murid kelas bawah yang menunjukkan kecemasan pascakejadian pun disiapkan, bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI.
Profil dan Relevansi Kasus
SDN Srengseng Sawah merupakan sekolah negeri unggulan di kawasan Jakarta Selatan yang kerap menjadi tuan rumah even pendidikan tingkat kotamadya. Rekam jejak keamanannya selama ini tidak pernah mencatat insiden serius. Terlebih pesan ancaman yang datang pada masa libur satuan pendidikan belum sepenuhnya usai—sebagian besar murid masih dalam program pengayaan—membuat pengelola langsung bertanya-tanya tentang motif di balik aksi pengecut itu.
Kapolres menutup keterangannya dengan seruan agar masyarakat tidak terpengaruh spekulasi. "Jangan sebarkan tangkapan layar ancaman itu ke media sosial. Serahkan proses hukum sepenuhnya kepada kami, dan segera laporkan temuan serupa agar langkah kontra bisa diambil cepat," pintanya. Kementerian Komunikasi dan Informatika juga diharapkan turut memantau konten viral yang bisa memperkeruh suasana dan menguntungkan pelaku. Hingga berita ini diturunkan, polisi belum menetapkan tersangka, namun lini penyelidikan digital terus diperkuat demi memberi kepastian hukum bagi institusi pendidikan dan masyarakat yang resah.
Baca juga:
Comments (0)