Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Ratusan Perempuan dan Difabel

Jakarta — Sugeng Paijo, seorang pria yang akrab disapa Jojo, kini berdiri di garda depan pemberdayaan ekonomi inklusif. Melalui usaha sosialnya, ia telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 200 p...

Jul 13, 2026 - 18:11
0 0

Jakarta — Sugeng Paijo, seorang pria yang akrab disapa Jojo, kini berdiri di garda depan pemberdayaan ekonomi inklusif. Melalui usaha sosialnya, ia telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 200 perempuan dan 45 penyandang disabilitas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Semua berawal dari sebuah langkah nekat pada 2016: meminjam Rp2 juta dari koperasi simpan pinjam setempat.

Dari Petak Sempit Menuju Pabrik Ramah Difabel

Jojo memulai kehidupan rumah tangganya bersama Khania Kendarsyah dengan menempati rumah kontrakan berukuran 4x5 meter. Kondisi ekonomi yang serba terbatas mendorongnya untuk menciptakan peluang. Ia mengamati banyak tetangga perempuannya yang memiliki keterampilan menjahit, namun tidak memiliki akses pasar. Di sisi lain, beberapa penyandang disabilitas di lingkungannya kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Dari situlah ide awal usaha konveksi inklusif lahir.

Pinjaman Rp2 juta itu digunakan untuk membeli dua mesin jahit bekas dan bahan baku kain perca. Produksi pertama berupa tas belanja dan dompet dari limbah kain. Dalam tiga bulan, pesanan mulai berdatangan dari komunitas pencinta lingkungan. Perlahan, Jojo mengajak empat tetangga perempuannya untuk bergabung. Kini, usahanya telah bertransformasi menjadi PT Karya Inklusi Bersama, sebuah perusahaan manufaktur yang menempati bangunan seluas 800 meter persegi dengan 60 mesin jahit modern.

Model Bisnis Inklusif dan Dampak Nyata

Perusahaan yang berdiri pada 11 Maret 2016 ini menerapkan sistem kerja berbasis pesanan (pre-order) untuk produk fesyen dan aksesori daur ulang. Keunikan model bisnisnya terletak pada desain tempat kerja yang sepenuhnya ramah difabel: jalur kursi roda, meja kerja adjustable, alat bantu pendengaran, dan waktu kerja fleksibel sesuai kemampuan fisik masing-masing pekerja.

“Kami menyadari bahwa penyandang disabilitas bukanlah beban, melainkan aset yang memiliki ketelitian tinggi. Beberapa produk terbaik kami justru dihasilkan oleh teman-teman difabel,” ujar Jojo dalam peresmian Program Kemitraan Inklusif di Sidoarjo, Selasa (4/5).

Berdasarkan data internal perusahaan per Maret 2024, total tenaga kerja mencapai 285 orang, terdiri dari 215 perempuan dan 45 penyandang disabilitas (tunanetra, tunarungu, dan tuna daksa ringan). Sebanyak 70 persen dari tenaga kerja adalah ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Omzet bulanan kini menembus Rp950 juta dengan kontribusi ekspor ke Australia, Jepang, dan Belanda sebesar 40 persen.

Pengakuan dan Kolaborasi dengan Pemerintah

Keberhasilan ini tidak luput dari perhatian pemerintah. Kementerian Koperasi dan UKM pada Januari 2024 memberikan penghargaan Wirausaha Sosial Inspiratif kepada Jojo. Penghargaan diserahkan langsung oleh Deputi Bidang Kewirausahaan dalam acara Peringatan Hari UMKM Nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mengalokasikan dana pendampingan sebesar Rp1,2 miliar melalui program CSR untuk perluasan bengkel kerja khusus difabel.

“Kami bangga dengan apa yang dilakukan Pak Sugeng. Ini bukti bahwa keterbatasan modal bukan halangan untuk membangun usaha yang berdampak luas. Model ini akan kami replikasi di tujuh kabupaten lain,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Andriyanto, dalam kunjungan kerja ke pabrik pada 10 April 2024.

Khania, sang istri yang kini menjabat sebagai Direktur Keuangan, menuturkan bagaimana mereka dulu sering berdebat soal arah bisnis. “Awalnya saya takut, pinjaman Rp2 juta itu besar untuk kami saat itu. Tapi Jojo selalu bilang, usaha ini bukan sekadar cari untung, tapi ingin membuat mereka yang tersisih bisa punya harga diri,” kenangnya.

Rencana Ekspansi dan Program Baru

PT Karya Inklusi Bersama tengah mempersiapkan ekspansi ke sektor kerajinan kulit dan kayu daur ulang. Sebanyak 30 penyandang disabilitas baru akan direkrut pada semester kedua 2024, setelah pelatihan selama tiga bulan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Rehabilitasi Vokasional Solo. Selain itu, perusahaan meluncurkan “Program Ibu Berdaya” yang memberikan modal bergulir tanpa bunga bagi kelompok perempuan di desa-desa sekitar untuk memulai usaha kecil berbasis keterampilan mereka sendiri.

Perjalanan Jojo membuktikan bahwa modal kecil—jika disertai visi sosial—dapat menciptakan rantai kebaikan yang panjang. Dari rumah petak berukuran 20 meter persegi, ia berhasil membangun ekosistem ekonomi yang memanusiakan mereka yang kerap terpinggirkan dalam pasar kerja formal.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User