Mendukbangga: Peran Ayah dan Komunikasi Kunci Atasi Fatherless

Jakarta, 3 Maret 2025 – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Mendukbangga), Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa kehadiran ayah secara emosional serta komunikasi dua arah yang be...

Jul 13, 2026 - 17:58
0 0

Jakarta, 3 Maret 2025 – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Mendukbangga), Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa kehadiran ayah secara emosional serta komunikasi dua arah yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam mengatasi fenomena fatherless di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan saat meluncurkan Gerakan Ayah Mendampingi Anak dan Keluarga (GAMAS) di Auditorium Gedung Kementerian PPPA, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Dalam sambutannya, Mendukbangga menyatakan bahwa program GAMAS dirancang untuk memperkuat peran ayah sebagai pendidik pertama dan pendamping utama dalam tumbuh kembang anak. "Kami melihat angka ketidakhadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis, masih tinggi. Survei kami pada 2024 menunjukkan 34,7 persen anak usia 10–17 tahun mengaku jarang berinteraksi langsung dengan ayah mereka selama lebih dari dua jam per minggu. Ini adalah alarm yang harus segera kami jawab," ujarnya di hadapan 200 peserta yang terdiri dari akademisi, perwakilan organisasi masyarakat, dan pegiat keluarga.

GAMAS, Gerakan Nasional Libatkan Ayah

GAMAS merupakan program nasional yang akan diimplementasikan secara bertahap di 38 provinsi sepanjang 2025. Kementerian PPPA telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 73,6 miliar yang bersumber dari APBN 2025 untuk mendanai pelatihan fasilitator, kampanye publik, dan pembentukan 1.000 titik konseling keluarga di tingkat kecamatan. Setiap kecamatan akan memiliki dua pendamping terlatih yang direkrut dari kader PKK dan organisasi keagamaan setempat.

Direktur Keluarga dan Anak Kementerian PPPA, Rina Agustina, menjelaskan bahwa substansi utama GAMAS adalah mendorong para ayah untuk secara sadar menyediakan waktu berkomunikasi dengan anak setiap hari, bukan sekadar memberikan nafkah materi. "Inti dari gerakan ini bukan sekadar seremoni. Kami menetapkan target konkret: setiap ayah peserta program harus melaporkan minimal 20 menit percakapan berkualitas bersama anak setiap hari, tanpa distraksi gawai," tegas Rina dalam sesi pemaparan teknis seusai peluncuran.

Untuk mengukur keberhasilan, Kementerian PPPA akan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik melakukan survei baseline dan evaluasi setiap enam bulan. Indikator utamanya adalah peningkatan durasi interaksi ayah-anak, penurunan kasus kenakalan remaja, dan peningkatan kualitas hubungan dalam keluarga yang dilaporkan melalui 5.000 responden sampel rumah tangga.

Data Fatherless dan Dampak Sistemik

Berdasarkan data Susenas 2024 yang diolah Kementerian PPPA, terdapat 5,2 juta rumah tangga dengan anak berusia di bawah 18 tahun di mana ayah tidak tinggal serumah. Dari jumlah tersebut, 62 persen bercerai, 27 persen bekerja di luar kota atau luar negeri, dan 11 persen meninggal dunia. Namun, studi kualitatif yang dilakukan kementerian menemukan bahwa bahkan di rumah tangga yang utuh, keterlibatan ayah dalam pengasuhan harian rata-rata hanya 1,8 jam per hari, jauh di bawah ibu yang mencapai 5,4 jam.

Akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., yang hadir sebagai pembicara kunci, memaparkan bahwa ketiadaan figur ayah memiliki korelasi signifikan dengan peningkatan risiko depresi, prestasi akademik rendah, dan perilaku berisiko pada remaja. "Penelitian kami selama 10 tahun terakhir membuktikan bahwa anak yang memiliki komunikasi rutin dengan ayah memiliki tingkat resiliensi 43 persen lebih tinggi dibanding anak yang minim interaksi. GAMAS bisa menjadi terobosan jika implementasinya konsisten," tuturnya.

Sinergi Antar Kementerian dan Daerah

Peluncuran GAMAS juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Agama. Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Sosial dan Penguatan Karakter, Budi Santoso, menyatakan pihaknya akan mengintegrasikan materi peran ayah ke dalam program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mulai semester genap 2025. "Kami akan memasukkan modul 'Ayah Sahabatku' ke dalam 10 tema projek. Sekolah juga akan mengadakan Hari Keterlibatan Ayah setiap tanggal 12 setiap bulan," jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan melalui Direktur Kesehatan Jiwa, dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.KJ., berkomitmen menyediakan layanan konseling ayah melalui 9.800 puskesmas yang telah memiliki unit kesehatan jiwa. "Kami mendata, 23 persen ayah muda berusia 25–35 tahun mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan yang berdampak pada pola asuh. GAMAS harus terhubung dengan layanan ini," ujarnya.

Dari unsur daerah, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang hadir secara virtual, menyatakan bahwa Pemprov Jatim telah siap menjalankan GAMAS di 38 kabupaten/kota dengan mengintegrasikan program ke dalam Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). "Kami akan bentuk satgas kecil di setiap desa yang memantau langsung tingkat keterlibatan ayah melalui grup WhatsApp desa dan laporan bulanan ke kecamatan," pungkasnya.

Mendukbangga menutup acara dengan menandatangani Pakta Integritas Peran Ayah bersama 10 perwakilan ayah dari berbagai latar belakang profesi. "Kami menargetkan dalam dua tahun, angka fatherless di Indonesia bisa turun minimal 15 persen melalui GAMAS. Ini bukan tugas pemerintah semata, melainkan kerja bersama seluruh elemen bangsa," tegas Arifatul Choiri Fauzi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User