Layanan Mobile Screening Dorong Percepatan Deteksi HIV di Batam
Pemerintah Kota Batam mengintensifkan deteksi dini infeksi HIV melalui strategi pemeriksaan keliling atau mobile screening yang menjangkau langsung permukiman warga, kawasan industri, dan komunitas re...
Pemerintah Kota Batam mengintensifkan deteksi dini infeksi HIV melalui strategi pemeriksaan keliling atau mobile screening yang menjangkau langsung permukiman warga, kawasan industri, dan komunitas rentan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menurunkan angka penularan baru sekaligus memperluas cakupan terapi antiretroviral (ARV) bagi mereka yang membutuhkan.
Capaian Skrining dan Deteksi Kasus HIV
Sepanjang tahun 2024, Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat total 15.060 orang mengikuti uji saring HIV. Dari pemeriksaan itu, sebanyak 822 orang dinyatakan positif, atau sekitar 5,46 persen dari seluruh peserta skrining. Angka partisipasi ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menyentuh sekitar 10.000 orang. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Melati Suryani, menyampaikan bahwa peningkatan jumlah tes tidak lepas dari masifnya operasi mobile screening di titik-titik strategis.
"Kami menargetkan setiap warga berisiko bisa mengakses layanan tes tanpa hambatan. Unit mobile screening kami operasikan di pusat keramaian, terminal, pasar, hingga kawasan hiburan malam, sehingga mereka yang enggan ke fasilitas kesehatan tetap bisa memeriksakan diri," ujar dr. Melati, Jumat (11/4).
Data juga menunjukkan bahwa sebanyak 2.340 orang yang menjalani skrining berasal dari kalangan ibu rumah tangga, sementara 4.100 lainnya merupakan pekerja sektor industri. Temuan positif pada dua kelompok tersebut menjadi atensi serius karena menunjukkan pergeseran pola penularan ke populasi umum, tidak hanya terkonsentrasi pada komunitas kunci.
Mobile Screening: Ujung Tombak Deteksi Dini
Program mobile screening yang digulirkan sejak awal 2024 menggunakan dua unit kendaraan laboratorium mini yang dilengkapi alat uji cepat dan tes konfirmasi berbasis molecular rapid test. Setiap unit mampu melayani hingga 150 orang per hari dan didampingi oleh konselor terlatih yang memberikan edukasi serta pendampingan psikososial. Pendekatan ini dinilai efektif mengikis stigma sekaligus memperpendek jarak antara populasi berisiko dengan layanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Dr. Hadi Sucipto, M.Kes., menegaskan bahwa deteksi dini adalah kunci memutus rantai penularan. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, semakin cepat pula ia memperoleh terapi ARV yang dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi.
"Undetectable equals untransmittable. Prinsip itulah yang mendorong kami mengejar target 95-95-95, yaitu 95 persen ODHA mengetahui statusnya, 95 persen menjalani terapi, dan 95 persen mencapai supresi viral," kata Dr. Hadi.
Unit mobile juga menyasar area perkantoran dan kawasan pergudangan yang banyak mempekerjakan pekerja migran berisiko tinggi. Dalam operasi selama triwulan pertama 2024 saja, layanan ini berhasil menjaring 3.700 peserta tes di 14 lokasi berbeda, dengan temuan 210 kasus reaktif. Seluruh kasus reaktif langsung dirujuk ke puskesmas dan rumah sakit untuk tes konfirmasi serta inisiasi pengobatan.
Strategi Penanganan dan Target Nol Infeksi Baru 2030
Pemerintah kota tidak hanya berfokus pada deteksi, tetapi juga memperkuat sistem rujukan dan ketersediaan obat. Dinas Kesehatan Batam telah menambah stok ARV untuk 2.000 pasien baru sepanjang 2025 dan memperluas jam layanan konseling di seluruh puskesmas. Selain itu, nota kesepahaman dengan 12 perusahaan kawasan industri mewajibkan pemeriksaan kesehatan berkala termasuk skrining HIV bagi seluruh pekerja.
Kota Batam sendiri menargetkan eliminasi penularan HIV pada tahun 2030 sejalan dengan komitmen global Fast-Track Cities. Dengan beban kumulatif ODHA yang mencapai lebih dari 6.800 orang hingga akhir 2024, dibutuhkan kerja kolaboratif lintas sektor untuk mengatasi hambatan struktural seperti stigma dan diskriminasi di tempat kerja.
"Kami tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan dunia usaha, tokoh agama, dan komunitas sangat krusial agar tidak ada lagi warga yang terlambat didiagnosis. Mobile screening akan terus kami perluas hingga menjangkau pulau-pulau penyangga," tegas Dr. Hadi.
Sebagai bagian dari penguatan sistem, Dinas Kesehatan juga menggandeng LSM lokal untuk pelacakan kontak erat dan pendampingan pasien. Tahun ini, 30 kader komunitas dilatih agar mampu melakukan tes cepat berbasis air liur yang lebih akseptabel. Langkah ini diharapkan mendongkrak jumlah orang yang bersedia dites tanpa rasa takut akan cap negatif.
Evaluasi terhadap program mobile screening akan dilakukan setiap semester untuk mengukur dampaknya terhadap prevalensi dan laju infeksi baru. Data awal menunjukkan bahwa 75 persen kasus positif yang terdeteksi melalui layanan ini langsung memulai terapi dalam kurun tujuh hari setelah diagnosis, melampaui capaian sebelumnya yang hanya 55 persen pada tahun 2023.
Dengan kombinasi deteksi masif, terapi dini, dan edukasi berkelanjutan, Batam berharap dapat menekan angka kejadian baru hingga di bawah satu per seribu penduduk pada tahun 2027, sekaligus menjadi model bagi kota industri lain di Indonesia dalam penanganan HIV berbasis komunitas.
Baca juga:
Comments (0)