FIFA Serius Bahas Perluasan Piala Dunia ke 64 Negara

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi akan memasukkan wacana penambahan jumlah kontestan Piala Dunia putra menjadi 64 tim ke dalam agenda pembahasan tingkat tinggi. Keputusan ini disam...

Jul 13, 2026 - 18:08
0 0

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi akan memasukkan wacana penambahan jumlah kontestan Piala Dunia putra menjadi 64 tim ke dalam agenda pembahasan tingkat tinggi. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino dalam sebuah konferensi pers di Zurich, Swiss, Senin (22/7). Infantino menegaskan bahwa setiap asosiasi anggota—yang kini berjumlah 211 negara—berhak memendam ambisi untuk tampil di panggung paling prestisius di dunia. “Kami percaya bahwa setiap negeri harus punya mimpi. Tidak boleh ada satu pun federasi yang merasa pintu Piala Dunia tertutup bagi mereka,” ujar Infantino menanggapi pertanyaan media.

Pernyataan tersebut menandai pergeseran signifikan dari sikap FIFA pasca pengesahan format 48 tim yang akan berlaku mulai edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hanya berselang kurang dari setahun sejak Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, yang mengukuhkan format baru itu, kini organisasi pimpinan Infantino sudah bersiap mempelajari kemungkinan ekspansi lebih jauh. Wacana 64 tim, yang semula hanya bergulir di sela-sela lobi politik antarnegara, akan diangkat sebagai mata acara resmi dalam Rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada kuartal pertama 2025.

Panggilan dari Seluruh Penjuru Dunia

Dorongan untuk memperbesar turnamen bukanlah isapan jempol semata. Dalam sejumlah pertemuan tertutup yang digelar di sela-sela Kongres FIFA di Bangkok, Thailand, awal tahun ini, perwakilan dari konfederasi Asia (AFC) dan Afrika (CAF) secara berulang menyuarakan perlunya kuota yang lebih representatif. Ketua Komite Kompetisi FIFA, Aleksander Čeferin, dalam laporan internal yang bocor ke publik menyebutkan bahwa tiga dari lima konfederasi menyatakan minat untuk mengkaji ulang komposisi peserta. “Anggota kami menginginkan lebih dari sekadar janji. Mereka ingin peluang nyata,” kata Čeferin sebagaimana dikutip dalam notulensi rapat.

Infantino pun mengakui tekanan tersebut. Menurutnya, FIFA sedang mempelajari model kompetisi yang mampu mengakomodasi 64 tim tanpa mengorbankan kualitas dan kelangsungan kalender internasional. Salah satu opsi yang tengah dijajaki adalah mengadopsi sistem fase grup yang lebih ringkas—seperti format 16 grup berisi masing-masing empat tim—dengan babak gugur dimulai dari 32 besar. “Kami harus kreatif. Yang penting, struktur ini tidak menambah beban berlebihan bagi pemain, klub, dan liga domestik,” tuturnya. Ia merujuk pada evaluasi medis yang menunjukkan peningkatan risiko cedera akibat akumulasi jadwal yang kian padat.

Data dan Dasar Hukum yang Melandasi

Secara legal, wewenang FIFA untuk mengubah jumlah peserta final terletak pada Kongres sebagai badan legislatif tertinggi. Pasal 30 Statuta FIFA mengamanatkan bahwa setiap amandemen terhadap format kompetisi utama harus mendapatkan persetujuan dua per tiga suara dari anggota yang hadir. Artinya, usulan 64 tim memerlukan dukungan setidaknya 140 federasi apabila kuorum terpenuhi. Sejauh ini, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström melaporkan bahwa sudah ada 112 asosiasi yang secara tertulis mendukung pengkajian lebih lanjut. “Angka ini terus bertambah setiap hari,” ujar Grafström saat ditemui di sela Simposium Sepak Bola Global di Paris, awal Juli lalu.

Dari sisi historis, Piala Dunia belum pernah menyentuh angka 64 peserta. Turnamen edisi perdana 1930 di Uruguay hanya diikuti 13 tim. Jumlah ini bertahan dua digit hingga edisi 1978 di Argentina, lalu naik menjadi 24 tim pada 1982, dan 32 tim sejak 1998 di Prancis. Lonjakan ke 48 tim pada 2026 sebetulnya sudah memecahkan rekor. Namun, Infantino berkukuh bahwa rekor hanyalah soal waktu. “Ketika saya pertama kali mengusulkan 48 tim, banyak yang meragukan. Sekarang format itu sudah disahkan. Jadi, saya tidak akan menutup mata jika mayoritas anggota menginginkan 64,” tegasnya.

Respons Politik dan Potensi Gesekan

Wacana ini tidak lepas dari manuver politik global. Sejumlah negara Amerika Selatan dan Eropa dikabarkan masih menyimpan resistensi karena khawatir ekspansi bakal mendilusi mutu kompetisi. Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) Bernd Neuendorf, dalam sebuah wawancara dengan harian Kicker, menyebut ide itu “berlebihan” dan mengingatkan pentingnya menjaga integritas olahraga. Meski begitu, Neuendorf mengakui bahwa suara Eropa dan Amerika Selatan kian tergerus oleh blok Asia dan Afrika yang memiliki jumlah anggota jauh lebih besar. Di Kongres FIFA, satu negara satu suara, sehingga aliansi politik antarnegara berkembang bisa menjadi penentu.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga menyambut positif rencana tersebut. Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Sudirman, dalam keterangan tertulis di Jakarta mengatakan bahwa Indonesia akan mendukung penuh inisiatif apa pun yang membuka akses lebih luas bagi negara-negara berkembang. “Ini sejalan dengan cita-cita kami untuk membangun ekosistem sepak bola nasional yang kompetitif,” ujarnya. Indonesia sendiri belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia sejak kemerdekaan, hanya sekali tampil dalam ajang Olimpiade Melbourne 1956 dengan nama Hindia Belanda.

Tahapan dan Kemungkinan Implementasi

Rapat Dewan FIFA pada awal 2025 akan menjadi pintu pertama, bukan putusan akhir. Jika dewan menyepakati kajian, maka panitia khusus akan dibentuk untuk merancang proposal detail, termasuk simulasi anggaran, pembagian kuota per konfederasi, serta skema tuan rumah. Dokumen tersebut lantas dibawa ke Kongres FIFA tahun 2026 untuk pemungutan suara. Dengan demikian, kemungkinan besar format 64 tim baru bisa diterapkan pada Piala Dunia 2030 atau 2034—tergantung kesiapan negara penyelenggara. Arab Saudi, yang menjadi kandidat kuat tuan rumah 2034, sudah menyatakan komitmennya untuk menggelar turnamen dengan 64 tim andai permintaan disetujui.

Infantino menutup pidatonya dengan kalimat yang menggemakan jargon “sepak bola milik semua orang.” “Kita bukan lagi hidup di era di mana hanya sedikit negara yang boleh bermimpi. FIFA akan memastikan bahwa panggung Piala Dunia adalah cermin dari planet ini—beragam, inklusif, dan tanpa batas,” katanya. Apakah mimpi itu akan terwujud, hanya waktu dan meja perundingan yang bisa menjawab.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User