Kolaborasi Gotong Royong Bangun Infrastruktur di Kampung Ciguntur

Kampung Ciguntur, 15 Juli 2025 — Akses penghubung antardusun dan saluran irigasi baru kini telah rampung dikerjakan di Kampung Ciguntur, hasil dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL...

Jul 13, 2026 - 18:20
0 0

Kampung Ciguntur, 15 Juli 2025 — Akses penghubung antardusun dan saluran irigasi baru kini telah rampung dikerjakan di Kampung Ciguntur, hasil dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang digagas oleh PT Daya Mas Geopatra Pangrango. Pembangunan fasilitas publik ini tidak semata-mata menjadi proyek fisik korporasi, melainkan bertransformasi menjadi gerakan kolektif warga yang bahu-membahu dalam setiap tahapan pengerjaan.

Kepala Desa setempat, Hidayat Nurul, menyatakan bahwa pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam proyek ini telah membangkitkan kembali semangat keswadayaan masyarakat yang selama satu dekade terakhir mulai pudar. "Kami tidak hanya menerima bantuan, tetapi terlibat langsung dalam menentukan prioritas kebutuhan, menyusun rencana kerja, hingga mengangkat cangkul dan mengaduk semen bersama-sama. Inilah model pembangunan desa yang sejatinya kami butuhkan," tegas Hidayat di sela peninjauan akhir proyek.

Bukaan Akses Jalan dan Perbaikan Tata Air

Infrastruktur yang diselesaikan meliputi pembetonan jalan desa sepanjang 850 meter dengan lebar 3 meter yang menghubungkan dua rukun warga yang sebelumnya hanya terhubung oleh jalan tanah berbatu. Pada musim penghujan, jalur tersebut kerap tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga distribusi hasil pertanian warga terganggu. Selain jalan, satu unit jembatan kecil dengan konstruksi baja dan lantai cor sepanjang 12 meter juga dibangun melintasi anak sungai Ciguntur.

Direktur Utama PT Daya Mas Geopatra Pangrango, Dwi Anggoro, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa pemilihan fokus pada konektivitas jalan dan tata air ini merupakan hasil dari serangkaian Musyawarah Rencana Aksi Desa (Musrenbangdes) yang difasilitasi perusahaan bersama pemerintah desa pada triwulan pertama 2025. "Kami mendengar langsung keluhan petani dan orang tua yang anak-anaknya harus menempuh jalur berbahaya saat berangkat sekolah. Dari situ, prioritas kami tetapkan: akses jalan yang layak dan irigasi yang sehat," ujar Dwi.

Untuk sektor pengairan, dilakukan normalisasi saluran irigasi tersier sepanjang 400 meter yang mengairi kurang lebih 22 hektare lahan persawahan milik warga Kampung Ciguntur. Dinding penahan tanah dari pasangan batu kali juga dikerjakan di titik rawan longsor yang selama ini menyebabkan sedimentasi tinggi di saluran. Data dari Kelompok Tani Sumber Rejeki menyebutkan, sebelum normalisasi, debit air yang sampai ke sawah terjauh hanya berkisar 30 persen dari kapasitas pintu air utama. Kini, dengan saluran yang telah diperkeras dan dibersihkan dari sampah kiriman, efisiensi distribusi air mencapai 80 persen.

Model Partisipasi: Warga Bukan Sekadar Buruh

Menariknya, keterlibatan warga dalam pembangunan ini tidak bersifat kontraktual sebagai pekerja harian lepas, melainkan berbasis sukarela dengan sistem pengorganisasian mandiri. Tokoh pemuda setempat, Rizky Fauzan, menuturkan bahwa setiap RT diberi tanggung jawab menyuplai tenaga kerja bergilir selama masa konstruksi. "Kami buat jadwal piket per RT. Bapak-bapak yang biasa bertani, setelah subuh ke sawah sebentar, lalu pukul delapan sudah kumpul di titik kerja sambil bawa peralatan sendiri. Perusahaan menyediakan material dan satu orang mandor teknis, selebihnya kami yang mengerjakan," jelas Rizky.

Pola kerja seperti ini secara signifikan menekan biaya konstruksi dan mempercepat waktu pengerjaan. Proyek yang semula ditargetkan selesai dalam 75 hari kalender, berhasil dipercepat menjadi 58 hari. Kelebihan dana dari efisiensi tersebut, berdasarkan kesepakatan dalam Rapat Koordinasi antara perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan perwakilan perusahaan, dialokasikan untuk penambahan lampu penerangan jalan tenaga surya di 10 titik strategis yang sebelumnya tidak masuk dalam rancangan awal.

Pengamat pembangunan pedesaan dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Siti Aminah, menilai bahwa skema yang diterapkan di Kampung Ciguntur ini bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain di kawasan penyangga taman nasional. "Ketika komunitas lokal diposisikan sebagai subyek, bukan obyek, maka rasa kepemilikan terhadap infrastruktur akan sangat tinggi. Ini kunci keberlanjutan. Mereka tidak akan membiarkan jalan rusak atau saluran tersumbat karena mereka yang membangun dengan keringat sendiri," ungkap Siti Aminah saat dihubungi terpisah.

Komitmen Keberlanjutan dan Pemeliharaan

PT Daya Mas Geopatra Pangrango, yang bergerak di sektor pariwisata dan pengelolaan kawasan konservasi, menegaskan bahwa program ini bukanlah agenda karitatif sesaat. Dalam Rapat Pleno evaluasi yang digelar di Balai Desa pada 10 Juli 2025, manajemen perusahaan menandatangani Berita Acara Serah Terima Aset sekaligus Pakta Integritas Pemeliharaan bersama BPD dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD). Dokumen tersebut mengikat komitmen warga untuk membentuk Tim Pemantau Infrastruktur Desa yang akan melakukan inspeksi rutin dua bulan sekali dan melaporkan kondisi jalan serta irigasi kepada pemerintah desa.

Sekretaris Desa, Fatimah Rahmawati, menyampaikan bahwa telah diterbitkan Peraturan Desa Nomor 04 Tahun 2025 tentang Pedoman Pemeliharaan Infrastruktur Partisipatif. "Ini landasan hukumnya di tingkat desa. Jadi, kalau ada kerusakan kecil, tidak perlu menunggu bantuan turun. Dana desa sudah kami sisihkan untuk perawatan, dan warganya sudah terlatih. Mereka tahu campuran semen yang pas, mereka tahu cara meninggikan tanggul," kata Fatimah.

Ke depan, korporasi berencana memperluas pendekatan serupa ke kampung-kampung lain yang berada di lingkar penyangga kawasan kerja perusahaan. Dwi Anggoro memastikan bahwa pihaknya akan terus menempatkan musyawarah desa sebagai pintu masuk utama setiap program TJSL yang akan digulirkan, agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program pemerintah dan benar-benar menjawab kebutuhan paling mendasar warga.

Dengan tuntasnya pembangunan fisik ini, warga Kampung Ciguntur kini tidak hanya memiliki konektivitas yang lebih baik untuk mobilitas dan distribusi hasil bumi, tetapi juga memiliki kembali ikatan sosial dan rasa percaya diri sebagai komunitas yang mampu merancang dan membangun masa depannya sendiri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User