Pertemuan Sudaryono dan Taj Yasin di Sarang Buka Peluang Politik
JAKARTA — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Jawa Tengah, Sudaryono, melakukan pertemuan tertutup dengan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023, Taj Yasin Maimoen, di komplek...
JAKARTA — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Jawa Tengah, Sudaryono, melakukan pertemuan tertutup dengan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023, Taj Yasin Maimoen, di kompleks Pondok Pesantren Al Anwar IV, Sarang, Kabupaten Rembang, pada Senin malam. Pertemuan yang berlangsung selama hampir tiga jam tersebut menjadi sinyal menguatnya komunikasi politik antara dua figur potensial menjelang kontestasi Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah 2024.
Silaturahmi Strategis di Sarang
Berdasarkan informasi yang dihimpun Apaberita, pertemuan dimulai pukul 20.00 WIB di kediaman pribadi Taj Yasin yang berada di lingkungan pondok pesantren asuhan keluarga besar Maimoen tersebut. Sudaryono tiba dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang didampingi oleh dua orang staf pribadi, sementara Taj Yasin menyambut langsung di pintu utama kediaman dengan mengenakan sarung dan baju koko khas santri. Keduanya kemudian melanjutkan diskusi di ruang tamu utama yang tertutup dari akses awak media.
Sejumlah kader Partai Gerindra Jawa Tengah yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan adanya agenda silaturahmi politik tersebut. Wakil Sekretaris DPD Gerindra Jawa Tengah, Arif Budi Santoso, menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari konsolidasi politik yang dilakukan oleh Sudaryono untuk menjalin komunikasi dengan berbagai tokoh strategis di provinsi tersebut. "Mas Daryono secara rutin melakukan silaturahmi dengan para tokoh, termasuk ke pesantren-pesantren. Ini bagian dari upaya menjaga hubungan baik," ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa pagi.
Respons Pragmatis terhadap Peluang Koalisi
Dalam pertemuan tersebut, Sudaryono dikabarkan menyampaikan respons pragmatis terhadap potensi kerja sama politik yang dapat terbangun antara Partai Gerindra dan jaringan politik berbasis Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah. Sumber internal di lingkungan Gerindra yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Sudaryono menyampaikan pernyataan terbuka mengenai peluang jalur politik yang tersedia. "Intinya, kalau ada jalannya, why not? Semua kemungkinan harus dipertimbangkan secara matang," ujar sumber tersebut menirukan pernyataan Sudaryono.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Sudaryono dalam wawancara terbatas seusai pertemuan. "Kami berdiskusi banyak hal, mulai dari kondisi sosial masyarakat Jawa Tengah hingga dinamika politik terkini. Saya menegaskan bahwa komunikasi politik dengan siapa pun harus dibuka seluas-luasnya, sepanjang untuk kemaslahatan masyarakat. Tidak ada yang perlu dihalangi. Kalau ada jalannya, kenapa harus ditutup? Tinggal bagaimana kita menyamakan visi dan platform perjuangan," tegasnya.
Posisi Taj Yasin dan Jaringan Pesantren
Taj Yasin Maimoen, yang merupakan putra dari ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair, dikenal memiliki basis dukungan kuat di kalangan pondok pesantren dan komunitas NU di sepanjang jalur Pantura. Pada pemilihan gubernur 2018, ia mendampingi Ganjar Pranowo dan berhasil meraih 58 persen suara di basis-basis pesantren. Jaringan ini dinilai sebagai modal politik signifikan yang terus diperhitungkan oleh berbagai partai jelang Pilkada Jawa Tengah 2024.
Taj Yasin sendiri menanggapi pertemuan tersebut dengan menekankan pentingnya menjaga komunikasi antartokoh. "Politik itu alat untuk berkhidmat. Siapa pun yang datang untuk berdiskusi tentang Jawa Tengah, tentu kami sambut dengan terbuka. Tidak ada pembicaraan spesifik soal tiket, yang ada adalah bagaimana membangun pemahaman bersama tentang masa depan provinsi ini," ujarnya singkat.
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Dr. Teguh Yuwono, menilai pertemuan di Sarang ini memiliki bobot politik yang substansial. Ia menggarisbawahi bahwa figur Sudaryono dan Taj Yasin mewakili dua kutub kekuatan politik yang dapat saling melengkapi: jaringan partai berbasis nasionalis di satu sisi dan jaringan kultural berbasis pesantren di sisi lainnya. "Jika ini mengerucut pada koalisi yang lebih konkret, dampaknya akan sangat signifikan terhadap konstelasi Pilkada Jawa Tengah. Keduanya merepresentasikan segmen pemilih yang berbeda, dan justru di situlah potensi saling mengisi itu muncul," kata Teguh.
Dinamika Internal Partai dan Target Pilkada
Sudaryono saat ini tengah menjalani proses pengenalan diri secara masif di berbagai wilayah Jawa Tengah. Ia tercatat telah mengunjungi 29 dari 35 kabupaten/kota dalam enam bulan terakhir. Selain menjadi Ketua DPD Gerindra, ia juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah dan dikenal dekat dengan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Kedekatan ini diyakini menjadi salah satu faktor penguat posisi tawarnya dalam bursa calon gubernur dari Partai Gerindra.
DPP Partai Gerindra hingga saat ini belum mengeluarkan surat rekomendasi resmi untuk calon gubernur di Jawa Tengah. Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, dalam beberapa kesempatan menekankan bahwa seluruh keputusan strategis terkait pilkada akan diputuskan melalui mekanisme partai yang terukur. "Semua nama akan kami kaji, kami lihat elektabilitas dan kapabilitasnya. Keputusan ada di tingkat pusat berdasarkan masukan dari daerah," ujar Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Partai Gerindra bulan lalu.
Di sisi lain, Taj Yasin Maimoen juga belum secara tegas menyatakan langkah politiknya untuk Pilkada Jawa Tengah 2024. Ia masih terdaftar sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai yang saat ini tengah menghadapi dinamika internal. Kendati demikian, sejumlah survei independen menempatkan namanya sebagai salah satu tokoh dengan tingkat pengenalan tertinggi di Jawa Tengah, terutama di wilayah eks Karesidenan Pati, Surakarta, dan Semarang.
Potensi Koalisi dan Tantangan Elektoral
Peta koalisi Pilkada Jawa Tengah diperkirakan akan semakin cair mengingat tidak ada partai yang dapat mengusung calon secara mandiri. Partai Gerindra yang memiliki 15 kursi di DPRD Jawa Tengah memerlukan setidaknya 13 kursi tambahan untuk memenuhi syarat pencalonan. Sementara itu, PPP memiliki 9 kursi, dan sedang membuka komunikasi dengan berbagai pihak.
Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah, Edi Santosa, menambahkan bahwa partainya terus mengintensifkan komunikasi dengan partai-partai di luar Koalisi Indonesia Maju, termasuk PPP, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai NasDem. "Kami tidak membatasi diri. Semua yang memiliki komitmen untuk membangun Jawa Tengah akan kami rangkul. Mekanisme koalisi ini akan kami putuskan secara kolektif," ujarnya dalam keterangan pers di Kantor DPD Gerindra Jawa Tengah, Semarang.
Pertemuan di Sarang ini diyakini bukanlah yang terakhir. Kedua belah pihak menyepakati untuk melanjutkan diskusi dalam forum yang lebih formal dengan melibatkan tim teknis masing-masing. "Kami akan menyusun agenda lanjutan. Yang penting fondasi komunikasinya sudah terbangun dengan baik. Soal format dan bentuk kerja sama, itu akan kami matangkan secara bertahap," tutup Sudaryono.
Comments (0)