Percaya Diri Kunci Generasi Muda Lestarikan Kebaya
Jakarta, Apaberita – Penata busana senior Hagai Pakan menegaskan bahwa rasa percaya diri menjadi fondasi utama bagi generasi muda untuk mulai mengenakan kebaya sebagai busana sehari-hari. Pernyataan...
Jakarta, Apaberita – Penata busana senior Hagai Pakan menegaskan bahwa rasa percaya diri menjadi fondasi utama bagi generasi muda untuk mulai mengenakan kebaya sebagai busana sehari-hari. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara diskusi budaya bertajuk "Kebaya dan Identitas Bangsa" yang digelar di Pusat Kesenian Jakarta, Senin (10/3). Menurut Hagai, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan simbol kebanggaan nasional yang perlu dilestarikan melalui partisipasi aktif generasi muda.
"Rasa percaya diri adalah kunci. Tanpa itu, generasi muda akan merasa asing dan enggan mengenakan kebaya di ruang publik. Padahal, kebaya memiliki nilai estetika dan filosofi yang kuat," ujar Hagai dalam sesi tanya jawab. Ia menambahkan bahwa eksperimen dengan kebaya, seperti memadukannya dengan aksesori modern, dapat menjadi langkah awal untuk menghilangkan kesan kaku pada busana tradisional.
Diskusi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta sejumlah desainer muda itu juga menyoroti peran institusi pendidikan dalam menanamkan rasa bangga terhadap kebaya. Kepala Biro Kebudayaan Kemendikbud, Dr. Ratna Dewi, dalam kesempatan yang sama menyatakan, "Pemerintah tengah menyusun kurikulum muatan lokal yang mewajibkan siswa mengenakan kebaya pada hari tertentu. Ini diharapkan mampu membangun kebiasaan sejak dini."
Kebaya Sebagai Identitas Budaya
Kebaya telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tahun 2023. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pengguna kebaya di kalangan remaja usia 15–24 tahun baru mencapai 12 persen dari total populasi. Angka tersebut dinilai masih rendah sehingga perlu adanya dorongan lebih lanjut. "Kami menargetkan peningkatan partisipasi generasi muda sebesar 25 persen dalam lima tahun ke depan melalui program 'Kebaya untuk Semua'," jelas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, dalam rapat koordinasi di kantornya, Selasa (11/3).
Rapat koordinasi tersebut menindaklanjuti keputusan presiden tentang penguatan identitas budaya nasional. Dalam pleno yang digelar pekan lalu, seluruh fraksi di DPR menyepakati perlunya insentif bagi perajin kebaya dan kampanye masif melalui media sosial. Fraksi Partai Golkar, melalui juru bicaranya, menyatakan bahwa kebaya harus dipromosikan sebagai busana resmi di acara-acara kenegaraan nonformal.
Generasi Muda dan Eksperimen Kebaya
Hagai Pakan, yang juga dikenal sebagai penata busana film "Jalan Pulang", menekankan bahwa eksperimen gaya merupakan cara efektif untuk menarik minat anak muda. "Kebaya bisa dipadukan dengan jeans, sneakers, atau aksesori kontemporer. Yang penting adalah rasa percaya diri pemakainya," katanya. Ia mencontohkan tren "kebaya modern" yang mulai populer di kalangan selebritas dan influencer. Data dari platform e-commerce menunjukkan peningkatan penjualan kebaya sebesar 40 persen pada kuartal pertama tahun ini, dengan mayoritas pembeli adalah perempuan berusia 18–25 tahun.
Namun, Hagai mengingatkan bahwa eksperimen tidak boleh menghilangkan esensi kebaya. "Nilai tradisi harus tetap dijaga. Jangan sampai modifikasi justru mengaburkan makna filosofis dari setiap detail kebaya," ujarnya. Diskusi juga menyoroti peran desainer muda dalam menciptakan inovasi tanpa meninggalkan akar budaya. Beberapa desainer yang hadir memamerkan koleksi kebaya dengan potongan asimetris dan bahan ramah lingkungan.
Dukungan Pemerintah dan Industri
Kementerian Perindustrian, melalui Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Reni Yanita, mengumumkan program pelatihan gratis bagi perajin kebaya di 10 kota. "Kami akan memberikan bantuan mesin jahit dan akses ke pasar digital. Target kami adalah 5.000 perajin baru pada tahun depan," kata Reni dalam siaran pers, Rabu (12/3). Program ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional bidang ekonomi kreatif.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Kebaya Indonesia (APKI) mencatat bahwa ekspor kebaya ke Jepang dan Korea Selatan meningkat 15 persen pada 2024. Ketua APKI, Sari Murni, menyatakan bahwa permintaan dari luar negeri didorong oleh tren busana etnik. "Kami optimistis kebaya bisa menjadi ikon fesyen global, asalkan generasi muda Indonesia sendiri bangga mengenakannya," ujarnya.
Penutup
Hagai Pakan menutup diskusi dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung gerakan berkebaya. "Jangan ragu. Mulailah dari hal kecil, seperti mengenakan kebaya saat acara keluarga atau kampus. Dengan begitu, kebaya akan kembali hidup dan menjadi bagian dari identitas kita sehari-hari," pungkasnya. Pemerintah pun berkomitmen untuk terus mengkampanyekan kebaya melalui berbagai kebijakan dan program, seiring dengan upaya memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Comments (0)