Pendinginan TPA Jatiwaringin Terus Berlanjut Usai Kebakaran Dipadamkan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, melanjutkan proses pendinginan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Senin (6/10/2025). Operasi ini digelar beberap...
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, melanjutkan proses pendinginan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Senin (6/10/2025). Operasi ini digelar beberapa jam setelah tim pemadam berhasil menuntaskan penanganan titik api yang sempat meluas sejak akhir pekan lalu. Langkah cooling down diambil untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang dapat kembali memicu kebakaran lanjutan di gunungan sampah yang menggunung hingga ketinggian lebih dari 15 meter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ade Ary Syahriana, menyatakan bahwa penyemprotan air difokuskan pada delapan zona bekas titik api yang teridentifikasi melalui pemantauan citra termal. “Kami mengerahkan empat unit tangki air berkapasitas 5.000 liter serta 45 personel gabungan untuk membasahi lapisan sampah secara berulang. Proses ini mutlak dilakukan karena suhu inti di beberapa titik masih tercatat di atas 80 derajat Celsius,” ujarnya di lokasi.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali dilaporkan pada Kamis (2/10/2025) pukul 23.45 WIB. Api dengan cepat merambat akibat dorongan angin kencang dan akumulasi gas metana dari tumpukan material organik. Data sementara dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang mencatat luas area terdampak mencapai 2,7 hektare atau sekitar 15 persen dari total zona pembuangan aktif. Tidak ada korban jiwa, namun sedikitnya 12 rumah warga di sisi timur TPA mengalami kerusakan ringan pada bagian atap akibat paparan panas radiasi.
Penyisiran Titik Api dan Mitigasi Gas Metana
Fokus utama operasi pendinginan adalah memutus potensi re-ignition yang lazim terjadi di area perbukitan sampah. Gas metana yang terperangkap dalam rongga tumpukan, apabila bertemu dengan bara kecil sekalipun, dapat memicu kobaran baru dalam waktu singkat. Tim BPBD dan Pemadam Kebakaran terus menyisir celah-celah sampah yang masih mengeluarkan asap putih tipis. Proses penyisiran dibantu oleh alat bor biopori modifikasi untuk menginjeksikan air langsung ke lapisan dalam.
“Kami tidak ingin kecolongan. Pengalaman kebakaran TPA di daerah lain menunjukkan bahwa pendinginan setengah hati hanya akan melahirkan kebakaran susulan yang lebih sulit dikendalikan,” tegas Ade Ary. Ia menambahkan, stok air untuk pendinginan disuplai dari dua sumber utama: hidran milik PDAM dan embung darurat yang dibangun di sisi selatan TPA. Sebanyak 120.000 liter air telah dihabiskan sejak Sabtu pagi hingga Senin siang.
Kolaborasi Lintas Instansi dan Penanganan Dampak
Operasi pendinginan melibatkan sinergi antara BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, DLHK, Polres Kota Tangerang Selatan, dan Kodim 0506/Tangerang. Sebanyak tiga ekskavator dikerahkan untuk membuka lapisan sampah yang telah terbakar agar sisa bara lebih mudah dijangkau oleh semprotan air. Polisi turut mengamankan perimeter guna mencegah masuknya pemulung yang kerap beraktivitas di zona rawan longsoran sampah.
Dampak asap yang masih tersisa membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mendirikan posko kesehatan di Balai Warga Jatiwaringin. Warga yang mengeluhkan gangguan pernapasan ringan diberikan masker N95 dan layanan nebulizer gratis. “Kami mengimbau warga di tiga RW terdekat untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan selama dua hari ke depan,” kata Kepala Puskesmas Jatiwaringin, dr. Hani Susanti. Hingga Senin petang, 37 warga telah mengunjungi posko, namun tidak satu pun yang memerlukan perawatan intensif.
Evaluasi dan Rencana Pengelolaan Sampah Jangka Panjang
Momentum kebakaran ini kembali membuka diskusi tentang perlunya percepatan teknologi pengelolaan sampah di TPA Jatiwaringin. Wakil Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, yang meninjau lokasi pada Minggu malam, menyebut bahwa pemerintah daerah tengah menyiapkan proyek landfill gas recovery untuk menangkap gas metana dan mengubahnya menjadi sumber energi. “Proyek ini dijadwalkan mulai konstruksi pada triwulan pertama 2026. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan metode open dumping yang rentan kebakaran,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Tangerang akan terus melakukan pendinginan hingga Selasa (7/10/2025) dan mengevaluasi status tanggap darurat bencana kebakaran TPA. Jika dalam 48 jam ke depan tidak ditemukan lagi titik panas, maka status akan diturunkan dan area akan diserahkan kembali ke pengelola TPA untuk proses normalisasi. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah sembarangan di sekitar area selama masa pemulihan.
Baca juga:
Comments (0)