Pameran Arsip Ungkap Jejak Ali Sadikin Membangun Jakarta
Jakarta, 15 Oktober 2025 – Sebuah pameran arsip bertajuk “Bang Ali: Gubernur yang Mengubah Wajah Jakarta” resmi dibuka di Galeri Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat. Pameran ini men...
Jakarta, 15 Oktober 2025 – Sebuah pameran arsip bertajuk “Bang Ali: Gubernur yang Mengubah Wajah Jakarta” resmi dibuka di Galeri Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat. Pameran ini menghadirkan lebih dari 250 dokumen, foto, surat keputusan, dan rekaman video yang belum pernah dipajang sebelumnya, merangkai narasi kepemimpinan Ali Sadikin saat menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977. Penyelenggaraan pameran oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta bekerja sama dengan Arsip Nasional RI ini menandai 100 tahun kelahiran tokoh yang akrab disapa Bang Ali tersebut pada 7 Juli 1926 silam.
Merekam Modernisasi Ibu Kota
Memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut oleh foto hitam-putih berukuran besar yang memperlihatkan Ali Sadikin tengah meninjau proyek pembangunan Jalan MH Thamrin pada akhir 1960-an. Arsip-arsip itu merekam bagaimana Bang Ali mengubah Jakarta dari kota kolonial yang kumuh menjadi metropolis modern. Di antara dokumen kunci yang dipamerkan adalah Surat Keputusan Gubernur Nomor 1/1968 tentang Penataan Kawasan Monumen Nasional, yang menjadi cikal bakal pusat bisnis segitiga emas Sudirman-Thamrin-Kuningan. Sebuah peta tata ruang tahun 1972 yang menampilkan jalur hijau dan trotoar lebar di sepanjang Jalan Sudirman juga dipajang, memperlihatkan perencanaan kota yang saat itu sangat visioner.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Maria Losiana, menegaskan pentingnya pameran ini sebagai refleksi sejarah. “Arsip-arsip ini bukan sekadar kertas usang. Mereka adalah saksi bisu bagaimana seorang pemimpin dengan tangan besi dan hati penuh cinta merancang fondasi Jakarta yang kita huni sekarang. Melalui pameran ini, masyarakat bisa melihat langsung bukti otentik kebijakan-kebijakan Bang Ali,” ujarnya pada pembukaan pameran.
Proyek Kontroversial yang Kini Jadi Ikon
Bagian lain dari pameran menyoroti proyek-proyek yang menuai kontroversi di zamannya, namun kini menjadi ikon ibu kota. Sebuah album foto memperlihatkan pembangunan Taman Impian Jaya Ancol yang dimulai pada 1969. Arsip berupa laporan keuangan proyek dan surat protes dari kelompok masyarakat yang tergusur turut dipajang, menggambarkan betapa kebijakan itu tidak sepi dari perlawanan. Di sudut yang sama, rancangan awal Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian lengkap dengan sketsa tangan arsitek juga dipamerkan. Pengunjung dapat memindai kode batang yang tertera di panel untuk mendengarkan rekaman pidato Bang Ali saat meresmikan TIM pada 10 November 1968, di mana ia menyatakan, “Kesenian adalah napas kota. Tanpa itu, Jakarta hanya kumpulan beton.”
Sejarawan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bondan Kanumoyoso, yang menjadi kurator pameran, menjelaskan bahwa arsip-arsip itu sengaja dipilih untuk menunjukkan kompleksitas kepemimpinan Ali Sadikin. “Bang Ali bukan tokoh hitam-putih. Di satu sisi ia menutup lokalisasi dan memberantas kemaksiatan, di sisi lain ia melegalkan perjudian untuk mendanai pembangunan. Pameran ini menampilkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 194/1970 tentang Pemberian Izin Perjudian di beberapa tempat, lengkap dengan catatan perolehan pajaknya yang mencapai 30 persen dari pendapatan daerah saat itu. Ini dokumen yang sangat jarang dilihat publik,” ungkap Bondan.
Warisan Tata Kelola Pemerintahan
Selain proyek fisik, pameran ini juga mengupas sisi administratif kepemimpinan Bang Ali. Sebuah lemari kaca memajang buku-buku laporan pertanggungjawaban gubernur dari tahun 1967 hingga 1976, yang memperlihatkan bagaimana ia memperkenalkan sistem anggaran berbasis kinerja pertama di Indonesia. Dokumen Rapat Koordinasi Pembangunan Daerah pada 3 April 1973 menunjukkan proses penetapan Dana Alokasi Pembangunan Langsung kepada wali kota madya, yang dianggap sebagai embrio desentralisasi keuangan. Arsip pidato pelantikan Ali Sadikin pada 28 April 1966 yang diketik dengan mesin ketik tua juga dipajang, di mana ia menekankan bahwa “Jakarta harus menjadi rumah yang manusiawi bagi semua penduduknya, tanpa kecuali.”
Pameran ini juga menghadirkan arsip suara hasil digitalisasi dari koleksi Radio Republik Indonesia, berupa wawancara Bang Ali dengan wartawan asing yang membahas visinya menjadikan Jakarta setara dengan kota-kota besar dunia. Dalam rekaman dari Juli 1974 itu, ia dengan tegas menyatakan, “Saya tidak takut dicap otoriter. Yang penting, sebelum saya mati, Jakarta sudah punya air bersih, listrik, dan jalan yang baik. Itu ukuran kemajuan kota.” Kutipan ini dicetak besar di dinding keluar pameran, mengajak pengunjung merenungkan paradoks kepemimpinan yang tegas namun berpihak pada rakyat kecil.
Akses dan Antusiasme Publik
Pameran yang dibuka untuk umum mulai 16 Oktober hingga 30 November 2025 ini dikenai biaya masuk sebesar Rp10.000 untuk dewasa dan gratis bagi pelajar. Pada hari pertama pameran, lebih dari 500 pengunjung tercatat hadir, termasuk siswa-siswa sekolah menengah yang datang dalam program kunjungan terencana. Panitia juga menyediakan tur berpemandu setiap akhir pekan yang dipandu oleh sejarawan dan pegiat arsip. Kepala Arsip Nasional, Imam Gunarto, menyatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari program Memori Kolektif Bangsa yang bertujuan mendekatkan arsip sejarah kepada generasi muda. “Dengan melihat arsip asli, generasi digital akan memahami bahwa membangun kota bukan pekerjaan instan. Ada tetesan peluh, perdebatan kebijakan, dan keberanian mengambil risiko,” ungkapnya.
Pameran juga dilengkapi dengan ruang interaktif di mana pengunjung dapat menulis pesan untuk pemimpin Jakarta masa depan di dinding digital. Panitia berencana menyusun pesan-pesan tersebut menjadi buku yang akan diserahkan kepada gubernur petahana sebagai aspirasi warga. Hingga berita ini diturunkan, dinding digital itu telah menampung lebih dari 1.200 pesan, mayoritas berisi harapan agar Jakarta memiliki pemimpin yang berani dan jujur seperti Ali Sadikin. Pameran ini tidak hanya menjadi perjalanan nostalgia, tetapi juga panggilan reflektif atas arah pembangunan ibu kota setelah setengah abad kepemimpinan Bang Ali.
Baca juga:
Comments (0)