Bedah Buku Marhaenisme, Bonnie Triyana Ajak Gen Z Berpikir Kritis

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana menginisiasi diskusi publik bertajuk bedah buku untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual di kalangan anak muda. Bertempat di sebuah ruang kolektif di bilanga...

Jul 12, 2026 - 13:15
0 0

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana menginisiasi diskusi publik bertajuk bedah buku untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual di kalangan anak muda. Bertempat di sebuah ruang kolektif di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (15/4/2025), acara itu menyedot perhatian puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, aktivis, dan pegiat media sosial. Mereka datang untuk mengulik gagasan Marhaenisme yang diangkat dari konteks lokal Lebak, Banten, sekaligus merelevansikannya dengan tantangan zaman digital.

Membedah Marhaenisme dari Tanah Lebak

Buku yang dibedah merupakan kajian mendalam tentang Marhaenisme sebagaimana digali Bung Karno dari petani kecil di daerah Lebak. Bonnie menekankan bahwa gagasan itu bukan sekadar retorika politik masa lalu. "Marhaenisme di Lebak adalah potret kaum yang tertindas oleh sistem, dan hari ini kaum itu ada di mana-mana, termasuk di balik layar ponsel," ujar Bonnie dalam paparannya. Menurutnya, petani, buruh harian, hingga pengemudi ojek daring yang terperangkap dalam relasi kuasa kapitalisme modern adalah wujud kontemporer kaum Marhaen. Ia mengajak peserta untuk memahami bahwa buku ini tidak sekadar mengurai sejarah, tetapi juga menyodorkan pisau analisis terhadap struktur ekonomi yang timpang.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mempertanyakan relevansi Marhaenisme pasca-Reformasi. Bonnie merespons dengan lugas.

"Rezim boleh berganti, tetapi hubungan produksi yang menindas tetap sama. Hanya bentuknya yang bergeser dari pertanian ke platform digital."
Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan sektor jasa informal terus membengkak, sementara perlindungan sosial bagi pekerja mandiri masih minim.

Refleksi Sejarah: Tragedi Kudatuli sebagai Pengingat

Perjalanan diskusi tak lepas dari refleksi sejarah kelam yang menjadi konteks gerakan pro-demokrasi. Bonnie mengingatkan kembali peristiwa 27 Juli 1996, ketika kantor DPP PDI diserbu dan memicu bentrokan yang dikenal dengan sebutan Kudatuli. "Kudatuli bukan hanya soal partai politik, melainkan tentang bagaimana kekuasaan membungkam suara kritis. Hari ini, pembungkaman bisa terjadi lewat algoritma, bukan lagi represi fisik," tegasnya. Ia menjelaskan, ketakutan dan trauma dari peristiwa represif tersebut semestinya menjadi pelajaran agar generasi muda tidak mengulangi apatisme politik. Menurutnya, memahami Kudatuli penting agar anak muda tidak lengah terhadap ancaman otoritarianisme, termasuk yang berkedok efisiensi dan stabilitas.

Beberapa peserta yang lahir jauh setelah 1996 mengaku baru memahami detail tragedi itu. Bonnie mendorong agar sejarah tidak hanya diajarkan sebagai hafalan di kelas, melainkan dimaknai sebagai kompas moral dalam berdemokrasi. "Kalau kita tidak tahu dari mana kita berasal, kita akan mudah dikendalikan oleh siapa pun yang sedang berkuasa," katanya.

Melawan Kapitalisme di Era Digital

Bagian paling hangat dari diskusi adalah saat Bonnie mengupas kritik terhadap kapitalisme ekonomi digital. Ia menyoroti praktik perusahaan teknologi yang menambang data pengguna tanpa imbalan setimpal.

"Ini imperialisme versi baru. Kolonialisme tidak lagi merampas rempah, tetapi mencengkeram perhatian dan data kita 24 jam sehari."
Bonnie secara khusus menyebut dominasi perusahaan e-dagang dan layanan transportasi yang menciptakan ketergantungan sekaligus mematikan usaha kecil tradisional. Ia merujuk pada riset Lembaga Demografi Universitas Indonesia yang menemukan bahwa pendapatan pengemudi platform cenderung stagnan di bawah upah minimum, sementara biaya operasional terus meningkat.

Bonnie mengajak Gen Z untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga subyek yang kritis. "Jangan cuma bisa bikin konten lucu, tapi lupa bahwa kita sedang menjadi buruh digital yang tidak dibayar untuk data kita sendiri," ujarnya. Seruan itu disambut tepuk tangan peserta yang rata-rata berusia 19 hingga 25 tahun.

Merawat Daya Kritis Generasi Muda

Kegelisahan utama Bonnie adalah menurunnya minat membaca dan berdiskusi di kalangan pemuda. Ia melihat ruang-ruang tatap muka seperti bedah buku kian tergerus oleh interaksi instan di media sosial. Padahal, menurutnya, berpikir kritis hanya bisa terasah melalui dialog yang mendalam dan berbasis referensi, bukan sekadar bereaksi terhadap konten pendek. "Saya ingin Gen Z menghidupkan lagi ruang-ruang diskusi. Bukan untuk menjadi sok intelek, tapi agar kita tidak terus-menerus ditipu oleh narasi yang dangkal," kata Bonnie. Ia menyebut gerakan membaca dan mendiskusikan buku sebagai bentuk perlawanan terhadap pembodohan struktural.

Acara itu ditutup dengan komitmen peserta untuk membentuk komunitas diskusi berkala. Salah seorang peserta, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, menyatakan bahwa diskusi tersebut membuka kesadarannya bahwa politik dan ekonomi digital bukanlah dua hal yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Bonnie pun berpesan, "Merawat pikiran kritis adalah tanggung jawab moral setiap generasi. Jika bukan kalian yang memulai, maka sejarah kelam akan terulang dalam format yang baru."

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User