Studi: Respons Individu Kunci Keberhasilan Program Penurunan Obesitas

Jakarta, 10 April 2025 – Keberhasilan program penurunan berat badan pada penderita obesitas sangat dipengaruhi oleh respons biologis masing-masing individu. Kesimpulan tersebut terungkap dalam studi...

Jul 12, 2026 - 14:09
0 0

Jakarta, 10 April 2025 – Keberhasilan program penurunan berat badan pada penderita obesitas sangat dipengaruhi oleh respons biologis masing-masing individu. Kesimpulan tersebut terungkap dalam studi terbaru yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan bersama sejumlah universitas. Hasil studi dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Obesitas yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (10/4). Penelitian yang melibatkan 2.500 partisipan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara itu mengidentifikasi lima domain penentu: kondisi metabolik, ekspresi genetik, penyakit penyerta, kepatuhan terhadap terapi, dan pola hidup.

“Temuan kami menegaskan bahwa homogenitas pendekatan terapi tidak lagi relevan. Setiap individu memiliki cetak biru biologis yang unik, yang menentukan seberapa efektif suatu intervensi—entah farmakoterapi, bedah bariatrik, atau modifikasi gaya hidup,” ujar Kepala Balitbangkes, Dr. Kirana Putri, M.Kes., saat membuka paparan. Ia menambahkan, lebih dari 60 persen partisipan yang masuk dalam kategori ‘responder lambat’ berdasarkan profil metabolik gagal mencapai target penurunan berat badan minimal 5 persen dalam enam bulan pertama, meski telah menerima paket terapi standar.

Peta Respons Metabolik dan Faktor Genetik

Dr. Andi Pratama, peneliti utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang memimpin studi, menjelaskan bahwa timnya memetakan parameter seperti indeks HOMA-IR, kadar leptin puasa, dan polimorfisme gen FTO serta MC4R yang dikenal berperan dalam regulasi nafsu makan dan pengeluaran energi. “Partisipan dengan varian gen FTO rs9939609 tipe AA menunjukkan resistensi lebih tinggi terhadap penurunan berat badan. Pada kelompok ini, diet rendah kalori yang sama hanya menghasilkan penurunan bobot 1,2 kilogram dalam 3 bulan, sementara kelompok lain bisa turun 3,8 kilogram,” ungkapnya. Data studi menunjukkan 32 persen partisipan memiliki kombinasi gen yang kurang menguntungkan, yang berkorelasi dengan rendahnya laju metabolisme basal. “Ini menandakan perlunya penapisan genetik sebelum pemilihan jenis terapi, untuk menghindari frustrasi dan putus terapi,” tambah Dr. Andi.

Beban Komorbiditas dan Ketimpangan Kepatuhan

Selain aspek biologis, studi juga menyoroti peran penyakit penyerta. Sebanyak 48,5 persen partisipan memiliki setidaknya satu penyakit metabolik—diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, atau hipertensi—yang memperberat upaya reduksi bobot. “Obesitas dan komorbiditas membentuk siklus setan; hiperinsulinemia dan inflamasi kronik derajat rendah menghalangi lipolisis dan meningkatkan akumulasi lemak visceral. Pasien dengan diabetes, misalnya, memerlukan defisit kalori 20 persen lebih besar dibandingkan non‑diabetes untuk mencapai penurunan berat yang setara,” papar Dr. Kirana. Sementara itu, tingkat kepatuhan hanya mencapai 38 persen pada bulan ke‑6 program. Faktor putus terapi banyak dipicu oleh ekspektasi tidak realistis, efek samping obat, dan kendala ekonomi. “Kami menemukan bahwa integrasi konseling psikologi dan pemberian insentif—seperti potongan biaya asuransi—dapat meningkatkan kepatuhan hingga dua kali lipat,” ujar anggota tim peneliti, Prof. Retno Wulandari, dari Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Arah Baru Protokol Nasional Tata Laksana Obesitas

Menindaklanjuti hasil studi, Kementerian Kesehatan akan merevisi Pedoman Nasional Penatalaksanaan Obesitas. “Mulai triwulan ketiga 2025, setiap pasien obesitas yang dirujuk ke pusat layanan primer akan menjalani panel metabolik dasar dan, secara bertahap, tes genotyping sederhana. Dengan begitu, dokter dapat menyusun rencana terapi yang personal—baik dari sisi target penurunan, jenis obat, maupun intensitas pendampingan,” tegas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dr. Eva Susanti, M.P.H., di sela rapat. Pemerintah menargetkan prevalensi obesitas penduduk dewasa turun dari 23,4 persen menjadi 20 persen dalam lima tahun. Protokol baru ini, menurut Dr. Eva, merupakan fondasi evidence-based policy yang akan ditopang dengan penguatan kapasitas Puskesmas melalui pelatihan tenaga gizi dan pengadaan alat skrining metabolik portabel. ”Kami tidak bisa lagi bergantung pada saran generik ‘makan lebih sedikit, gerak lebih banyak’. Saatnya terapi obesitas dipersonalisasi seperti kita menangani kanker,” pungkasnya.

Rapat koordinasi juga menyepakati pembentukan Pusat Unggulan Penanganan Obesitas di enam rumah sakit vertikal yang akan menjadi rujukan nasional, serta peningkatan kerja sama dengan BPJS Kesehatan untuk memasukkan terapi farmakologis baru ke dalam paket manfaat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User