Gotong Royong dan Lestarikan Budaya Warnai Hajat Bumi Situ Rawabinong Bekasi
Cikarang Pusat, Apaberita – Ribuan warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali menggelar tradisi tahunan Hajat Bumi di kawasan Situ Rawabinong, Sabtu (22/3). Upacara a...
Cikarang Pusat, Apaberita – Ribuan warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali menggelar tradisi tahunan Hajat Bumi di kawasan Situ Rawabinong, Sabtu (22/3). Upacara adat yang telah berlangsung secara turun-temurun itu tidak hanya menjadi wujud syukur atas hasil bumi, tetapi juga meneguhkan ikatan sosial dan semangat gotong royong yang menjadi nadi kehidupan masyarakat setempat.
Napak Tilas Warisan Leluhur
Prosesi Hajat Bumi Situ Rawabinong diawali dengan arak-arakan gunungan hasil pertanian dan perikanan dari balai desa menuju tepi situ. Gunungan setinggi dua meter itu disusun dari padi, palawija, buah-buahan, serta ikan segar—mencerminkan ketergantungan warga pada ekosistem danau seluas 16 hektare tersebut. Sesepuh desa, Kiai Marzuki (78), memimpin doa bersama dalam bahasa Sunda dialek Bekasi, memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh kampung.
“Hajat Bumi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat bahwa kami hidup dari tanah dan air yang dititipkan leluhur. Jika alam dijaga, alam pun menjaga kami,” ujar Marzuki di sela prosesi. Belasan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Hegarmukti terlihat kompak mengenakan ikat kepala batik, membawa tandu gunungan dengan penuh semangat.
Pemerintah Daerah Beri Penghargaan
Wakil Bupati Bekasi, dr. Kusnanto Saidi, yang hadir bersama jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, secara simbolis menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Desa Hegarmukti. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi warga dalam merawat tradisi di tengah derasnya arus modernisasi. Dalam sambutannya, Kusnanto menegaskan komitmen pemda untuk mendukung Hajat Bumi Situ Rawabinong masuk dalam kalender wisata budaya tahunan Kabupaten Bekasi.
“Tradisi seperti ini adalah aset budaya tak benda yang harus kita lindungi bersama. Pemerintah tidak hanya mendorong pelestarian, tetapi juga akan memfasilitasi promosi agar Hajat Bumi Situ Rawabinong dikenal lebih luas, termasuk oleh wisatawan dari luar daerah,” kata Kusnanto di hadapan ribuan warga yang memenuhi tepi danau.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bekasi, Endang Suherman, menambahkan bahwa pihaknya tengah menyusun naskah akademik untuk mengusulkan tradisi tersebut ke Kementerian Kebudayaan agar mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat nasional. “Kami optimistis, karena Hajat Bumi ini memiliki elemen lengkap: tradisi lisan, seni pertunjukan, kearifan lokal, dan kemasyarakatan,” tuturnya.
Panggung Rakyat dan Pergelaran Seni
Usai doa dan penyerahan gunungan, kemeriahan berlanjut dengan panggung rakyat di lapangan desa. Sebanyak 15 sanggar seni dari berbagai kecamatan di Bekasi unjuk kebolehan, menampilkan tari topeng, pencak silat, reog, hingga wayang golek. Peserta termuda, Nazwa (9), membawakan tari Jaipong dengan gemulai dan mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.
“Saya senang bisa nampil di Hajat Bumi. Kata ibu, ini untuk menghormati para leluhur,” ucap Nazwa polos. Sementara itu, puluhan stan UMKM berjejer menyajikan kuliner khas Bekasi seperti pepes ikan situ, kerupuk gendar, dan wajik ketan, menjadikan acara ini sekaligus ruang ekonomi rakyat. Panitia mencatat, tak kurang dari 80 pelaku usaha mikro terlibat, dengan omzet harian tembus Rp 25 juta.
Sinergi Warga dalam Setiap Tahapan
Ketua Panitia Hajat Bumi, Ahmad Syarif, mengungkapkan bahwa persiapan acara melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat selama dua pekan. “Mulai dari bersih-bersih situ, membangun panggung, hingga menyiapkan konsumsi, semua dikerjakan dengan gotong royong. Tidak ada yang dibayar. Ini murni semangat kebersamaan,” jelasnya. Ia menambahkan, dana kegiatan bersumber dari swadaya warga, sumbangan pengusaha lokal, dan dukungan CSR beberapa perusahaan.
Kepala Desa Hegarmukti, Muhammad Taufik, menyebut tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-19 berdasarkan catatan lisan para sesepuh. Menurutnya, Hajat Bumi Situ Rawabinong sempat nyaris punah pada dekade 1990-an ketika banyak generasi muda meninggalkan kampung untuk bekerja di pabrik. Namun, sejak tahun 2005, tradisi ini dihidupkan kembali setelah terbentuknya kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang kini beranggotakan 35 orang.
“Kuncinya ada pada regenerasi. Kami libatkan anak-anak muda dalam setiap kepanitiaan, baik sebagai seksi acara, dokumentasi, maupun media sosial. Dengan begitu mereka merasa memiliki dan bangga akan warisan nenek moyang,” kata Taufik. Strategi itu terbukti efektif: data desa menunjukkan, tingkat partisipasi pemuda dalam kegiatan adat meningkat dari 30 persen pada 2010 menjadi 78 persen pada 2025.
Tantangan Pelestarian di Tengah Urbanisasi
Di balik meriahnya perayaan, tersimpan kekhawatiran akan masa depan tradisi ini. Hegarmukti yang berada di kawasan industri Bekasi terus menghadapi tekanan alih fungsi lahan. Situ Rawabinong sendiri, berdasarkan penelitian Universitas Indonesia (2024), mengalami penyusutan area tangkapan air sebesar 12 persen dalam satu dekade terakhir akibat sedimentasi dan pembangunan di sekitarnya. Aktivis lingkungan setempat, Neneng Hasanah, meminta pemerintah lebih tegas menegakkan aturan tata ruang.
“Hajat Bumi tanpa situ yang sehat hanya akan menjadi seremoni kosong. Kami berharap tradisi ini bisa menjadi momentum bagi semua pihak untuk kembali peduli pada konservasi Danau Rawabinong,” tandasnya. Permintaan itu mendapat respons dari Wakil Bupati yang berjanji akan memperkuat koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.
Tradisi Hajat Bumi Situ Rawabinong ditutup dengan acara ngauban, yakni penebaran benih ikan mas dan nila ke danau oleh para tokoh masyarakat dan anak-anak. Sebanyak 5.000 ekor benih dilepas sebagai simbol keberlanjutan ekosistem dan harapan akan kesejahteraan warga. Hingga petang, gelak tawa dan alunan musik tradisional masih terdengar dari arah panggung, menandakan bahwa warisan leluhur itu masih hidup dan terus dirawat oleh tangan-tangan yang percaya pada kekuatan gotong royong.
Baca juga:
Comments (0)