Anak Krakatau Kembali Erupsi, Vulkanolog Ingatkan Potensi Tsunami
Lampung Selatan, Apaberita – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat erupsi deng...
Lampung Selatan, Apaberita – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 1.500 meter di atas puncak kawah pada Selasa dini hari. Status gunung api yang berada di Selat Sunda itu masih ditetapkan pada Level III atau Siaga, dengan rekomendasi larangan mendekat dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi, menyatakan bahwa aktivitas kegempaan masih didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo 2–8 milimeter, disertai hembusan abu tipis ke arah tenggara. "Kami terus memonitor deformasi tubuh gunung secara real-time menggunakan tiltmeter dan data satelit. Sejauh ini belum terindikasi adanya penggelembungan signifikan yang mengkhawatirkan," ujar Andi dalam konferensi pers daring, Rabu (1/4/2026).
Peningkatan aktivitas ini memicu kekhawatiran publik, terutama mengingat sejarah letusan besar yang pernah dipicu oleh gunung api yang sama. Pertanyaan utama yang mengemuka adalah sejauh mana potensi bahaya erupsi kali ini, dan apakah mungkin memicu bencana tsunami seperti yang terjadi pada Desember 2018 silam.
Aktivitas Terkini dan Peringatan Dini
Berdasarkan data seismik yang dihimpun Apaberita, dalam 24 jam terakhir terekam 48 kali gempa letusan, 12 kali gempa hembusan, dan satu kali gempa vulkanik dangkal. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam pekat teramati condong ke arah barat daya. Masyarakat di pesisir barat Banten dan selatan Lampung diminta tetap tenang namun waspada terhadap potensi sebaran abu yang dapat mengganggu penerbangan dan kesehatan pernapasan.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menegaskan bahwa meskipun aktivitas saat ini belum sebanding dengan fase krisis 2018, risiko tetap harus dikalkulasi secara hati-hati. "Kita tidak boleh lengah. Gunung Anak Krakatau memiliki karakteristik unik karena tumbuh di dalam kaldera laut. Interaksi magma dengan air laut dapat menghasilkan letusan freatomagmatik yang eksplosif, ditambah ancaman longsoran dinding kawah yang berpotensi menimbulkan gelombang laut," terangnya dalam Rapat Koordinasi Lintas Kementerian di Jakarta.
Pusat Vulkanologi telah memperkuat jaringan sensor seismik dan visual di sekitar gunung. Pos Pemantau di Pulau Sertung dan Pulau Rakata difungsikan secara bergantian untuk memastikan kelangsungan data. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut menyiagakan alat pendeteksi tinggi muka air laut di beberapa titik pesisir sebagai bagian dari sistem peringatan dini tsunami.
Membedah Risiko Tsunami Seperti 2018
Tragedi tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 yang menewaskan lebih dari 400 jiwa dan melukai ribuan lainnya menjadi latar belakang utama meningkatnya kewaspadaan. Kala itu, longsoran material di sisi barat daya Gunung Anak Krakatau seluas sekitar 64 hektar memicu gelombang laut setinggi 2,5 meter yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Bencana itu terjadi tanpa disertai gempa tektonik yang dirasakan, sehingga sistem peringatan dini konvensional tidak terpicu.
Vulkanolog senior dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Mirzam Abdurrachman, menjelaskan bahwa ancaman tsunami akibat aktivitas vulkanik sangat dipengaruhi oleh konfigurasi stabilitas lereng bawah laut. "Setelah runtuhan 2018, topografi dasar laut di selat itu berubah drastis. Risiko longsoran susulan tetap ada, namun seberapa besar energinya tergantung pada volume material yang luruh dan kedalaman pusat longsoran," papar Mirzam kepada Apaberita. Ia menambahkan bahwa survei batimetri terbaru pada 2025 menunjukkan adanya akumulasi endapan vulkanik di lereng tenggara yang mencapai ketebalan 12 meter.
Untuk mengantisipasi hal itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengkoordinasikan simulasi evakuasi tsunami khusus yang dipicu oleh aktivitas vulkanik di tiga kabupaten pesisir. Simulasi dilakukan secara berkala dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur masyarakat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa jalur evakuasi dan tempat penampungan sementara telah disesuaikan dengan skenario terbaru berdasar pemodelan tsunami non-tektonik.
Kilas Balik Letusan Krakatau Lintas Zaman
Sejarah mencatat bahwa wilayah yang kini menjadi Gunung Anak Krakatau merupakan sisa dari Gunung Krakatau Purba yang pernah meletus dahsyat pada 1883. Letusan itu, yang mencapai Volcanic Explosivity Index 6, menghancurkan hampir seluruh tubuh gunung, memicu tsunami setinggi 30 meter, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang di masa Hindia Belanda. Abu vulkaniknya menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menurunkan suhu global selama bertahun-tahun. Namun, jejak letusan jauh lebih tua sudah tercatat dalam naskah kuno.
Menurut penelitian arkeogeologi, letusan Krakatau pertama yang terdokumentasi terjadi pada abad ke-5 Masehi, tepatnya sekitar tahun 416 M. Catatan itu disebutkan dalam Kitab Raja-Raja Pasundan yang menyebut adanya suara gemuruh dari laut selatan yang diikuti gelombang besar. Letusan itu diperkirakan menghancurkan Gunung Krakatau Purba dan membentuk kaldera awal.
Rangkaian letusan berikutnya tercatat pada 535 M, yang sebagian ahli kaitkan dengan fenomena pendinginan global pada Zaman Kegelapan Kuno. Pada periode itu, Krakatau diduga memuntahkan material vulkanik dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga mempengaruhi iklim Bumi. Pada 1680 dan 1883, letusan besar kembali terjadi, menjadikan Krakatau sebagai salah satu gunung api dengan rekam jejak paling destruktif di dunia.
Sejak kemunculannya pada 1927, Gunung Anak Krakatau tumbuh dari dalam kaldera pasca-letusan 1883 dengan kecepatan rata-rata 6,8 meter per tahun. Kini tinggi puncaknya sekitar 157 meter di atas permukaan laut. Aktivitasnya hampir terus-menerus, dengan periode istirahat yang pendek. Karakter inilah yang membuat vulkanolog selalu memosisikannya sebagai ancaman laten, bukan sekadar objek wisata geologi.
Menindaklanjuti perkembangan terakhir, Badan Geologi merekomendasikan agar seluruh pihak menaati peta kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan. Status Siaga akan dievaluasi setiap enam jam menyesuaikan data seismik dan deformasi. "Kita belum pada tahap evakuasi, tapi kesiapsiagaan harus dimaknai sebagai langkah preventif, bukan reaktif," tutup Muhammad Wafid.
Baca juga:
Comments (0)