Dari Kampus AS ke Wimbledon: Janice Tjen Cetak Sejarah

London, 4 Juli 2025 — Petenis tunggal putri Indonesia, Janice Tjen, mencatatkan tonggak bersejarah dengan menembus babak kedua turnamen Grand Slam Wimbledon 2025. Di All England Lawn Tennis Club, Ka...

Jul 12, 2026 - 15:04
0 0
Dari Kampus AS ke Wimbledon: Janice Tjen Cetak Sejarah

London, 4 Juli 2025 — Petenis tunggal putri Indonesia, Janice Tjen, mencatatkan tonggak bersejarah dengan menembus babak kedua turnamen Grand Slam Wimbledon 2025. Di All England Lawn Tennis Club, Kamis (3/7) waktu setempat, mahasiswi Universitas California, Los Angeles (UCLA) ini menjadi wakil Merah Putih pertama yang mencapai putaran kedua di nomor tunggal putri sejak Angelique Widjaja melakukannya pada 2003. Pencapaian itu mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun.

Pada pertandingan babak pertama, petenis berusia 23 tahun tersebut secara meyakinkan menundukkan unggulan ke-20 asal Kroasia, Lucija Ćirić Bagarić, dengan skor 6–3, 4–6, 6–4. Kemenangan atas lawan yang menghuni peringkat 32 dunia ini langsung disambut gegap gempita oleh komunitas tenis nasional. Janice tampil agresif dengan 38 winner dan hanya mencatat 17 unforced error sepanjang laga yang berlangsung dua jam tujuh menit itu.

Rekor 22 Tahun Terpecahkan

Angelique Widjaja terakhir kali membawa nama Indonesia ke babak kedua Wimbledon pada edisi 2003. Sejak saat itu, tak satu pun petenis tunggal putri Tanah Air mampu mengulangi capaian serupa, hingga akhirnya Janice muncul dan mematahkan rangkaian kegagalan tersebut. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PP Pelti), Muhammad Al-Fatih Bangsawan, menyebut momen ini sebagai titik balik kebangkitan tenis nasional.

“Kami sangat mengapresiasi perjuangan Janice. Ia tidak hanya mengangkat nama bangsa, tetapi telah memberi bukti bahwa dengan pembinaan modern dan disiplin tinggi, atlet kita sanggup bersaing di panggung tertinggi,” ujar Al-Fatih melalui sambungan telepon dari Jakarta.

Statistik mencatat bahwa sejak era profesional dimulai, hanya lima petenis Indonesia—pria dan wanita—yang pernah menembus babak kedua Wimbledon. Janice kini menjadi nama keenam dan yang termuda dalam daftar elite tersebut.

Perjalanan dari Kampus Amerika ke Pusat Tenis Dunia

Lahir di Jakarta pada 10 Oktober 2001, Janice menimba ilmu dan mengasah bakatnya di Negeri Paman Sam. Ia memulai karier kampusnya di University of Oregon sebelum akhirnya bergabung dengan tim tenis UCLA Bruins yang kompetitif. Di bawah asuhan pelatih kepala Stella Sampras Webster, Janice menjelma menjadi salah satu pemain paling dominan di ajang National Collegiate Athletic Association (NCAA). Ia mencatatkan rasio kemenangan 87 persen di nomor tunggal serta turut membawa UCLA menjuarai Pac-12 Conference dua musim beruntun pada 2023 dan 2024.

Pengalaman bertanding di liga kampus Amerika, yang dikenal ketat dan menerapkan standar profesional, dinilai menjadi kunci keberhasilannya menembus Wimbledon. Manajer tim nasional tenis Indonesia, Deddy Tedjamukti, menjelaskan bahwa program transisi dari tenis kampus ke tur profesional dirancang secara terstruktur oleh Pelti sejak 2022.

“Janice adalah produk dari program ‘Kampus ke Grand Slam’ yang diinisiasi Pelti bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Washington D.C. Kami memetakan talenta mahasiswa Indonesia di AS dan memberi dukungan pendampingan teknik, sport science, serta partisipasi di turnamen ITF dan WTA. Wimbledon adalah bukti nyata bahwa strategi ini berhasil,” kata Deddy.

Harapan Baru Tenis Indonesia

Keberhasilan Janice langsung mengubah peta persaingan tenis nasional. Ranking WTA-nya diproyeksikan melesat dari posisi 178 ke sekitar 135 dunia, menjadi yang tertinggi di antara petenis Indonesia saat ini. Pengamat tenis senior, Prof. Mardiono Tjokro, menilai bahwa pondasi yang dibangun Janice di level NCAA memberinya keunggulan mental dan fisik yang berbeda.

“Tenis kampus di Amerika menuntut konsistensi tinggi karena jadwal bertanding sangat padat, kadang tiga kali dalam sepekan. Ini melatih endurance dan ketahanan psikologis yang menjadi pembeda ketika ia bertemu pemain ranking atas di Grand Slam,” ujar Mardiono yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar PP Pelti.

Meski langkahnya dihentikan di babak kedua oleh unggulan ketiga Aryna Sabalenka dari Belarus dengan skor 2–6, 3–6, Janice tetap meninggalkan jejak yang membanggakan. Dalam jumpa pers usai laga, ia menyampaikan rasa syukurnya sekaligus menegaskan tekad untuk kembali lebih kuat.

“Babak kedua bukan target akhir. Saya ingin membuktikan bahwa atlet Indonesia bisa konsisten di level tertinggi. Dukungan dari seluruh masyarakat menjadi energi yang luar biasa. Saya berjanji akan bekerja lebih keras demi membawa nama Merah Putih lebih jauh lagi di panggung Grand Slam,” tegas Janice.

PP Pelti pun memastikan akan menambah porsi tur Eropa dan Amerika bagi para atlet muda berbakat guna memperbanyak akumulasi poin serta jam terbang internasional. Dengan munculnya Janice Tjen sebagai pionir baru, ekspektasi terhadap regenerasi tenis Indonesia kini berada pada titik tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User