Trump Perintahkan Serangan Lanjutan, Iran Selatan Kembali Diguncang Ledakan
Washington melancarkan gelombang serangan militer baru ke wilayah Republik Islam Iran pada Rabu dini hari waktu setempat, mengonfirmasi eskalasi yang kian mengkhawatirkan setelah pertukaran serangan d...
Washington melancarkan gelombang serangan militer baru ke wilayah Republik Islam Iran pada Rabu dini hari waktu setempat, mengonfirmasi eskalasi yang kian mengkhawatirkan setelah pertukaran serangan dengan Teheran pada Selasa. Ledakan besar dilaporkan terjadi di sejumlah titik di pesisir selatan negara itu, beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengancam akan melipatgandakan tekanan militer.
Instruksi Langsung dari Ruang Oval
Presiden Donald Trump, melalui akun resmi media sosialnya pada Rabu pagi waktu Washington, menegaskan bahwa operasi ofensif belum berakhir. "Kami akan menghantam mereka lebih keras lagi malam ini," tulis Trump, merujuk pada serangan balasan yang telah dilancarkan kedua pihak satu hari sebelumnya. Pernyataan itu langsung ditindaklanjuti Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dengan mengerahkan aset penyerang jarak jauh dari pangkalan di kawasan Timur Tengah.
Menurut sumber militer AS yang enggan disebutkan identitasnya, gelombang kedua serangan ini menyasar sejumlah infrastruktur strategis yang dianggap vital bagi kemampuan ofensif Iran. "Presiden telah memberikan otorisasi penuh untuk serangkaian operasi presisi yang lebih luas," ujar pejabat tersebut. Tidak diperinci berapa banyak target yang telah ditetapkan, namun dipastikan bahwa rudal jelajah dan drone tempur menjadi tulang punggung operasi malam itu.
Sasaran Utama di Pesisir dan Kepulauan Selatan
Laporan dari kantor berita resmi Iran menyebutkan bahwa ledakan terdengar di sekitar fasilitas militer di Provinsi Hormozgan dan Bushehr, dua wilayah yang menjadi pusat konsentrasi kekuatan laut dan udara Iran. Warga di pesisir Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis tempat markas besar Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC-N) berada, mengaku mendengar sedikitnya lima dentuman keras antara pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari. Suara sirine dan pergerakan kendaraan taktis militer turut memperkuat indikasi adanya kerusakan instalasi pertahanan.
Di Pulau Kish, yang selama ini lebih dikenal sebagai kawasan wisata dan perdagangan, saksi mata melaporkan titik api di sekitar area pangkalan udara yang turut digunakan IRGC untuk operasi pengintaian. Meskipun sistem pertahanan udara Iran, termasuk baterai S-300 dan sistem produksi dalam negeri, dikerahkan secara penuh, sejumlah proyektil berhasil menembus perimeter dan menghantam target yang telah ditentukan. Seorang perwira senior IRGC yang tidak berwenang berbicara kepada media mengakui bahwa "pukulan signifikan" telah terjadi, namun menolak merinci tingkat kerusakan atau jumlah korban.
Gelombang serangan kali ini berbeda dengan serangan Selasa yang lebih banyak difokuskan pada pusat pengembangan rudal di wilayah tengah. Para analis militer menilai bahwa pergeseran target ke selatan bertujuan untuk melumpuhkan rantai pasok dan jalur keluar masuk persenjataan IRGC melalui Teluk Persia, sekaligus mengisolasi kemampuan Iran merespons di jalur perairan internasional yang krusial.
Teheran Siapkan Respons Berlapis
Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya mengecam serangan susulan ini sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara berdaulat" dan menegaskan hak penuh untuk membela diri. Juru Bicara Kementerian, Nasser Kanaani, menyatakan bahwa "Amerika Serikat harus menanggung seluruh konsekuensi dari agresi yang terus berlanjut ini. Kami tidak akan tinggal diam." Di saat yang sama, saluran televisi pemerintah menayangkan gambar-gambar yang diklaim sebagai puing rudal yang berhasil dicegat, sembari menekankan bahwa kerusakan di lapangan tidak sebanding dengan narasi yang dibangun Washington.
Di Gedung Putih, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pengarahan pers singkat menolak menyebut operasi ini sebagai deklarasi perang terbuka. "Ini adalah tindakan pertahanan diri yang proporsional dan dirancang untuk memulihkan deterrence," tegasnya. Hegseth juga mengonfirmasi bahwa gelombang serangan akan terus dievaluasi berdasarkan respons yang ditunjukkan Teheran dalam 24 hingga 48 jam ke depan.
Kekhawatiran Global dan Pergerakan Harga Energi
Eskalasi di Teluk Persia langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent pada perdagangan pagi waktu London melonjak di atas 98 dolar AS per barel, level tertinggi dalam empat bulan terakhir, karena pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui juru bicaranya, mendesak kedua pihak untuk segera menahan diri dan kembali ke meja perundingan. "Dunia tidak bisa menanggung konflik berskala besar di kawasan yang sudah sangat rapuh ini," demikian bunyi pernyataan resmi PBB.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Kamis waktu New York setelah permintaan resmi dari Prancis dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok secara terpisah menyerukan agar AS menghentikan semua tindakan militer sepihak dan menghormati Traktat Non-Proliferasi serta piagam PBB. Di kawasan, Arab Saudi dan Qatar menyatakan siap memfasilitasi komunikasi darurat antara Washington dan Teheran guna mencegah salah perhitungan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur sipil di pihak Iran. Namun, dengan ancaman Trump yang masih terbuka dan kesiapan IRGC untuk melancarkan gelombang balasan baru, kawasan itu kini berada di titik paling panas sejak krisis tanker tahun 2019.
Baca juga:
Comments (0)