Peternak Telur Protes Harga Anjlok, Terancam Gagal Bayar Pakan dan Upah
JAKARTA, Apaberita — Ratusan peternak ayam petelur dari berbagai penjuru Indonesia meluapkan keputusasaan di depan gedung Kementerian Pertanian, Selasa (6/4/2025). Mereka menyuarakan jeritan akibat ...
JAKARTA, Apaberita — Ratusan peternak ayam petelur dari berbagai penjuru Indonesia meluapkan keputusasaan di depan gedung Kementerian Pertanian, Selasa (6/4/2025). Mereka menyuarakan jeritan akibat harga jual telur yang terjun bebas hingga menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir. Aksi yang diinisiasi oleh perwakilan peternak dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara ini menjadi cermin puncak keresahan pelaku usaha yang mengaku telah menanggung kerugian bertubi-tubi selama dua bulan terakhir.
Mereka menegaskan, jika kondisi ini terus berlanjut, operasional ribuan kandang terancam berhenti total. “Kami sudah tidak sanggup lagi. Harga telur di tingkat peternak sekarang hanya Rp18.000 per kilogram, sementara biaya produksi kami mencapai Rp23.000 per kilogram. Setiap butir telur yang dijual itu rugi,” ujar Sukirno, perwakilan peternak dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan nada lirih di sela aksi.
Kerugian Beruntun Dua Bulan Terakhir
Para peternak menyebut penurunan harga telur terjadi secara sistematis sejak awal Februari 2025. Pada Januari, harga telur di tingkat peternak masih bertengger di kisaran Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram. Namun, memasuki pertengahan Februari, angka itu anjlok ke Rp21.000, dan terus merosot tanpa ada tanda-tanda pemulihan. Data yang dihimpun Himpunan Peternak Unggas Nasional (HPUN) menunjukkan, rata-rata harga telur di kandang pada Maret lalu hanya Rp17.500 hingga Rp19.000, bergantung lokasi dan ukuran telur.
Ketua Umum HPUN, Bambang Sutrisno, menyatakan bahwa surplus produksi menjadi biang keladi utama. “Over suplai terjadi karena banyak peternak yang menggenjot produksi pada akhir tahun lalu untuk memenuhi proyeksi permintaan Natal dan Tahun Baru. Namun, realisasinya permintaan tidak setinggi yang diperkirakan, sehingga stok menumpuk,” jelasnya. Ia menambahkan, daya serap pasar juga terpukul oleh menurunnya daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah bawah, yang selama ini menjadi konsumen utama telur.
Pakan Mahal, Ongkos Produksi Mencekik
Di tengah harga jual yang ambrol, beban peternak justru kian berat karena biaya produksi, khususnya pakan, tetap tinggi. Harga jagung pipil sebagai komponen utama pakan masih berada di level Rp6.800 per kilogram, naik tipis dari rata-rata tahun lalu. Sementara bungkil kedelai yang seluruhnya masih diimpor, kini menembus Rp12.000 per kilogram. “Biaya pakan itu mencakup 70 persen dari total ongkos produksi. Kalau harga telur tidak segera naik, kami akan kolaps,” ujar Nurhayati, peternak dari Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Selain itu, ongkos listrik, upah pekerja, dan biaya logistik juga belum menunjukkan penurunan berarti. Sejumlah peternak bahkan terpaksa merumahkan sebagian pekerjanya untuk menekan pengeluaran. “Saya sudah mengurangi karyawan dari delapan menjadi lima orang. Itu pun masih tetap berat membayar mereka. Kalau harga telur turun lagi, saya tidak tahu harus bagaimana,” keluh Suwarno, peternak asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Desakan Intervensi Pemerintah
Dalam aksi tersebut, para peternak mendesak pemerintah segera melakukan intervensi. Tuntutan utama mereka mencakup penyerapan kelebihan produksi melalui operasi pasar yang melibatkan Badan Urusan Logistik (Bulog), pemberian subsidi langsung untuk menutup selisih biaya produksi, serta pengaturan tata niaga impor jagung dan kedelai agar stabil. Mereka juga meminta Kementerian Perdagangan untuk menetapkan harga acuan pembelian di tingkat peternak sebagai jaring pengaman.
Menanggapi desakan itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh. Nasrullah, yang menemui massa aksi, menyatakan bahwa pemerintah tengah menyusun langkah darurat. “Kami akan segera menggelar Rapat Koordinasi dengan Bulog, Kementerian Perdagangan, dan asosiasi peternak. Dalam rapat itu, rencana penyerapan telur oleh Bulog untuk program bantuan pangan akan dimatangkan. Selain itu, opsi subsidi selisih harga juga sedang kami kaji sesuai kewenangan dan ketersediaan anggaran,” tegasnya. Nasrullah menambahkan, pihaknya juga mendorong pemerintah daerah untuk menggelar operasi pasar murah dengan memanfaatkan dana alokasi umum.
Ancaman PHK dan Krisis Pangan Protein Hewani
Jika kondisi darurat ini tidak segera tertangani, bukan hanya peternak yang menjerit, melainkan juga ribuan tenaga kerja yang menggantungkan hidup dari sektor perunggasan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan, industri peternakan ayam petelur nasional menyerap sekitar 2,5 juta tenaga kerja langsung, mulai dari peternak, pekerja kandang, hingga pedagang pengumpul. “Kalau gelombang penutupan kandang terjadi, akan timbul efek domino yang sangat luas. PHK massal tidak bisa dihindari, dan pasokan telur nasional justru bisa terganggu di masa depan,” papar Dr. Andi Santoso, ekonom pertanian dari Universitas Gadjah Mada, saat dihubungi terpisah.
Ia menambahkan, telur merupakan sumber protein hewani paling terjangkau bagi keluarga Indonesia. Anjloknya harga yang merugikan peternak justru menjadi dilema: di satu sisi konsumen diuntungkan, namun di sisi lain keberlanjutan produksi terancam. “Pemerintah harus mampu menjaga keseimbangan. Intervensi harus tepat, bukan sekadar mengimpor dari luar negeri, yang justru akan mematikan peternak lokal. Skema seperti penugasan ke BUMN pangan untuk membentuk stok penyangga harus segera diaktifkan,” usulnya.
Sementara itu, Sukirno dan rekan-rekannya berjanji akan terus menyuarakan tuntutan mereka. “Kami tidak minta macam-macam. Kami hanya ingin harga jual telur bisa di atas Rp22.000 per kilogram agar usaha kami tetap berjalan. Kalau tidak, kami terpaksa melepas ayam-ayam kami ke pasar dini, dan itu berarti kehancuran usaha yang sudah kami bangun puluhan tahun,” pungkasnya dengan nada getir. Aksi damai tersebut berakhir setelah perwakilan Kementerian membubuhkan tanda tangan pada berita acara tuntutan sebagai komitmen untuk menindaklanjuti jeritan para peternak telur di tanah air.
Baca juga:
Comments (0)