Bahaya Blind Box: Dosen IPB Peringatkan Risiko Adiksi dan Penuaan Dini

Bogor, Apaberita – Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, dr Samuel Stemi, mengeluarkan peringatan keras terhadap maraknya tren blind box yang tidak terkontrol. Dalam keterangannya pada Ju...

Jul 12, 2026 - 14:11
0 0

Bogor, Apaberita – Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, dr Samuel Stemi, mengeluarkan peringatan keras terhadap maraknya tren blind box yang tidak terkontrol. Dalam keterangannya pada Jumat (11/4/2025), ia menegaskan bahwa kebiasaan membeli produk misteri secara impulsif dapat memicu perilaku adiktif serius dan mempercepat proses penuaan dini pada konsumen, khususnya generasi muda.

dr Samuel Stemi menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah diskusi kesehatan masyarakat yang digelar secara daring. Menurutnya, mekanisme kejutan dalam blind box—di mana pembeli tidak mengetahui isi kemasan sebelum dibuka—memanfaatkan sistem penghargaan otak yang mirip dengan mekanisme kecanduan judi. “Setiap kali seseorang membuka kotak dan mendapatkan barang yang diinginkan, terjadi pelepasan dopamin. Semakin sering siklus ini terulang, semakin kuat dorongan untuk terus membeli. Inilah pintu masuk menuju adiksi,” ujarnya tegas.

Risiko Adiksi yang Mengintai

Menurut penjelasan dr Samuel, blind box tidak sekadar permainan koleksi tanpa bahaya. Desainnya yang acak membuat konsumen terus mengejar item langka atau edisi terbatas, yang secara psikologis menciptakan variable ratio reinforcement schedule—pola penguatan paling kuat dalam membentuk kebiasaan kompulsif. “Otak kita dirancang untuk mencari kepastian, tetapi ketidakpastian justru membuat kita semakin terpikat. Kondisi ini identik dengan apa yang terjadi pada penjudi patologis atau pengguna zat adiktif,” tambahnya.

Ia merujuk pada data dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) yang mencatat lonjakan aduan terkait pembelian blind box sebesar 67 persen sepanjang 2024. Sebagian besar aduan berasal dari orang tua yang mengeluhkan anak-anak mereka menghabiskan uang saku hingga ratusan ribu rupiah per bulan hanya untuk memburu figurin atau kartu koleksi. dr Samuel menekankan perlunya intervensi sejak dini, terutama dari lingkungan keluarga dan sekolah, untuk mencegah perilaku ini berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat seperti gangguan obsesif-kompulsif atau impulse control disorder.

Dampak Penuaan Dini dan Kesehatan Mental

Tak hanya aspek psikologis, dr Samuel menyoroti dampak biologis dari adiksi blind box. Stres kronis yang muncul akibat tekanan finansial atau kekecewaan berulang saat tidak mendapat barang incaran dapat meningkatkan kadar hormon kortisol. Lonjakan kortisol dalam jangka panjang terbukti mempercepat proses penuaan sel, dimulai dari kerusakan kolagen hingga penurunan fungsi organ vital.

“Kami menemukan bahwa individu dengan frekuensi pembelian blind box tinggi, lebih dari tiga kali seminggu, menunjukkan tanda-tanda penuaan kulit lebih cepat, gangguan pola tidur, dan penurunan daya tahan tubuh. Ini bukan sekadar masalah kecantikan, tetapi indikator kesehatan menyeluruh,” paparnya. Ia mengutip studi longitudinal yang dilakukan timnya di Klinik Psikiatri Komunitas IPB terhadap 120 responden berusia 18 hingga 35 tahun. Sebanyak 42 persen di antaranya mengalami gejala kecemasan, 28 persen mengalami insomnia, dan 15 persen menunjukkan peningkatan tekanan darah melebihi ambang normal setelah mengikuti tren blind box selama enam bulan.

Lebih lanjut, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan berpotensi muncul ketika konsumen mulai kehilangan kendali atas kebiasaannya. “Mereka tidak lagi membeli karena ingin koleksi, melainkan karena rasa bersalah dan kebutuhan untuk menenangkan diri. Ini siklus berbahaya yang bisa menghancurkan kesejahteraan mental,” ujar dr Samuel.

Perlindungan Konsumen dan Regulasi

Ketua Komisi Perlindungan Konsumen DPR RI, Nita Sudjana, dalam kesempatan terpisah menyatakan dukungannya terhadap pengawasan lebih ketat terhadap pemasaran blind box. “Kami telah menerima masukan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi seperti dr Samuel, dan akan mendorong Kementerian Perdagangan untuk menerbitkan regulasi yang mewajibkan pencantuman probabilitas isian serta batasan usia pembeli,” katanya di Gedung DPR, Kamis (10/4/2025).

Rencana regulasi tersebut mencakup pelarangan penjualan blind box kepada anak di bawah usia 12 tahun tanpa pendampingan orang tua, kewajiban transparansi persentase isi, serta pembatasan jumlah transaksi per individu dalam periode tertentu pada platform digital. Langkah ini diambil menyusul semakin banyaknya laporan kerugian finansial yang dialami remaja, termasuk kasus viral seorang pelajar di Bandung yang menghabiskan Rp27 juta dari tabungan orang tuanya untuk membeli paket blind box secara daring.

Di sisi lain, sejumlah psikolog anak dan keluarga mendorong penerapan literasi konsumen secara masif. “Orang tua harus memahami bahwa blind box bukan sekadar mainan, melainkan produk yang dirancang secara psikologis untuk memicu pembelian berulang. Edukasi di rumah dan pengawasan penggunaan dompet digital menjadi kunci,” ujar dr Samuel. Ia juga menyarankan agar kampanye kesehatan mental di sekolah memasukkan topik ini, mengingat titik rawan adiksi terletak pada usia 13 hingga 24 tahun.

Menutup keterangannya, dr Samuel menekankan pentingnya deteksi dini. “Jika Anda atau anak Anda mulai merasa gelisah saat belum membeli blind box, menghabiskan uang tanpa perencanaan, atau menyembunyikan pembelian dari keluarga, segera konsultasikan ke psikolog. Adiksi adalah penyakit, bukan kelemahan moral,” pungkasnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User