The Rolling Stones Rilis Foreign Tongues, Ekspansi ke Dunia Virtual Roblox
Band rock legendaris asal Inggris, The Rolling Stones, membuat gebrakan ganda di penghujung kuartal kedua 2025. Pada Jumat, 20 Juni 2025, mereka merilis album studio ke-32 bertajuk Foreign Tongues sek...
Band rock legendaris asal Inggris, The Rolling Stones, membuat gebrakan ganda di penghujung kuartal kedua 2025. Pada Jumat, 20 Juni 2025, mereka merilis album studio ke-32 bertajuk Foreign Tongues sekaligus membuka gerbang pengalaman imersif di platform permainan daring Roblox. Langkah ini tidak hanya mempertegas eksistensi mereka di industri musik global selama lebih dari 63 tahun, tetapi juga mendefinisikan ulang cara sebuah band era 1960-an menjangkau generasi digital.
Album Foreign Tongues berisi 14 lagu orisinal, dengan durasi total 58 menit. Proses rekamannya dilakukan di dua lokasi: British Grove Studios di London dan Electric Lady Studios di New York, di bawah arahan produser pemenang Grammy Award, Jack Antonoff. Selain trio inti Mick Jagger, Keith Richards, dan Ronnie Wood, sejumlah musisi senior turut terlibat, seperti Steve Jordan yang mengisi drum menggantikan mendiang Charlie Watts sejak 2021. Menurut keterangan resmi dari Universal Music Group, rekaman ini menjadi yang pertama menggunakan teknologi perekaman langsung analog-digital yang dikembangkan oleh insinyur suara legendaris Bob Clearmountain.
"Kami menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memastikan setiap not dan setiap lirik membawa pesan yang kuat. Album ini adalah pernyataan bahwa kami masih lapar, masih ingin mengeksplorasi suara-suara baru," tegas Keith Richards saat ditemui di sela sesi peluncuran di London. Sementara itu, Mick Jagger menyebut bahwa nama album terinspirasi dari pengalamannya belajar frasa dasar dalam 10 bahasa untuk menyapa penonton di setiap negara selama tur Sixty tiga tahun silam. "Ada sesuatu yang mendalam ketika Anda mengucapkan 'terima kasih' dalam bahasa Jepang atau 'selamat malam' dalam bahasa Korea. Itu menjadi metafora tentang komunikasi tanpa batas," ujarnya.
Daftar Lagu dan Kolaborasi Tak Terduga
Dari 14 trek yang dirilis, tiga di antaranya langsung menempati tangga lagu trending platform streaming di 27 negara dalam 24 jam pertama. Lagu pembuka "Blue Tuesdays" menampilkan solo harmonika oleh Stevie Wonder, sementara lagu "Mirror Dice" menghadirkan duet vokal Jagger dengan penyanyi R&B asal Nigeria, Tems. Kolaborasi ini menjadi salah satu titik temu generasi yang disengaja: menggabungkan otoritas rock dengan warna urban kontemporer. "Kami tidak ingin terjebak di kotak 'band tua'. Kami ingin album ini terasa segar bagi pendengar berusia 16 tahun maupun 60 tahun," kata Ronnie Wood.
Ekspansi ke Roblox: Stones Universe
Bersamaan dengan rilis album, The Rolling Stones membuka dunia virtual bernama Stones Universe di platform Roblox. Dibangun oleh studio pengembang Gamefam—yang sebelumnya sukses menggarap "Elton John's Beyond the Yellow Brick Road"—pengalaman ini menawarkan replika empat panggung ikonik: Hyde Park 1969, Altamont Speedway, Havana 2016, dan Wembley Stadium 2023. Setiap lokasi dirancang dengan tingkat detail tinggi, termasuk pencahayaan dan instrumen yang dapat dimainkan oleh avatar pengguna.
Direktur Kemitraan Global Roblox, Christina Wootton, dalam siaran persnya menyatakan, "The Rolling Stones adalah band tertua yang pernah berkolaborasi dengan kami dalam skala ini. The Stones Universe bukan sekadar ruang promosi, melainkan pengalaman interaktif yang memperkaya naratif album itu sendiri." Sejak diluncurkan, jumlah pengunjung melampaui 2,3 juta dalam 12 jam pertama, dengan durasi rata-rata kunjungan 24 menit per sesi—angka yang sangat tinggi untuk konten bermerek.
Di dalam Stones Universe, pengguna dapat mengoleksi Stones Shards, mata uang virtual yang diperoleh dengan menyelesaikan misi seperti memainkan riff gitar legendaris "Satisfaction", mengumpulkan replika lidah Stones yang tersebar di seluruh dunia, atau menonton konser virtual penuh. Koin ini dapat ditukar dengan lebih dari 50 item avatar eksklusif, mulai dari jaket ikonik Mick Jagger edisi 1972, sepatu bot kulit buaya milik Keith Richards, hingga gitar Fender Telecaster edisi terbatas yang hanya tersedia selama dua pekan pertama.
Kreator Indonesia di Panggung Global
Salah satu aspek yang paling mencuri perhatian adalah pelibatan 15 kreator Roblox dari empat negara: Indonesia, Brasil, Nigeria, dan Filipina. Mereka diberi akses ke aset visual resmi band dan diminta merancang item-item unik yang menggabungkan identitas budaya lokal dengan estetika The Rolling Stones. Dinda Ayu, kreator asal Jakarta, menciptakan hijab avatar dengan motif batik Parang dan logo lidah Stones di ujungnya. "Saya pikir batik dan rock and roll adalah dua hal yang bertolak belakang, tapi justru di situ letak kejutannya. Hingga hari ketiga, lebih dari 15.000 pengguna telah memakai desain saya," kata Dinda saat dihubungi Apaberita.
Selain Dinda, Kenta Matsumura dari Tokyo mendesain kimono digital dengan sabuk obi bertuliskan lirik "You Can't Always Get What You Want", sementara Pedro Santana dari São Paulo membuat topeng sepak bola Brazil dengan aksen lidah Stones. Seluruh hasil penjualan item-item ini akan dibagi antara kreator, label, dan platform, membuka model ekonomi baru dalam ekosistem hiburan.
Dampak Ekonomi dan Fesyen
Peluncuran Foreign Tongues tidak hanya terbatas pada musik dan digital. The Rolling Stones menggandeng rumah mode Saint Laurent untuk memproduksi koleksi kapsul berisi 12 item pakaian fisik, termasuk jaket kulit dan kaus sutra, yang hanya dapat dibeli melalui kode unik yang didapat setelah menyelesaikan misi tertentu di Stones Universe. Harga koleksi berkisar dari 180 hingga 620 dolar AS, dan dalam 24 jam pertama, 60 persen stok global—yang hanya berjumlah 5.000 unit per item—telah terjual habis.
Menurut analis industri Mark Mulligan dari Midia Research, pendekatan hibrida antara fisik, digital, dan game ini adalah model bisnis masa depan. "The Rolling Stones menciptakan siklus di mana album mendorong traffic ke game, game menjual merchandise virtual dan fisik, dan merchandise kemudian mempromosikan album kembali. Ini bukan sekadar pemasaran, melainkan ekosistem pendapatan yang berkelanjutan," jelasnya. Pendapatan dari penjualan item digital di seluruh platform metaverse diperkirakan mencapai 12 miliar dolar AS pada 2026, dan The Rolling Stones kini menjadi pionir di segmen artis senior.
Respons Penggemar dan Masa Depan
Komunitas penggemar di Indonesia menyambut hangat. Indo Stones Society, yang beranggotakan lebih dari 1.200 orang di seluruh Nusantara, menggelar meet-up di Jakarta pada Sabtu malam untuk menjajal Stones Universe bersama-sama. "Ini nostalgia yang dibawa ke masa kini. Saya yang sudah berusia 55 tahun bisa bermain Roblox bersama cucu saya sambil mendengarkan album baru Stones. Luar biasa," ujar Bimo Prakoso, ketua komunitas. Sementara itu, penggemar muda berusia 17 tahun, Naura Rizky, mengaku tertarik pada sisi interaktifnya. "Saya tahu The Rolling Stones dari TikTok, dan sekarang saya bisa ngerasain konser virtual mereka. Keren banget."
Dengan strategi peluncuran yang begitu terintegrasi, The Rolling Stones tidak hanya memperpanjang warisan mereka, tetapi juga mendikte arah baru industri musik yang kian konvergen. Belum ada keterangan resmi mengenai tur dunia berikutnya, namun Joyce Smyth, manajer band, mengisyaratkan bahwa tur virtual penuh mungkin akan digelar di Stones Universe pada kuartal keempat 2025. "Kami sedang menjajaki kemungkinan konser interaktif bulanan dengan format berbeda. The Rolling Stones tidak akan berhenti berinovasi," pungkasnya.
Baca juga:
Comments (0)