Ikan Baubau Dinilai Berkualitas untuk Pasokan Jemaah Haji Saudi

Baubau, Apaberita — Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menyatakan bahwa produk perikanan asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memiliki kualitas tinggi yang dap...

Jul 12, 2026 - 15:29
0 0
Ikan Baubau Dinilai Berkualitas untuk Pasokan Jemaah Haji Saudi

Baubau, Apaberita — Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menyatakan bahwa produk perikanan asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memiliki kualitas tinggi yang dapat diandalkan sebagai bagian dari rantai pasok pangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Penilaian tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja Menteri Irfan ke sentra-sentra perikanan di Baubau pada Rabu (12/3), yang secara langsung meninjau proses penangkapan, pengolahan, dan pengemasan hasil laut setempat.

“Setelah melihat langsung, saya meyakini ikan dari perairan Baubau sangat layak untuk dikonsumsi jemaah haji kita di Tanah Suci. Mutunya terjaga, segar, dan ini bisa menjadi alternatif sumber protein yang tidak kalah dengan produk impor,” ujar Menteri Irfan Yusuf di sela peninjauan tempat pelelangan ikan di Kecamatan Wolio.

Potensi Perikanan Baubau yang Terukur

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Baubau per Februari 2026, volume produksi perikanan tangkap di wilayah tersebut mencapai 2.850 ton per bulan, dengan komoditas unggulan berupa tuna, cakalang, dan tenggiri. Angka ini menempatkan Baubau sebagai salah satu pemasok utama hasil laut di kawasan Sulawesi Tenggara, dengan lebih dari 60 persen hasil tangkapan telah memenuhi standar ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat. Standar mutu internasional itu menjadi salah satu pertimbangan utama Kementerian Haji dan Umrah dalam menjajaki potensi pemanfaatan produk perikanan Baubau untuk jemaah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Baubau, La Ode Muhammad Ali, mengatakan pihaknya siap mendukung jika Kementerian Haji menetapkan kuota pengadaan. “Kami sudah terbiasa dengan sertifikasi HACCP dan GMP. Jadi, kalau ada permintaan untuk suplai ke dapur haji di Mekkah atau Madinah, kami tinggal menyesuaikan skema logistiknya,” kata Muhammad Ali.

Rencana Integrasi dalam Skema Katering Haji

Wacana penggunaan produk perikanan dalam negeri untuk jemaah haji sebenarnya telah digulirkan dalam Rapat Koordinasi Teknis Penyelenggaraan Haji di Jakarta pada Januari 2026. Saat itu, Kementerian Haji dan Umrah mendorong agar sebagian bahan pangan yang selama ini dibeli dari pemasok luar Arab Saudi dapat digantikan oleh produk Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat menghemat devisa, memberdayakan ekonomi daerah, dan sekaligus memberikan variasi menu yang lebih akrab bagi jemaah.

Menteri Irfan Yusuf menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan menabrak regulasi otoritas Arab Saudi. “Kita tetap mengikuti ketentuan impor dan standar kesehatan Kerajaan. Produk Baubau ini nanti akan melalui pemeriksaan karantina dan sertifikasi halal yang diakui otoritas Saudi. Prosesnya sedang kita matangkan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta BPOM,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ahmad Zainuddin, dalam kesempatan terpisah menyambut baik rencana ini. “Kalau memang kualitasnya terjamin dan bisa menekan biaya penyelenggaraan, kita dukung penuh. Aspek higienitas dan rantai dingin selama pendistribusian harus dipastikan tidak terputus,” kata Zainuddin kepada Apaberita melalui sambungan telepon.

Respons Pelaku Usaha Perikanan Lokal

Rencana pemerintah ini mendapat sambutan antusias dari kalangan pengusaha perikanan di Baubau. Ketua Asosiasi Pengusaha Tuna Indonesia (ASTUIN) wilayah Sulawesi Tenggara, Budi Hartono, menyatakan bahwa permintaan dari Kementerian Haji akan menjadi stimulus besar bagi industri lokal. Kapasitas produksi yang terpasang saat ini masih menyisakan ruang hingga 40 persen, sehingga peningkatan volume tidak akan menghadapi kendala berarti.

“Selama ini kami banyak mengekspor dalam bentuk loin beku. Kalau nanti permintaannya dalam bentuk siap masak untuk katering, kami bisa menyesuaikan lini pengolahan. Tinggal kepastian kontrak dan volume per musim haji yang perlu disepakati,” ujar Budi Hartono.

Menurut data ASTUIN, harga tuna loin siap ekspor dari Baubau berada di kisaran Rp 75.000 per kilogram. Apabila dibandingkan dengan harga daging sapi impor yang selama ini mendominasi menu jemaah haji, penggunaan ikan justru menawarkan efisiensi biaya sekaligus nilai gizi yang lebih baik. Studi dari Institut Pertanian Bogor pada 2025 menunjukkan bahwa konsumsi ikan secara rutin dapat menurunkan risiko gangguan pencernaan yang kerap dialami jemaah akibat perubahan pola makan selama di Arab Saudi.

Langkah Selanjutnya: Audit Kelaikan dan Uji Coba

Kementerian Haji dan Umrah menetapkan beberapa tahapan sebelum merealisasikan kebijakan ini. Dalam Rapat Pleno lintas kementerian yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kemenhaj pada 10 Maret 2026, disepakati bahwa audit kelaikan akan dilangsungkan pada April mendatang. Tim auditor gabungan akan mengevaluasi infrastruktur pelabuhan, fasilitas pengolahan, dan sistem logistik rantai dingin di Baubau.

Menteri Irfan Yusuf menambahkan, uji coba pengiriman akan dimulai pada musim haji tahun ini dengan skala kecil. “Kami akan kirimkan beberapa kontainer dalam bentuk ikan beku untuk diolah di dapur katering di Madinah. Hasilnya akan kami evaluasi sebagai dasar penetapan kebijakan definitif untuk musim haji 2027,” ungkapnya.

Pemerintah Kota Baubau sendiri, melalui Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse, telah menyatakan kesiapan penuh. Dalam pernyataan tertulisnya, Wali Kota menegaskan bahwa pihaknya akan memastikan kualitas dan keamanan produk tetap terjaga. “Ini kebanggaan bagi Baubau. Kami tidak akan sia-siakan kepercayaan ini. Setiap kilogram ikan yang berangkat ke Arab Saudi harus menjadi duta mutu perikanan Indonesia,” tegasnya.

Dengan total jemaah haji Indonesia yang pada 2026 mencapai 221.000 orang, kebutuhan pangan selama masa tinggal sekitar 40 hari di Arab Saudi sangat besar. Jika rencana ini berhasil, tidak hanya Baubau yang diuntungkan, tetapi juga dapat membuka pintu bagi daerah-daerah penghasil pangan lain di Indonesia untuk terlibat dalam ekosistem penyelenggaraan ibadah haji. Kementerian Haji dan Umrah menargetkan proporsi bahan pangan lokal dalam katering jemaah haji bisa mencapai 30 persen dalam lima tahun ke depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User