Fokus Balapan Basah Sean Gelael dan WRT 32 di Interlagos
Pebalap nasional Sean Gelael bersama tim WRT 32 mengalihkan seluruh fokus pada pengujian strategi balapan dalam kondisi lintasan basah pada sesi latihan bebas yang digelar jelang lomba ketahanan 6 Jam...
Pebalap nasional Sean Gelael bersama tim WRT 32 mengalihkan seluruh fokus pada pengujian strategi balapan dalam kondisi lintasan basah pada sesi latihan bebas yang digelar jelang lomba ketahanan 6 Jam Sao Paulo di Autódromo José Carlos Pace, Interlagos, Brasil. Keputusan ini merupakan langkah antisipatif setelah data meteorologi menunjukkan potensi hujan lebat yang tinggi selama akhir pekan balapan berlangsung.
Dedikasi Penuh pada Simulasi Lintasan Basah
Dalam sesi latihan bebas yang berlangsung pada Kamis (11/7) waktu setempat, seluruh kru tim langsung menerapkan program simulasi khusus menyambut trek basah yang belum pernah diuji secara menyeluruh pada mobil LMGT3 andalan mereka, yakni Oreca 07-Gibson. Total 47 putaran berhasil dituntaskan dalam dua sesi dengan fokus utama pada penilaian performa ban intermediate dan ban hujan penuh, serta adaptasi sistem kontrol traksi pada berbagai level genangan air di sektor kritis sirkuit sepanjang 4,309 km ini.
Sean Gelael yang mendapat jatah mengemudi pada sesi pagi mengungkapkan bahwa tim sengaja memaksimalkan waktu yang tersedia untuk menguji paket seting basah. “Kami sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan. Data dari rolling start dan restar setelah safety car saat hujan akan sangat menentukan hasil balapan. Interlagos punya karakter drainase yang spesifik — air cenderung menggenang di tikungan Mergulho dan daerah start-finish. Itulah kenapa simulasi ini kami lakukan sejak awal,” tegas Sean melalui komunikasi tim.
Interlagos: Tantangan Cuaca Tak Terduga
Sirkuit Interlagos yang terletak di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut dikenal sebagai salah satu trek paling tidak terduga di kalender FIA World Endurance Championship (WEC). Perbedaan suhu yang drastis antara siang dan sore kerap memicu hujan tiba-tiba yang membuat balapan enam jam menjadi ajang uji ketahanan fisik dan mental. Pada edisi-edisi sebelumnya, perubahan cuaca ekstrem terbukti mengacaukan banyak strategi tim papan atas.
Race Engineer WRT 32, Marco Bellini, menambahkan bahwa fokus utama tim adalah menjaga keseimbangan antara pace dan ketahanan ban dalam kondisi basah. “Kami melakukan iterasi seting aerodinamika hingga tiga kali dalam satu sesi. Data menunjukkan downforce tambahan dibutuhkan agar grip stabil saat hujan, tetapi ini mengorbankan top speed. Kami harus mencari kompromi terbaik karena balapan 6 jam bukan soal lap tunggal tercepat, melainkan lap konsisten selama berjam-jam,” jelas Bellini dalam briefing internal.
Strategi Jangka Panjang untuk Ketahanan Ban
Selain menghadapi hujan, fokus lain tim adalah memetakan jendela pergantian ban yang paling optimal. Dalam balapan basah, manajemen ban menjadi kritis karena suhu aspal yang lebih rendah mempengaruhi tekanan ban dan degradasi. WRT 32 menggunakan data historis dari seri WEC musim ini — termasuk hasil di Spa-Francorchamps dan Le Mans — untuk membangun model prediksi konsumsi ban di Interlagos dengan asumsi probabilitas hujan 60–70 persen.
Sean menegaskan bahwa pendekatan tidak hanya bersifat reaktif terhadap hujan, tetapi juga proaktif dalam membangun kepercayaan diri dengan seting mobil yang fleksibel. “Kami menyimulasikan transisi dari kering ke basah dan sebaliknya. Termasuk latihan masuk pit untuk mengganti ban secepat mungkin sambil menghindari kesalahan yang bisa berakibat penalti. Semua elemen kecil ini akan berdampak besar pada hasil akhir di kelas LMGT3 yang sangat kompetitif,” pungkas pebalap kelahiran Jakarta tersebut.
Putaran Interlagos merupakan seri kelima dalam kalender WEC 2026 yang digelar pada 13 Juli. Tim WRT 32 saat ini menempati peringkat keenam klasemen sementara dengan tekad menembus posisi tiga besar pada balapan ini. Dengan persiapan matang menghadapi balapan basah, mereka berharap mampu memanfaatkan situasi sebagai keunggulan strategis.
Baca juga:
Comments (0)