Standar Kualitas Tinggi Dongkrak Permintaan Deodoran Tawas Lokal

JAKARTA – Permintaan terhadap deodoran berbahan tawas produksi dalam negeri mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang kuartal pertama 2025. Pelaku industri menegaskan bahwa lonjakan ini tidak terlep...

Jul 12, 2026 - 14:02
0 0

JAKARTA – Permintaan terhadap deodoran berbahan tawas produksi dalam negeri mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang kuartal pertama 2025. Pelaku industri menegaskan bahwa lonjakan ini tidak terlepas dari konsistensi produsen dalam menjaga mutu melalui sistem produksi yang terstandardisasi.

PT Callum Alam Indonesia, perusahaan yang memproduksi deodoran tawas merek Callum, menyatakan telah menerapkan prosedur operasional ketat di setiap lini produksi. Upaya tersebut, menurut Direktur Utama PT Callum Alam Indonesia, Hendra Kusuma, dilakukan untuk memastikan produk yang sampai ke konsumen selalu memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.

Sistem Produksi Terstandardisasi

Hendra menjelaskan bahwa seluruh tahapan—mulai dari pemilihan bahan baku kristal tawas, proses penghalusan, pencetakan, hingga pengemasan—dijalankan dengan mengacu pada panduan baku. Pihaknya bahkan menunjuk tim pengawas mutu yang bertugas memeriksa setiap lot produksi sebelum didistribusikan.

“Kami menetapkan tujuh titik inspeksi wajib dalam satu siklus produksi,” ujar Hendra saat ditemui di fasilitas produksi di kawasan industri Cimahi, Jawa Barat, Senin (10/3/2025). “Setiap kali ada deviasi sekecil apa pun, batch itu langsung ditahan untuk evaluasi ulang.”

Bahan baku tawas yang digunakan, menurut Hendra, diperoleh dari tambang lokal di daerah Garut yang telah tersertifikasi oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Kristal tawas tersebut kemudian diproses tanpa campuran bahan kimia tambahan, sehingga produk akhir bersifat hipoalergenik dan ramah lingkungan. Setiap batch produksi juga dilengkapi dengan catatan ketertelusuran (traceability) yang memungkinkan pengecekan asal material hingga tanggal pemrosesan.

Respon Positif Konsumen

Ketatnya pengawasan mutu membuahkan hasil. Data internal perusahaan menunjukkan volume penjualan pada Januari–Maret 2025 naik 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi berasal dari kanal daring, yang mencatat pertumbuhan hingga 68 persen.

Sejumlah konsumen yang diwawancarai mengaku beralih ke deodoran tawas karena lebih aman bagi kulit sensitif dan tidak meninggalkan noda pada pakaian. Rina Andriani (34), warga Jakarta Selatan, menyatakan telah menggunakan produk Callum selama enam bulan dan merasakan manfaat positif. “Saya dulu sering iritasi dari deodoran biasa. Sejak pakai tawas, masalah itu hilang, dan yang terpenting kualitasnya tidak berubah dari pembelian pertama sampai sekarang,” katanya.

Tina Suryani, pemilik toko kosmetik “Cantik Alami” di Pasar Baru, Jakarta Pusat, mengakui produk Callum termasuk yang paling cepat habis di etalasenya. “Setiap pengiriman datang, dalam tiga hari sudah ludes. Pembeli banyak yang kembali karena cocok,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsumen tidak hanya dari kalangan dewasa, tetapi juga remaja yang mulai sadar akan bahan alami.

Komitmen Jangka Panjang

Peningkatan permintaan tidak membuat manajemen Callum lengah. Hendra menegaskan pihaknya tengah menyiapkan ekspansi kapasitas produksi sebesar 30 persen pada pertengahan 2025, tanpa mengorbankan aspek pengawasan mutu. Investasi untuk mesin pengolahan baru dan perekrutan tenaga quality control tambahan sudah dianggarkan sebesar Rp 3,2 miliar.

Selain itu, perusahaan juga sedang mengurus sertifikasi internasional ISO 22716 tentang pedoman produksi kosmetik yang baik. Langkah ini ditempuh untuk membuka peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara. “Standar kami tidak akan turun hanya karena permintaan naik. Justru ini tantangan untuk membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing di pasar global,” tegas Hendra.

Dukungan Regulasi dan Tren Pasar

Pengamat industri kosmetik dari Lembaga Penelitian Ekonomi Kreatif, Diah Anggraini, menilai fenomena deodoran tawas lokal merupakan bagian dari pergeseran preferensi konsumen ke produk berbasis bahan alam. Menurutnya, regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang semakin mendorong label aman dan transparansi komposisi turut menjadi katalis. “Data kami mencatat, penjualan deodoran alami di Indonesia tumbuh rata-rata 22 persen per tahun dalam tiga tahun terakhir. Pemain lokal punya keunggulan dari sisi harga dan pemahaman selera pasar domestik,” ujar Diah.

Callum sendiri telah mengantongi izin edar dari BPOM dengan nomor NA18220200027 dan mencantumkan logo “BPOM Aman” di setiap kemasannya. Keterbukaan informasi tersebut dinilai menambah kepercayaan konsumen. Selain itu, produk ini telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Kosmetik Alami Indonesia (AKAI) yang mensyaratkan uji dermatologis secara berkala.

Menjawab Tantangan Distribusi

Meski permintaan terus meroket, Callum masih menghadapi kendala dalam memperluas jangkauan ke luar Pulau Jawa. Biaya logistik yang tinggi dan belum meratanya gudang penyimpanan menjadi hambatan utama. Untuk mengatasinya, perusahaan menjalin kerja sama dengan mitra distributor regional di Medan, Makassar, dan Balikpapan. “Kami optimistis pada paruh kedua 2025 produk sudah tersedia di seluruh ibu kota provinsi,” pungkas Hendra.

Selain itu, pemanfaatan platform e-commerce dan kerja sama dengan jaringan apotek modern ikut mendorong penetrasi pasar. Perusahaan melaporkan bahwa bulan Februari 2025, Callum berhasil masuk ke lebih dari 200 gerai ritel modern di Jabodetabek dan Jawa Barat. Dengan fondasi sistem produksi yang terukur dan pengawasan mutu yang disiplin, deodoran tawas lokal Callum menjadi bukti bahwa produk dalam negeri mampu menempatkan kualitas sebagai keunggulan kompetitif utama. Konsistensi ini diyakini akan menjaga kepercayaan konsumen dan membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User