Dokumenter Netflix Kupas Tragedi Costa Concordia Secara Mendalam

Platform streaming Netflix merilis dokumenter terbaru berjudul Shipwrecked: Nightmare at Sea yang menyajikan rekonstruksi menyeluruh atas tragedi kapal pesiar Costa Concordia. Produksi ini menghadirka...

Jul 12, 2026 - 13:23
0 0

Platform streaming Netflix merilis dokumenter terbaru berjudul Shipwrecked: Nightmare at Sea yang menyajikan rekonstruksi menyeluruh atas tragedi kapal pesiar Costa Concordia. Produksi ini menghadirkan kesaksian para penyintas, rekaman arsip yang belum pernah dipublikasikan, serta analisis teknis dari pakar keselamatan maritim internasional.

Kronologi Malam Nahas di Perairan Giglio

Pada malam 13 Januari 2012, Costa Concordia—kapal pesiar berbendera Italia dengan panjang 290 meter dan bobot 114.500 ton—berlayar membawa 4.229 orang terdiri dari 3.206 penumpang dan 1.023 awak. Kapal yang dioperasikan oleh Costa Crociere tersebut tengah menempuh rute tujuh hari melintasi Laut Mediterania, berangkat dari Civitavecchia menuju Savona.

Sekitar pukul 21.45 waktu setempat, kapal mendekati Pulau Giglio di lepas pantai Tuscany dengan jarak yang terlalu dekat dari garis pantai. Manuver tersebut dilakukan atas perintah Kapten Francesco Schettino, yang belakangan terungkap bermaksud melakukan apa yang disebut sebagai “inchino”—sebuah bentuk penghormatan dengan mendekatkan kapal ke pulau untuk menyapa mantan rekannya sesama perwira yang bermukim di sana.

Pada pukul 21.42, lambung kiri kapal menghantam formasi batuan Le Scole. Benturan tersebut merobek lambung sepanjang 53 meter, mengakibatkan air laut masuk dengan cepat ke ruang mesin dan kompartemen kedap air. Dalam hitungan menit, sistem propulsi dan kelistrikan utama mengalami kegagalan total.

Detik-Detik Evakuasi yang Kacau

Dokumenter ini secara gamblang memperlihatkan kekacauan prosedur evakuasi yang terjadi setelah tubrukan. Meskipun situasi darurat sudah sangat jelas, perintah “abandon ship” secara resmi baru dikeluarkan lebih dari satu jam setelah benturan. Banyak penumpang yang telah mengenakan jaket pelampung secara mandiri tanpa arahan dari kru.

Sejumlah penyintas dalam film dokumenter tersebut menceritakan detik-detik mencekam saat kapal mulai miring hingga sudut 70 derajat. Salah satu saksi menyatakan bahwa situasi di dek kapal menyerupai “adegan film bencana, namun ini nyata dan tidak ada yang tahu harus berbuat apa.”

Sebanyak 32 orang dinyatakan tewas dalam insiden ini. Dua korban terakhir, Russell Rebello seorang pramusaji asal India dan Maria Grazia Trecarichi penumpang asal Sisilia, baru berhasil dievakuasi dari dalam bangkai kapal beberapa bulan kemudian. Operasi pencarian dan evakuasi melibatkan lebih dari 800 personel gabungan dari angkatan laut, penjaga pantai, dan tim penyelam profesional Italia.

Pengadilan dan Putusan Hukum

Kapten Francesco Schettino menjadi figur sentral dalam proses hukum yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ia meninggalkan kapal sebelum seluruh penumpang dievakuasi—sebuah tindakan yang melanggar tradisi maritim bahwa nakhoda adalah orang terakhir yang meninggalkan kapal. Dalam rekaman komunikasi yang diputar di pengadilan, Komandan Penjaga Pantai Gregorio De Falco terdengar meneriakkan perintah tegas melalui radio:

“Vada a bordo, cazzo!”
yang berarti “Naik kembali ke kapal!” dalam bahasa Italia.

Pada 11 Februari 2015, Pengadilan Grosseto menjatuhkan vonis 16 tahun penjara kepada Schettino setelah terbukti bersalah atas dakwaan pembunuhan berlapis, menyebabkan bencana maritim, dan meninggalkan penumpang. Mahkamah Agung Italia mengukuhkan putusan tersebut pada 12 Mei 2017. Schettino kini menjalani masa hukuman di Penjara Rebibbia, Roma.

Selain Schettino, lima pejabat Costa Crociere lainnya juga menghadapi tuntutan hukum. Roberto Ferrarini, manajer krisis perusahaan, dijatuhi hukuman dua tahun sepuluh bulan. Perusahaan Costa Crociere sendiri dikenai denda sebesar satu juta euro atas tanggung jawab administratif dalam insiden ini.

Operasi Salvage Termahal dalam Sejarah

Dokumenter ini juga menyoroti kompleksitas operasi pemindahan bangkai kapal yang menelan biaya lebih dari 1,2 miliar dolar AS. Proyek salvage yang dipimpin oleh insinyur Nick Sloane dan perusahaan Titan Salvage bersama Micoperi ini menggunakan teknik “parbuckling” untuk memutar lambung kapal ke posisi tegak.

Pada 17 September 2013, setelah persiapan selama 18 bulan, operasi rotasi berhasil dilaksanakan dalam waktu 19 jam. Kapal kemudian ditahan oleh platform bawah air buatan yang dibangun khusus di lokasi, sebelum akhirnya diangkat dan ditarik ke Pelabuhan Genoa pada Juli 2014 untuk proses pembongkaran.

Pekerjaan pembongkaran yang rampung pada 2017 berhasil mendaur ulang lebih dari 50.000 ton baja dan material lainnya. Seluruh proses ini tercatat sebagai operasi salvage maritim paling rumit dan paling mahal yang pernah dilakukan dalam sejarah pelayaran sipil.

Melalui durasi 90 menit, Shipwrecked: Nightmare at Sea menyajikan perspektif baru yang menekankan pada kegagalan sistemik, budaya keselamatan yang lemah, dan konsekuensi dari keputusan individu dalam tragedi maritim berskala besar. Dokumenter ini menjadi pengingat betapa mahalnya harga yang harus dibayar dari kelalaian prosedur dan arogansi manusia di lautan lepas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User