Panen Lele 35 Kg di Lapas Tanjung Buktikan Keberhasilan Pembinaan Napi

Tanjung, Kalimantan Selatan — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjung mencatatkan pencapaian signifikan dalam program pembinaan kemandirian narapidana melalui sektor perikanan. Panen ikan l...

Jul 23, 2026 - 19:14
0 0
Panen Lele 35 Kg di Lapas Tanjung Buktikan Keberhasilan Pembinaan Napi

Tanjung, Kalimantan Selatan — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjung mencatatkan pencapaian signifikan dalam program pembinaan kemandirian narapidana melalui sektor perikanan. Panen ikan lele sebanyak 35 kilogram yang dilaksanakan pada Selasa (22/7) menjadi bukti nyata keberhasilan penerapan model pelatihan berbasis tanggung jawab dan kerja sama tim di lingkungan pemasyarakatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi nasional ketahanan pangan yang diintegrasikan dengan sistem pemasyarakatan guna mencetak warga binaan yang produktif dan siap kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIB Tanjung, melalui keterangan resmi yang diterima di ruang kerjanya, menegaskan bahwa panen kali ini bukan sekadar angka produksi, melainkan representasi dari transformasi mental dan keterampilan para narapidana yang terlibat langsung dalam seluruh siklus budi daya. "Mereka tidak hanya belajar memberi makan dan memanen, tetapi juga memahami arti konsistensi, ketelitian, dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Inilah esensi pembinaan yang sesungguhnya," ujarnya. Sebanyak 15 orang warga binaan terlibat aktif dalam program ini, mulai dari tahap persiapan kolam, pembibitan, pemeliharaan harian, hingga proses panen dan penanganan pascapanen.

Integrasi Program Ketahanan Pangan Nasional

Program budi daya ikan lele di Lapas Kelas IIB Tanjung merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong seluruh unit pelaksana teknis untuk mengoptimalkan lahan dan sumber daya manusia yang tersedia guna mendukung ketahanan pangan nasional. Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, kolam budi daya yang digunakan berjumlah empat unit dengan kapasitas masing-masing mampu menampung hingga 1.000 ekor bibit lele. Sistem bioflok diterapkan untuk menjaga kualitas air sekaligus menekan biaya operasional pakan melalui pemanfaatan mikroorganisme alami yang tumbuh di dalam kolam.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Tanjung menyatakan bahwa pemilihan komoditas lele didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomis yang matang. "Lele memiliki daya tahan tinggi, siklus panen relatif singkat sekitar tiga hingga empat bulan, serta permintaan pasar yang stabil. Ini memberi kepastian bagi warga binaan bahwa kerja keras mereka membuahkan hasil yang dapat diukur dan dirasakan langsung," jelasnya. Hasil panen 35 kilogram tersebut, menurut keterangan petugas, sebagian dialokasikan untuk konsumsi internal lapas guna memenuhi kebutuhan gizi warga binaan, sementara sisanya dipasarkan kepada masyarakat sekitar dan kantor-kantor pemerintah daerah yang telah menjalin kerja sama pengadaan.

Pendekatan Pembinaan Berbasis Nilai

Lebih dari sekadar aktivitas produksi, program ini dirancang sebagai sarana internalisasi nilai-nilai fundamental yang dibutuhkan narapidana saat kembali ke lingkungan sosialnya. Setiap warga binaan yang berpartisipasi diwajibkan mengikuti jadwal piket yang ketat, mencatat perkembangan ikan secara harian dalam buku log, serta melaporkan setiap kendala teknis kepada pembimbing kemandirian. Mekanisme ini sengaja dibangun untuk menanamkan kebiasaan disiplin dan akuntabilitas personal. Pelanggaran terhadap jadwal atau kelalaian dalam perawatan dikenai sanksi berupa pengurangan jatah panen dan penugasan tambahan, sementara mereka yang menunjukkan kinerja unggul mendapatkan apresiasi dalam bentuk sertifikat keterampilan dan prioritas dalam program integrasi selanjutnya.

Seorang warga binaan yang telah mengikuti program selama enam bulan mengungkapkan pengalamannya secara langsung. "Dulu saya tidak pernah berpikir untuk bangun pagi dan merawat sesuatu dengan teratur. Sekarang saya merasa punya tujuan setiap hari. Ikan-ikan ini seperti tanggung jawab yang harus saya jaga," tuturnya sembari menunjukkan kolam yang dikelolanya. Pernyataan serupa disampaikan oleh peserta lainnya yang menekankan bahwa kerja sama tim menjadi kunci keberhasilan seluruh siklus produksi. Pembagian tugas yang jelas—mulai dari pemberian pakan, pembersihan kolam, hingga pemantauan kualitas air—mengharuskan setiap individu berkoordinasi secara intensif dengan rekannya. Kegagalan satu orang berdampak langsung pada kinerja kelompok, sehingga tercipta mekanisme kontrol sosial internal yang efektif di antara para warga binaan.

Dukungan Lintas Sektor dan Rencana Ekspansi

Keberhasilan panen lele di Lapas Kelas IIB Tanjung turut didukung oleh Dinas Perikanan Kabupaten Tabalong yang memberikan pendampingan teknis secara berkala. Penyuluh perikanan dijadwalkan hadir setiap dua pekan untuk memantau perkembangan budi daya, memberikan pelatihan penanganan penyakit ikan, serta memperkenalkan teknik pemberian pakan alternatif berbahan baku lokal guna menekan biaya produksi. Dukungan juga mengalir dari Balai Latihan Kerja setempat yang menyediakan modul pelatihan kewirausahaan bagi warga binaan agar mampu mengembangkan usaha perikanan secara mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.

Menindaklanjuti capaian positif ini, pihak Lapas Tanjung telah menyusun rencana ekspansi yang mencakup penambahan empat unit kolam baru dan diversifikasi komoditas ke budi daya ikan nila serta sayuran hidroponik. Rapat Koordinasi yang digelar pada pekan lalu antara Kepala Lapas, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, dan perwakilan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menghasilkan keputusan untuk mengalokasikan anggaran tambahan sebesar Rp 75 juta pada tahun anggaran mendatang. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur kolam permanen, pengadaan bibit unggul bersertifikat, serta pemasangan sistem resirkulasi air otomatis yang diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga tiga kali lipat dari angka saat ini.

Kalapas Kelas IIB Tanjung menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa target akhir dari seluruh program kemandirian bukanlah keuntungan ekonomi semata. "Ukuran keberhasilan kami adalah ketika warga binaan keluar dari sini dengan keterampilan yang dapat diandalkan, mental yang lebih kuat, dan kepercayaan diri untuk tidak kembali ke jalur yang salah. Setiap kilogram lele yang dipanen adalah langkah menuju tujuan itu," tegasnya. Data internal lapas menunjukkan bahwa tingkat residivisme di antara alumni program kemandirian berada pada angka yang jauh lebih rendah dibandingkan warga binaan yang tidak mengikuti pelatihan keterampilan, memperkuat argumen bahwa pendekatan berbasis kerja dan tanggung jawab memberikan dampak signifikan terhadap keberhasilan reintegrasi sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User