Budi Daya Lele Tingkatkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Narapidana Lapas Tanjung
Tanjung, Apaberita – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjung, Kalimantan Selatan, mencatatkan capaian penting dalam program pembinaan kemandirian warga binaan melalui panen ikan lele sistem...
Tanjung, Apaberita – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjung, Kalimantan Selatan, mencatatkan capaian penting dalam program pembinaan kemandirian warga binaan melalui panen ikan lele sistem bioflok yang mencapai 35 kilogram pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bukti nyata efektivitas integrasi program ketahanan pangan ke dalam sistem pemasyarakatan yang tidak hanya menyediakan suplai protein, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab dan kerja sama kolektif bagi para narapidana.
Penerapan Teknologi Bioflok dan Keterlibatan Langsung Warga Binaan
Sebanyak dua kolam bundar berdiameter 3 meter menjadi pusat aktivitas budi daya di area lahan sarana asimilasi dan edukasi (SAE) Lapas Tanjung. Sistem bioflok dipilih karena tingkat efisiensinya dalam mengelola limbah nitrogen dan memelihara kualitas air, sehingga memungkinkan padat tebar tinggi dan masa pemeliharaan yang relatif singkat. Setiap tahapan, mulai dari persiapan media air, penebaran benih ukuran 5-7 sentimeter, pengelolaan pakan fermentasi, hingga pemantauan kualitas air harian, dilaksanakan langsung oleh warga binaan yang telah mengikuti pelatihan teknis perikanan.
Koordinator program, Kepala Subseksi Pembinaan, Andi Mulyadi, S.Pi., menyatakan bahwa keterlibatan penuh warga binaan dalam siklus produksi merupakan strategi utama untuk memutus ketergantungan terhadap penyuluh. "Kami mendesain modul pembinaan ini bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan tanggung jawab satu siklus penuh. Mereka harus mencatat pertumbuhan, mengelola pemberian pakan, hingga mengatasi masalah seperti fluktuasi pH air. Ini membangun pola pikir disiplin yang akan berguna saat mereka kembali ke masyarakat," ujarnya melalui keterangan tertulis.
Hasil Panen dan Dampak terhadap Ketahanan Pangan Internal
Dari panen perdana tahun 2026 ini, tercatat bobot total 35 kilogram lele konsumsi ukuran 8-10 ekor per kilogram. Hasil tangkapan tersebut langsung didistribusikan ke dapur Lapas untuk meningkatkan menu gizi warga binaan, sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 40 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Makanan. Kepala Lapas Kelas IIB Tanjung, Hendra Prasetya, S.H., M.H., menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari arahan nasional untuk memangkas ketergantungan pasokan pangan dari luar.
"Ketahanan pangan adalah komponen vital dalam menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lapas. Dengan produksi mandiri lele ini, kami mampu menekan biaya pengadaan bahan makanan dan mengalihkan sebagian anggaran untuk program pembinaan kepribadian lainnya. Ini adalah langkah konkret menuju lapas yang berdaulat secara pangan," tegas Hendra.
Data Subbagian Umum Lapas Tanjung menunjukkan bahwa sebelum program ini berjalan, kebutuhan lauk hewani sepenuhnya dipenuhi melalui pihak ketiga dengan rata-rata biaya pengadaan mencapai Rp4,2 juta per bulan. Dengan adanya panen rutin, Lapas memproyeksikan efisiensi anggaran hingga 30 persen pada triwulan ketiga tahun 2026.
Transformasi Perilaku dan Penanaman Nilai Kolaborasi
Lebih dari sekadar hasil produksi, panen lele ini menjadi indikator keberhasilan pembinaan kepribadian. Seorang warga binaan yang terlibat dalam program, sebut saja AR (34), mengakui bahwa kegiatan budi daya ini mengubah perspektifnya tentang kerja keras. "Saya belajar bahwa keberhasilan tidak instan. Merawat lele dari kecil sampai panen mengajarkan kesabaran. Kami juga harus kompak, karena kalau satu orang malas membersihkan kolam, yang lain ikut rugi. Kerja sama itu nyata," ungkap AR.
Psikolog pemasyarakatan yang mendampingi program, dr. Ratna Dewi, M.Psi., menjelaskan bahwa aktivitas perawatan makhluk hidup memiliki efek terapeutik signifikan bagi narapidana. "Merawat ikan menumbuhkan rasa memiliki dan empati. Ditambah dengan sistem kerja kelompok yang saling bergantung, ini mengurangi kecenderungan individualisme negatif dan membangun kelekatan sosial yang sehat. Kami mencatat penurunan angka pelanggaran tata tertib hingga 40 persen pada kelompok warga binaan yang aktif dalam program ini sepanjang semester pertama 2026," paparnya.
Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik, Fachri Ramadhan, A.Md.I.P., S.H., menambahkan bahwa keberhasilan panen ini akan menjadi pijakan untuk memperluas skala produksi. Pihaknya tengah merancang integrasi program perikanan dengan budi daya sayuran hidroponik untuk menciptakan ekosistem pertanian terpadu di dalam lapas. "Kami sudah menyiapkan lahan tambahan seluas 200 meter persegi. Target kami, pada akhir tahun, Lapas Tanjung tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri tetapi juga mampu menyuplai kelebihan produksi ke lapas-lapas sekitar melalui skema kerja sama antarsatuan kerja," jelas Fachri dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Program Kemandirian yang digelar Selasa (21/7/2026).
Program ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Ketahanan Pangan di Lingkungan Pemasyarakatan serta Rencana Strategis Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan 2025-2029 yang menitikberatkan pada reintegrasi sosial melalui pelatihan vokasi. Dengan data konkret panen 35 kilogram dan dampak pembinaan yang terukur, Lapas Tanjung membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan mampu bertransformasi menjadi pusat produksi dan edukasi yang menghasilkan warga binaan produktif serta siap berkontribusi kembali kepada masyarakat.
Comments (0)