Nara, Jepang — Toko Obat Herbal Berusia 8 Abad Gelar Workshop Bumbu Kare
Di kawasan Naramachi, Nara, Prefektur Nara, Jepang, deretan rumah kayu tradisional berusia ratusan tahun berdiri dalam senyap. Kawasan yang lestari sebagai
Di kawasan Naramachi, Nara, Prefektur Nara, Jepang, deretan rumah kayu tradisional berusia ratusan tahun berdiri dalam senyap. Kawasan yang lestari sebagai distrik kota tua ini menyimpan sebuah ironi yang menawan: di antara aroma dupa dan jamu kering, sebuah toko obat herbal yang telah hidup melewati delapan abad sejarah kini menggelar lokakarya meracik bumbu kare. Toko itu bernama Kikuoka. Pada 19 September 2024, Liputan6.com berkesempatan menyaksikan langsung sebuah workshop yang menjembatani pengobatan tradisional Jepang dan lidah modern dunia.
Kikuoka, Delapan Abad Meramu Kesehatan
Toko obat herbal Kikuoka bukan sekadar tempat membeli jamu. Ia adalah lembaga hidup yang telah beroperasi sejak periode Kamakura (1185–1333). Berdiri sebelum Columbus mendarat di Amerika, sebelum mesin cetak Gutenberg berputar, Kikuoka mewarisi pengetahuan farmakope Sino-Jepang melalui 24 generasi. Rak-rak kayu hinoki di dalamnya menyimpan lebih dari 300 jenis herba kering, mineral, dan bagian hewan yang dikeringkan, semuanya ditata menurut prinsip pengobatan Kampo. Namun kini, ruang belakang toko tidak lagi hanya dipakai untuk menyusun formula herbal, melainkan juga untuk menghidupkan bumbu kare buatan tangan.
Dari Mortar Batu ke Panci Kari
Di dalam ruang yang beraroma kayu berusia tua itu, para peserta workshop—wisatawan domestik Jepang dan mancanegara—diajak memulai prosesi peracikan. Mereka tidak menerima bubuk kari instan. Masing-masing mendapat mortar batu granit dan pilihan herba utuh: kunyit, jintan, ketumbar, fenugreek, kapulaga, dan lada hitam. Instruktur dari keluarga Kikuoka memandu alur penggilingan sambil menjelaskan efek farmakologis tiap bahan. "Kunyit bukan hanya pewarna," katanya. "Di Tiongkok dan Jepang, ini obat untuk melancarkan aliran qi."
"Workshop ini memadukan ilmu pengobatan tradisional Jepang dengan teknik kuliner Asia Selatan yang telah berasimilasi di Jepang. Setiap biji yang kami haluskan punya fungsi ganda: sebagai penambah cita rasa dan sebagai agen terapeutik."
Proses penggilingan manual tersebut menempuh durasi sekitar 45 menit. Sensasi menggerus rempah di atas batu dingin, seraya menghirup minyak esensial yang perlahan merekah, menjadi pengalaman sensorik yang intens. Beberapa rempah sengaja disangrai ringan lebih dulu untuk membangkitkan aroma hangat, teknik yang dalam bahasa Jepang disebut iru.
Kare di Jepang, Warisan Adaptasi
Meskipun kare identik dengan India, Jepang telah menjadikannya bagian dari identitas kuliner nasional sejak era Meiji (1868–1912). Masuknya bumbu ini melalui rute Angkatan Laut Kekaisaran, yang mengadopsi menu kari dari armada Britania. Kikuoka menangkap benang merah historis ini: dulu, para biksu dan tabib Jepang juga mengimpor farmakope dari Tiongkok dan Korea. Kini, toko obat itu memulangkan kare pada akarnya yang rempah-utuh, jauh sebelum pabrik-pabrik di Jepang mengemas roux kari seragam.
Satu peserta workshop, seorang wisatawan dari Indonesia, mengaku terkesan karena menemukan kemiripan dengan jamu tradisional. "Saya pikir kare Jepang itu semuanya instan blok cokelat. Ternyata nenek moyang kare adalah rempah segar yang ditumbuk dengan filosofi obat," ujarnya.
Di akhir lokakarya, setiap peserta membawa pulang 30 gram campuran bumbu kare racikan sendiri, disegel dalam tabung kaca bertuliskan nama mereka dalam kaligrafi kanji. Kikuoka menyediakan resep dasar kari Jepang sebagai panduan, namun para peramu bebas bereksperimen.
Menghidupkan Warisan di Era Modern
Inisiatif workshop ini lahir dari generasi ke-24 Kikuoka yang sadar bahwa apotek tradisional Jepang menghadapi penurunan pelanggan. Per 2022, Kementerian Kesehatan Jepang mencatat kurang dari 25% populasi berusia 20–40 tahun yang rutin menggunakan obat herbal Kampo. Workshop bumbu kare menjadi jembatan komunikasi baru: mendekatkan manfaat jamu kepada publik dalam format yang lebih akrab dan praktis. Pemandu bahkan menyelipkan teknik diagnostik lidah ala Kampo sebelum sesi mencicipi, mengidentifikasi "tipe dingin" atau "tipe panas" pada tiap peserta untuk menyarankan rempah tambahan.
Lokakarya ini juga berfungsi sebagai mesin waktu. Di lantai dua toko yang berfungsi sebagai museum kecil, peserta dapat melihat buku catatan resep dari abad ke-17, lesung batu peninggalan leluhur, dan gulungan resep kaligrafi. Semua itu menjadi saksi bahwa Kikuoka telah lama memadukan herba untuk kesehatan—kini ditambahkan unsur kenikmatan kuliner.
Comments (0)