Taste Atlas: Pempek Masuk Daftar Makanan Tapioka Terbaik Dunia 2026

Rilis terbaru dari platform panduan kuliner global Taste Atlas pada awal 2026 langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta makanan. Dalam dafta

Jul 08, 2026 - 16:09
0 0
Taste Atlas: Pempek Masuk Daftar Makanan Tapioka Terbaik Dunia 2026

Rilis terbaru dari platform panduan kuliner global Taste Atlas pada awal 2026 langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta makanan. Dalam daftar "Best Tapioca-Based Dishes in the World 2026", Indonesia berhasil menempatkan empat hidangan khasnya, menegaskan posisi Nusantara sebagai kiblat olahan tepung tapioka yang tak tertandingi. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah pempek, sajian ikan dan sagu asal Palembang yang sudah lama menjadi primadona di meja makan masyarakat Indonesia.

Pempek, Ikon Palembang yang Mendunia

Pempek bukan sekadar makanan—ia adalah warisan kuliner yang telah melewati perjalanan panjang sejak diperkenalkan oleh pedagang Tionghoa di masa Kesultanan Palembang. Terbuat dari daging ikan tenggiri atau gabus yang dihaluskan dan dicampur tepung tapioka (sagu), adonan ini dibentuk menjadi berbagai varian: lenjer, kapal selam, adaan, atau keriting, lalu direbus atau digoreng. Cita rasanya yang gurih berpadu sempurna dengan cuko, saus khas berwarna hitam pekat yang terbuat dari gula aren, asam jawa, cabai, dan bawang putih. Menurut panelis Taste Atlas, "Pempek menawarkan pengalaman tekstur yang kompleks: kenyal di luar, lembut di dalam, dengan ledakan rasa manis-pedas yang saling melengkapi."

"Pempek bukan hanya sekadar hidangan, tetapi ekspresi budaya Palembang yang telah beradaptasi dengan selera global tanpa kehilangan jati dirinya." – Ulasan pengguna Taste Atlas asal Italia, Luca Moretti.

Empat Makanan Indonesia Kuasai Daftar

Selain pempek, tiga makanan lain yang mengukir prestasi adalah cireng (aci digoreng), cilok (aci dicolok), dan siomay ikan tenggiri. Keempatnya menempati posisi dalam 20 besar dari total 50 hidangan yang dinilai oleh lebih dari 15.000 panelis di seluruh dunia. Tak seperti pempek yang berbahan dasar ikan, cireng dan cilok adalah camilan rakyat berbahan tepung tapioka murni yang biasa dijajakan oleh pedagang keliling. Namun, justru kesederhanaan itulah yang dianggap menjadi kekuatan mereka: cireng dengan tekstur renyah di luar dan kenyal di dalam, serta cilok yang kenyal kencur dengan bumbu kacang atau kecap pedas. Sementara siomay, meskipun akarnya berasal dari kuliner Tionghoa, mendapat sentuhan lokal dengan penggunaan tepung tapioka sebagai pengikat adonan, menghasilkan tekstur yang lebih kenyal dibandingkan versi aslinya.

Menurut data Taste Atlas, penilaian didasarkan pada tiga parameter: cita rasa autentik, tingkat popularitas di media sosial, dan konsistensi dalam resep tradisional. "Kami tidak sekadar menilai rasa, tetapi juga bagaimana suatu hidangan merepresentasikan identitas kulinernya," ujar Dr. Elena Vasquez, direktur penilaian Taste Atlas, dalam siaran pers virtual (15/1/2026). Indonesia menjadi negara dengan representasi terbesar kedua dalam kategori ini, hanya terpaut satu hidangan dari Brasil yang juga memiliki tradisi olahan tapioka, seperti pão de queijo dan tapioca crepe.

Reaksi Publik dan Pelaku Usaha

Pengakuan ini disambut antusias oleh para pelaku UMKM. Fatimah (42), pemilik usaha Pempek 123 di Pasar 16 Ilir, Palembang, mengaku kaget bukan main. "Saya tidak pernah membayangkan pempek buatan saya bisa diakui dunia. Tiap hari kami hanya berpikir bagaimana menyajikan yang terbaik untuk pelanggan," katanya dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, di Jakarta, penjual cilok di kawasan Blok M, Andi, mengatakan bahwa setelah berita ini viral, permintaan naik hingga 40%. "Banyak anak muda yang tadinya malu jajan cilok, sekarang malah bangga," ujarnya.

Pemerintah Kota Palembang sendiri tengah menggodok program "Pempek Goes Global" yang akan memfasilitasi sertifikasi halal internasional dan pelatihan pengemasan ekspor bagi 100 UMKM pempek. "Ini momentum untuk membawa kuliner kita ke panggung dunia, bukan sekadar viral sesaat," kata Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan.

Masa Depan di Tangan Generasi Muda

Meski dielu-elukan, para pemerhati kuliner mengingatkan agar popularitas ini tidak menggerus keaslian. Inovasi seperti pempek mozzarella atau cilok lava memang menarik minat anak muda, namun resep tradisional harus tetap dijaga. Dengan semakin maraknya konten kuliner di TikTok dan YouTube, generasi Z justru menjadi ujung tombak dalam mempromosikan hidangan lokal ke tingkat global. "Mereka bisa menjadi duta yang memperkenalkan pempek dan kawan-kawannya lebih luas lagi," tutup Dr. Elena.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User