Megawati Resmikan Monumen Kudatuli Bersama Prananda

Jakarta — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, J...

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli Bersama Prananda

Jakarta — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (27/7/2026). Prosesi peresmian digelar tepat pada peringatan ke-30 tahun tragedi penyerangan kantor partai berlambang banteng moncong putih itu yang dikenal luas sebagai peristiwa Kudatuli.

Dalam momen khidmat tersebut, Megawati didampingi oleh putranya yang juga menjabat Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPP PDIP, Prananda Prabowo. Turut hadir jajaran pengurus harian partai, para saksi sejarah, perwakilan keluarga korban, serta ratusan kader dari berbagai daerah yang memadati lokasi sejak pagi hari. Kehadiran mereka menegaskan bahwa ingatan kolektif terhadap peristiwa kelam 27 Juli 1996 itu tidak akan pernah luntur dari sanubari keluarga besar PDIP.

Monumen Pengingat Pengorbanan

Monumen yang berdiri di sisi timur halaman utama kantor DPP ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 50 meter persegi. Di titik tengahnya, sebuah prasasti marmer hitam mencantumkan lima nama korban tewas—Drs. Soehardi, F.X. Soetrisno, Kol. (Purn) Mangapul Silaban, Ignatius Yoyok, dan Abdul Muis—serta puluhan korban luka. Duplikat bambu runcing yang menjadi simbol perlawanan rakyat kecil juga ditata secara artistik sebagai elemen utama, menggambarkan semangat juang yang tak pernah padam.

Saat memberikan sambutan, Megawati menekankan bahwa monumen tersebut bukan sekadar tugu peringatan, melainkan manifestasi keteguhan ideologis partai.

“Monumen ini adalah saksi bisu bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini ditebus dengan air mata, darah, dan nyawa. Jangan ada satu pun kader yang melupakan sejarah kelam ini. Pengorbanan para pendahulu wajib menjadi pelita bagi perjuangan kita ke depan,”

tegas Megawati di hadapan peserta upacara.

Napak Tilas Tragedi 1996

Peristiwa Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996, ketika kantor DPP PDI—cikal bakal PDIP—di Jalan Diponegoro diserbu oleh massa yang didukung aparat keamanan. Serangan brutal itu menewaskan sedikitnya lima orang, melukai 149 lainnya, dan menimbulkan trauma mendalam bagi pendulum politik nasional. Tindakan represif tersebut justru memantik gelombang perlawanan yang kelak menjadi salah satu pemicu gerakan reformasi 1998.

Dalam kesempatan itu, Megawati kembali mengenang detik-detik mencekam tiga dasawarsa silam. Ia menuturkan bagaimana para kader dan simpatisan mempertaruhkan nyawa mempertahankan markas partai dari gempuran massa yang ingin memaksakan kongres luar biasa.

“Saat itu kita tidak punya apa-apa selain keberanian dan keyakinan bahwa kebenaran akan menang. Mereka yang gugur adalah pahlawan demokrasi sejati. Maka, berdirinya monumen ini adalah jawaban kita terhadap upaya penghapusan sejarah,”

ujarnya dengan suara bergetar.

Prananda dan Komitmen Generasi Muda

Prananda Prabowo, yang sejak awal mendampingi sang ibu, menyampaikan bahwa peresmian Monumen Kudatuli juga menjadi momentum regenerasi nilai perjuangan. Menurutnya, kader muda PDIP harus mampu menerjemahkan semangat Kudatuli ke dalam konteks kekinian tanpa kehilangan roh perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan.

“Kami yang lahir setelah reformasi mungkin tak mengalami langsung kekejaman itu. Tetapi melalui monumen ini, kami diingatkan bahwa demokrasi bukan hadiah cuma-cuma. Generasi muda harus menjadi benteng agar sejarah kelam tidak terulang,”

kata Prananda yang juga menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR RI.

Ia menambahkan, partai akan mengintegrasikan kunjungan ke Monumen Kudatuli ke dalam program kaderisasi wajib bagi seluruh anggota baru PDIP. Langkah itu ditempuh agar setiap kader memahami akar sejarah partai yang lahir dari rahim perlawanan terhadap otoritarianisme.

Diresmikan dengan Prosesi Adat dan Doa Bersama

Peresmian monumen ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Megawati, diikuti tabur bunga oleh keluarga korban dan sesepuh partai. Sebelumnya, digelar ritual adat Jawa berupa tumpengan dan kenduri sebagai wujud syukur atas selesainya pembangunan monumen sekaligus penghormatan kepada arwah para pahlawan partai. Doa lintas agama juga dipanjatkan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama yang hadir.

Di akhir prosesi, Megawati mengajak seluruh peserta upacara untuk mengheningkan cipta selama 30 detik, persis pada pukul 10.30 WIB, waktu yang diyakini sebagai puncak serangan 30 tahun silam. Suasana hening mencekam, hanya diiringi isak tangis keluarga korban yang tak kuasa menahan haru.

Dengan diresmikannya Monumen Kudatuli, DPP PDIP menegaskan komitmennya untuk terus merawat ingatan kolektif tentang salah satu episode paling kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia. Monumen itu kini menjadi pengingat abadi bahwa kebebasan dan kedaulatan rakyat tidak pernah bisa direnggut oleh kekuatan represif mana pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User