Jejak Permukiman di Dasar Bendungan Karian Muncul Akibat Kemarau

Sisa-sisa permukiman yang biasanya terendam di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menampakkan diri akibat menyusutnya debit air selama puncak musim kemarau pada Juli 2026. Fond...

Jejak Permukiman di Dasar Bendungan Karian Muncul Akibat Kemarau

Sisa-sisa permukiman yang biasanya terendam di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menampakkan diri akibat menyusutnya debit air selama puncak musim kemarau pada Juli 2026. Fondasi rumah, jalan desa, sumur-sumur tua, hingga tanggul-tanggul kecil yang menjadi bagian dari kampung yang ditenggelamkan untuk proyek bendungan pada 2014 silam kini terlihat jelas di permukaan yang mengering. Menurut data Stasiun Pengelolaan Sumber Daya Air setempat, elevasi muka air bendungan hingga 24 Juli 2026 tercatat turun 24,3 meter dari ambang normal, atau menyisakan sekitar 57 persen volume tampungan efektif.

Kemarau Panjang Pemicu Surut Drastis

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian, Ir. Hendra Kusuma, dalam keterangan tertulis pada Kamis (24/7) menyatakan bahwa fenomena susut bendungan sebetulnya merupakan siklus tahunan, namun tahun ini dampaknya jauh lebih terasa. "Musim kering tahun ini lebih panjang dari prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Curah hujan di wilayah hulu Sungai Ciujung sejak April praktis nihil, sementara kebutuhan air baku untuk irigasi dan PDAM tetap tinggi, sehingga volume tampungan tergerus cukup dalam," jelasnya.

Berdasarkan catatan operasional, debit air keluar dari Bendungan Karian yang normalnya berkisar 95–105 meter kubik per detik dipangkas bertahap menjadi hanya 38 meter kubik per detik pada minggu ketiga Juli. Langkah itu diambil untuk menjaga agar suplai ke jaringan irigasi seluas 21.000 hektare dan ke instalasi pengolahan air milik PDAM tetap terlayani, namun dengan konsekuensi muka air waduk terus merosot. Titik-titik yang sebelumnya menjadi area wisata air seperti dermaga apung kini terdampar di tanah berlumpur, sementara perahu-perahu nelayan terpaksa berhenti beroperasi.

Kenangan Kembali Menyergap

Bagi Mamat Raharja (71), warga Kampung Pasirtalang yang direlokasi ke Desa Sukamarga pada akhir 2013, kemunculan kembali sisa kampung lamanya selalu membekaskan getir. "Di sanalah rumah panggung kami berdiri. Bisa lihat tiang-tiang betonnya masih tertancap, di sebelahnya ada bekas masjid, agak ke selatan bekas balai desa. Setiap kemarau, rasanya seperti diajak bertemu hantu masa lalu," ucapnya saat ditemui di tepian bendungan, Kamis (24/7). Rencana proyek yang kala itu dinilai mendesak untuk memenuhi kebutuhan air baku Jabodetabek dan listrik dari PLTA memaksa lebih dari 350 kepala keluarga di tiga dusun—Pasirtalang, Cikande, dan Cipicung—meninggalkan tanah leluhur mereka.

Situs sejarah kecil juga ikut mencuat. Sebuah makam keramat yang semula dikelilingi air kini bisa dijamah warga. Ustaz Jaelani, tokoh masyarakat setempat yang ikut mengawasi relokasi makam pada 2014, mengatakan, "Ini bukan sekadar benda mati. Ada nilai spiritual yang terus dijaga warga, makanya setiap kali makam itu muncul, pasti ada yang datang membersihkan dan mendoakan." Pemerintah desa dan panitia pembangunan bendungan dahulu memang memindahkan sebagian besar makam ke tempat baru, tetapi beberapa tapak fondasi dan cungkup yang tidak mungkin diangkut tetap ditinggalkan di dasar waduk.

Dampak Ekonomi dan Imbauan Otoritas

Surutnya bendungan tidak hanya menguak kenangan, tetapi juga membawa dilema ekonomi. Nelayan darat yang biasanya mengandalkan tangkapan ikan air tawar harus gigit jari karena area tangkap menyempit drastis. Sementara itu, segelintir pemuda lokal justru memanfaatkan momen ini untuk mengumpulkan batu bata, kayu jati sisa rumah, atau besi-besi tua yang masih bisa dijual. Camat Rangkasbitung, Ade Suherman, menegaskan bahwa aktivitas tersebut dilarang keras. "Mengambil material dari dasar waduk bisa merusak stabilitas dasar dan membahayakan keselamatan, apalagi tanah di sana masih bergerak, retakan bisa muncul kapan saja," ujarnya dalam apel siaga di kantor kecamatan, Kamis sore.

Kepala Bidang Pengelolaan SDA Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Lebak juga mengingatkan bahwa penurunan muka air secara ekstrem dapat memicu terbentuknya lubang-lubang amblas di zona pasang surut buatan. Oleh karena itu, posko pengawasan didirikan di tiga titik akses menuju tepi waduk, lengkap dengan rambu larangan dan regu patroli gabungan TNI-Polri.

Antisipasi Musim Hujan

Menindaklanjuti kondisi ini, Hendra Kusuma memastikan bahwa operasi bendungan masih dalam batas aman dan tidak mengancam ketersediaan air hingga akhir September, saat musim hujan diperkirakan tiba. "Kami terus berkoordinasi dengan BMKG dan PLN untuk menyeimbangkan porsi air baku, irigasi, dan pembangkit listrik. Jika debit terus turun hingga batas minimum teknis 50 persen, kami akan memberlakukan pengaturan khusus, termasuk pembatasan pengambilan air untuk irigasi selama malam hari," jelasnya.

Menyusutnya genangan juga memungkinkan tim teknis melakukan inspeksi langsung terhadap dasar bendungan—sesuatu yang sulit dilakukan saat air normal. Pemantauan visual saat ini sedang dimanfaatkan untuk mendata retakan-retakan kecil di pondasi dan memeriksa kondisi struktur beton yang menjadi penopang utama. Hasil pemeriksaan itu akan menjadi dasar perencanaan pemeliharaan berkala tahun 2027.

Sementara itu, warga yang dulu menghuni kampung-kampung itu berharap agar cerita mereka tidak musnah ditelan waktu. "Bukan ingin kembali, tapi anak-cucu perlu tahu bahwa di sini pernah ada kehidupan, bukan cuma air dan beton," kata Mamat, menatap dasar bendungan yang kini lebih mirip padang pasir berlumpur. Kemunculan yang selalu berulang setiap kali kemarau tiba ini seolah menjadi pengingat abadi tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah kemajuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User