Gilang Bonatua Harahap: Tiga Kali Seleksi Akpol, Pantang Menyerah
Medan, 28 Juli 2026 — Seorang pemuda asal Sumatera Utara bernama Gilang Bonatua Harahap kembali hadir di ruang pendaftaran seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun 2026 yang digelar ole...
Medan, 28 Juli 2026 — Seorang pemuda asal Sumatera Utara bernama Gilang Bonatua Harahap kembali hadir di ruang pendaftaran seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun 2026 yang digelar oleh Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Di usianya yang baru 19 tahun, Gilang telah mencatatkan sejarah pribadi sebagai peserta yang mengikuti proses rekrutmen ini untuk ketiga kalinya. Kegagalan yang dialami pada dua seleksi sebelumnya tidak menyurutkan langkahnya; sebaliknya, ia datang dengan persiapan yang lebih matang dan semangat yang justru semakin membara.
Dalam sesi wawancara seusai penyerahan berkas, Gilang tampak tenang namun penuh keyakinan. Ia menyampaikan bahwa dua kegagalan terdahulu bukanlah alasan untuk berhenti. "Setiap kali gagal, saya merasa tertampar. Tapi tamparan itu membuat saya sadar bahwa masih ada yang harus saya perbaiki. Saya tidak akan berhenti sampai benar-benar dinyatakan lolos," ujarnya dengan intonasi yang mantap. Gilang menambahkan, ia telah mengevaluasi kelemahannya secara mendetail, mulai dari aspek psikotes, tes kesehatan, hingga performa fisik yang menjadi salah satu titik kritis pada seleksi sebelumnya.
Rangkaian Kegagalan sebagai Guru Terbaik
Mengulangi proses seleksi Akpol bukan keputusan yang mudah. Setiap tahun, ribuan putra-putri terbaik bangsa bersaing memperebutkan kursi yang sangat terbatas. Gilang menyadari itu sejak pendaftaran pertamanya pada 2024, ketika ia harus terhenti di tahap psikotes lanjutan. Kala itu, ia mengaku masih kurang memahami dinamika soal-soal yang mengukur konsistensi sikap, kemampuan penalaran, dan kestabilan emosi. Kegagalan kedua pada 2025 kembali terjadi meskipun ia mampu melangkah lebih jauh hingga tahap pemeriksaan kesehatan, sebelum akhirnya dinyatakan tidak memenuhi standar medis akibat catatan kecil pada salah satu organ tubuhnya.
Alih-alih frustrasi, Gilang menjadikan dua episode itu sebagai laboratorium belajar. Ia merancang program perbaikan yang terstruktur. Untuk psikotes, ia meluangkan waktu dua jam setiap hari mengerjakan latihan soal dan mengikuti simulasi wawancara bersama mentor dari kalangan purnawirawan Polri yang ia temui di lingkungan tempat tinggalnya. Untuk fisik, ia bergabung dengan klub atletik lokal di Medan dan menjalani latihan intensif yang meliputi lari jarak jauh, renang, serta penguatan otot inti. Pola makan dan istirahatnya pun diatur dengan disiplin tinggi. "Saya sadar, masuk Akpol bukan sekadar soal kemauan, tapi soal kesiapan lahir batin yang harus dibuktikan dengan data dan performa," paparnya.
Dukungan Orang Tua dan Lingkungan Sosial
Tidak dapat dipungkiri, perjalanan tiga kali mendaftar Akpol memerlukan dukungan mental dan material yang besar. Gilang bersyukur memiliki orang tua yang tidak pernah melemahkan mimpinya. Ayahnya, Bonatua Harahap, seorang wiraswasta di bidang perdagangan hasil bumi, dan ibunya, Nurhayati Siregar, justru menjadi penyemangat utama setiap kali Gilang pulang dengan berita tidak lolos. "Waktu anak saya gagal yang kedua, saya lihat matanya berkaca-kaca. Tapi saya bilang ke dia: 'Kalau ini memang jalanmu, Tuhan pasti bukakan. Bapak dan Ibu hanya bisa doa dan dukung, kamu yang perjuangkan.' Dan benar, keesokan harinya dia sudah kembali berlatih," tutur Bonatua saat ditemui di kediamannya di kawasan Medan Amplas, Minggu malam (27/7).
Dukungan serupa juga datang dari lingkungan sosial Gilang. Teman-teman sekolah dan rekan satu tim latihannya kerap mengirimkan pesan penyemangat. Beberapa di antaranya bahkan secara sukarela membantu Gilang berlatih teknik renang dan push-up secara rutin setiap sore. Hal ini membentuk ekosistem positif yang membuat Gilang merasa tidak sendirian mengarungi proses panjang rekrutmen anggota Polri tersebut.
Tantangan dan Harapan Seleksi 2026
Seleksi calon taruna Akpol tahun 2026 di Polda Sumut diketahui kembali mencatatkan jumlah pendaftar yang membeludak. Berdasarkan data yang dirilis Bagian Penerimaan Personel (Baperpers) Polda Sumut per 25 Juli 2026, lebih dari 3.800 pendaftar telah memvalidasi berkas secara daring, bersaing untuk kuota terbatas yang tahun lalu hanya berkisar 18–20 orang yang diberangkatkan ke tingkat pusat. Dengan persaingan tersebut, setiap kelemahan sekecil apa pun bisa menjadi faktor penentu. Gilang menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi dan kemampuannya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pada pendaftaran ketiganya ini, ia mengaku lebih siap secara mental dan teknis. Ia telah mengantongi hasil medical check-up mandiri yang menunjukkan semua parameter berada dalam batas normal, ia juga telah menyelesaikan puluhan sesi latihan psikotes dengan skor rerata yang terus meningkat. "Saya serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan dan penilaian panitia. Tetapi untuk usaha, saya sudah lakukan yang terbaik. Tidak ada yang saya sesali," ucapnya sambil tersenyum.
Pantang Menyerah sebagai Nilai Polri
Sikap pantang menyerah yang ditunjukkan Gilang selaras dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan di lingkungan Polri, khususnya di jajaran Korps Bhayangkara: ketangguhan, integritas, dan semangat juang. Kadiv Humas Polri dalam berbagai kesempatan kerap menekankan bahwa proses seleksi yang ketat tidak hanya menyaring kemampuan akademik dan fisik, tetapi juga karakter. Konsistensi Gilang yang memilih bangkit setelah jatuh menjadi gambaran dari karakter yang menurut para pengamat justru akan sangat dibutuhkan dalam pembentukan perwira polisi masa depan.
Saat ini, Gilang tengah menunggu jadwal ujian tulis dan rangkaian tes lainnya yang akan dimulai pekan depan. Apapun hasilnya nanti, kisah pemuda 19 tahun ini sudah menjadi cermin bahwa kegigihan dan evaluasi diri adalah kendaraan terkuat menuju cita-cita. Ia berpesan kepada anak muda yang mungkin merasakan hal serupa: "Jangan takut gagal. Selama kita masih bernapas, selama itu pula kita masih punya kesempatan untuk mencoba lagi. Gagal itu bukan lawan, tapi partner untuk menjadi lebih baik."
Comments (0)