Gunung Karangetang Erupsi, Lava Pijar Mengalir Sejauh 1 Kilometer
Gunung Karangetang yang berlokasi di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali mengalami erupsi signifikan pada Minggu malam (12/7). Berdasarkan laporan ...
Gunung Karangetang yang berlokasi di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali mengalami erupsi signifikan pada Minggu malam (12/7). Berdasarkan laporan resmi, letusan terjadi pukul 19.14 WITA dari Kawah Utara dan langsung memuntahkan material pijar serta menghasilkan aliran lava yang menjangkau jarak hingga 1.000 meter dari pusat erupsi.
Kronologi Erupsi dan Sebaran Lava
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Lana Saria, menegaskan bahwa erupsi diawali oleh letusan bertipe strombolian dengan tinggi kolom material vulkanik mencapai 100 meter di atas kawah. Dentuman terdengar bersamaan dengan lontaran material pijar, dan segera disusul oleh fase efusif yang mengeluarkan lava segar. “Erupsi efusif ini langsung membentuk aliran lava yang memanjang ke beberapa arah,” ujar Lana Saria dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Data dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Karangetang mencatat bahwa aliran lava bergerak ke utara sejauh kurang lebih 1 kilometer, sementara ke arah barat daya mengalir sekitar 400 meter dan ke selatan sejauh 1 kilometer. Guguran lava pijar tersebut tertangkap oleh kamera pemantau di stasiun Bebali, yang menyasar lembah-lembah Kali Batuawang dan Kali Kahetang, memperkuat bukti visual adanya pergerakan material vulkanik yang cukup masif.
Peningkatan Aktivitas Pascapenurunan Panjang
Sebelum kejadian ini, Gunung Karangetang sebenarnya telah melalui periode penurunan aktivitas setelah erupsi efusif besar yang berlangsung dari Oktober 2025 hingga April 2026. Selama periode tersebut, aliran lava sempat terhenti total, meskipun suara gemuruh dari dalam kawah masih sesekali terdengar. Namun, grafik kegempaan dan visual gunung berubah drastis ketika memasuki bulan Juli 2026.
Pada rentang 1–11 Juli 2026, tinggi kolom asap kawah teramati mencapai 700 meter di atas puncak. Instrumen seismik yang terpasang di sekitar gunung merekam peningkatan tajam aktivitas di bawah permukaan. Setidaknya puluhan gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, gempa guguran, gempa hembusan, tremor harmonik, tremor nonharmonik, serta ratusan gempa tektonik jauh berhasil tercatat. Data ini menjadi indikator naiknya suplai magma dan tekanan fluida yang akhirnya memicu erupsi malam ini.
Status Tetap Waspada dan Zona Bahaya
Meskipun terjadi erupsi dengan aliran lava yang cukup panjang, Badan Geologi memutuskan untuk mempertahankan status aktivitas Gunung Karangetang pada Level II (Waspada). Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa parameter pemantauan belum menunjukkan eskalasi menuju level yang lebih tinggi. Namun demikian, potensi bahaya tetap harus diantisipasi, terutama dari guguran lava pijar, aliran lava, hingga kemungkinan terbentuknya awan panas yang bisa mengalir melalui lembah-lembah yang berhulu di Kawah Utara maupun Kawah Selatan.
Radius zona berbahaya ditetapkan sejauh 1,5 kilometer dari Kawah Utara dan Kawah Selatan. Seluruh aktivitas warga di dalam area tersebut dilarang keras. Badan Geologi juga secara spesifik meminta masyarakat untuk tidak memasuki sektor-sektor lembah sungai yang berpotensi menjadi jalur luncuran material vulkanik, khususnya sektor utara, selatan, dan barat daya. “Kami mengimbau warga untuk selalu memantau informasi resmi dari pos pengamatan dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab,” tegas Lana Saria.
Peringatan dini juga disampaikan terkait potensi bahaya sekunder. Material vulkanik yang telah menumpuk di lereng dapat dengan mudah berubah menjadi lahar dingin saat hujan deras turun. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro menyatakan siaga penuh dan siap mengkoordinasikan langkah-langkah kedaruratan jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan ancaman. Sementara itu, jaringan pemantau PVMBG terus bekerja secara real-time melalui seismograf dan kamera pengawas untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas Gunung Karangetang yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)