Fenomena Second Account di Instagram, Cermin Kebutuhan Ruang Aman Generasi Muda
Di tengah pusaran media sosial yang kian terhubung, muncul fenomena yang mencerminkan perubahan cara generasi muda mengekspresikan diri. Sejumlah besar pengguna Instagram, terutama dari kalangan Gener...
Di tengah pusaran media sosial yang kian terhubung, muncul fenomena yang mencerminkan perubahan cara generasi muda mengekspresikan diri. Sejumlah besar pengguna Instagram, terutama dari kalangan Generasi Z, kini secara sadar membangun dua identitas digital: akun utama yang dipoles rapi dan akun kedua yang tampil lebih lepas. Bukan sekadar mengikuti tren, praktik ini merepresentasikan pencarian terhadap ruang aman yang bebas dari tekanan penilaian publik.
Fenomena ini bukan sekadar soal jumlah pengikut atau tingkat privasi. Seorang pengguna berusia 21 tahun yang akrab disapa Dinda, mahasiswi sebuah universitas negeri, mengaku bahwa akun keduanya menjadi pelarian dari ekspektasi yang selama ini membelenggu. "Di akun utama, saya merasa harus menampilkan versi terbaik dari diri sendiri. Foto harus sempurna, caption harus berkesan, dan semua harus sesuai standar yang entah siapa yang menetapkan. Di second account, saya bisa mengunggah foto langit mendung tanpa alasan puitis, atau sekadar curhat tentang dosen killer," tuturnya saat diwawancarai pada Senin (12/5/2025).
Pernyataan Dinda menegaskan bahwa akun kedua bukanlah upaya menciptakan kehidupan ganda—melainkan perwujudan kerinduan akan otentisitas yang kerap terhambat oleh budaya penilaian instan di platform digital. Hal senada disampaikan oleh Adit, pekerja kreatif berusia 24 tahun. Ia memiliki akun utama dengan lebih dari 3.000 pengikut yang diisi portofolio dan konten profesional, sementara akun keduanya berisi lelucon spontan, potongan lagu favorit, dan keluh kesah tentang kemacetan ibu kota. "Saya tidak ingin klien atau kolega melihat sisi saya yang lebih apa adanya. Bukan karena malu, tapi karena ada batas yang perlu dijaga. Akun kedua memberikan kendali penuh terhadap siapa yang boleh melihat kerapuhan saya," katanya.
Bukan Sekadar Akun Cadangan
Jika sebelumnya akun kedua dipersepsikan sebagai tempat menyimpan konten yang kurang layak atau sebagai 'gudang' arsip digital, kini fungsinya bergeser signifikan. Bagi banyak orang muda, akun ini telah menjelma menjadi ruang personal yang lebih jujur. Tidak ada target estetika, tidak ada tekanan untuk tampil sempurna, dan yang terpenting—tidak ada keharusan untuk menjelaskan diri kepada khalayak luas.
Data hasil survei kecil-kecilan yang dilakukan oleh komunitas mahasiswa komunikasi salah satu kampus swasta di Jakarta pada April 2025 lalu menunjukkan bahwa 67 persen dari 150 responden memiliki akun Instagram kedua. Dari jumlah tersebut, 82 persen mengaku lebih sering mengunggah konten di akun kedua dibandingkan akun utama. Temuan ini mempertegas bahwa pergeseran tidak hanya terjadi pada cara berkonten, melainkan pada relasi antara pengguna dan citra dirinya di ruang digital.
Rasa Aman dari Penilaian Publik
Dorongan utama di balik tren ini adalah terciptanya rasa aman. Budaya pengawasan sosial di media sosial—di mana setiap unggahan berpotensi dihakimi melalui likes, komentar, atau bahkan direct message yang tidak diinginkan—memaksa pengguna untuk terus memfilter diri. Di sinilah akun kedua memainkan peran krusial: ia menawarkan lingkungan dengan audiens yang lebih terbatas dan terkurasi, seringkali hanya terdiri dari teman dekat atau bahkan tidak diungkapkan kepada siapa pun.
"Saya sebenarnya tidak takut bercerita, tetapi takut tidak dipahami," ungkap Santi, seorang penggiat literasi digital yang juga mengelola akun kedua khusus berisi jurnal emosi harian. "Di akun utama, saat saya bercerita tentang kesedihan, selalu ada yang berkomentar bahwa saya kurang bersyukur. Di akun kedua, saya bisa menulis tanpa harus mengantisipasi tafsir-tafsir yang menyakitkan. Itu memberi ruang bagi saya untuk benar-benar menjadi manusia."
Psikolog klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Dr. Anindya Putri, M.Psi., menanggapi fenomena ini sebagai respons alamiah terhadap tekanan sosial yang kian tinggi. "Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dan dipahami. Ketika lingkungan digital justru memunculkan kecemasan akan penolakan, individu akan mencari cara adaptif untuk tetap bisa mengekspresikan diri. Akun kedua dapat dipandang sebagai strategi pengelolaan kesehatan mental di era digital," jelasnya.
Pergeseran Perilaku Digital
Perilaku ini juga memunculkan perdebatan: apakah akun kedua menjadi alat untuk menjadi diri sendiri, atau justru menciptakan topeng baru? Bagi banyak pelaku, jawabannya adalah yang pertama. Mereka menegaskan bahwa akun kedua justru menampilkan sisi yang lebih autentik, bukan versi yang lebih palsu. Perbedaannya terletak pada audiens dan ekspektasi, bukan pada kebenaran konten.
"Saya merasa lebih jujur di akun kedua. Di akun utama, saya justru memakai topeng kesempurnaan yang melelahkan," kata Dinda menambahkan. Ia tidak sendirian. Banyak pengguna lain yang mengungkapkan bahwa akun kedua membantu mereka melepaskan beban psikologis yang muncul akibat konstruksi identitas di media sosial.
Transformasi ini tidak terlepas dari peran algoritma dan desain platform yang mendorong kompetisi popularitas. Akun utama sering kali terjebak dalam logika pasar perhatian, di mana jumlah engagement menjadi tolok ukur keberhargaan konten. Sebaliknya, akun kedua yang biasanya diatur privat (private) membebaskan pengguna dari logika tersebut, mengembalikan fungsi media sosial sebagai alat komunikasi yang intim.
Implikasi Terhadap Kesehatan Mental dan Relasi Sosial
Fenomena ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, akun kedua dapat menjadi katarsis yang sehat dan mengurangi stres. Di sisi lain, pemisahan identitas yang terlalu ekstrem berpotensi menimbulkan kelelahan tersendiri dalam mengelola dua dunia digital. Namun, bagi mayoritas pengguna, manfaat psikologis yang dirasakan jauh lebih besar dibandingkan risikonya.
Dr. Anindya menambahkan bahwa selama akun kedua tidak digunakan untuk manipulasi atau penyebaran konten negatif, praktik ini justru menunjukkan kecerdasan digital yang adaptif. "Ini adalah cara generasi muda bernegosiasi dengan tuntutan sosial yang berlapis. Mereka menemukan celah untuk tetap terhubung tanpa kehilangan keutuhan diri."
Di tengah hiruk pikuk era digital yang semakin menuntut transparansi, kehadiran second account menjadi ironi sekaligus jawaban. Ia bukan sekadar akun pelarian, melainkan pernyataan diam bahwa setiap manusia membutuhkan sudut yang tidak tersorot lampu panggung—tempat di mana ketidaksempurnaan tidak harus menjadi tontonan.
Baca juga:
Comments (0)